Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang bersama Pertamina melakukan inspeksi terhadap penggunaan elpiji (LPG) subsidi di kalangan pelaku usaha, Rabu (22/4/2026).
Hal itu dilakukan untuk memastikan LPG 3 Kg tidak digunakan pelaku usaha restoran beromzet tinggi, sebab hal itu bisa memicu terjadinya kelangkaan.
Dalam sidak tersebut, petugas menemukan 15 tabung LPG 3 kilogram atau LPG melon di Warung Mak Rumpit yang berlokasi di kawasan Lumajang Kota. Tabung subsidi itu digunakan untuk operasional usaha
Kemudian, pelaku usaha kuliner ayam geprek dan beras kencur dipaksa mengganti LPG melon itu dengan tabung LPG nonsubsidi berwarna pink yang telah dibawa agen binaan Pertamina.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Lumajang Muhammad Ridha mengungkapan hal ini menindak lanjuti hasil inspeksi mendadak (sidak) pada 17 April 2026 lalu di beberapa hotel dan restoran.
Baca juga: Harga LPG Nonsubsidi Naik Tinggi, Warga Jember Mulai Beralih ke Tabung 3 Kg
"Kami menemukan beberapa pelaku usaha ini mengunakan LPG 3 kilogram. Sehingga hari ini kami memfasilitasi sekaligus bersama Pertamina melakukan traed in ini," ujarnya.
Menurutnya, belasan tabung LPG subsidi harus diganti dengan LPG ukuran 5,5 kilogram dan Rp 12,5 kilogram, selain pengusaha tersebut harus bayar pergantian tabung tersebut.
"Jika dua tabung 3 Kilogram kosong, maka diganti dengan tabung kosong ukuran 5,5 kilogram. Para pelaku usaha cukup bayar Rp 110 ribu ," ucap Ridha.
Namun jika mereka ingin ganti paksa dengan tabung ukuran 12 kilogram. Kata Ridha, pelaku usaha tersebut cukup menukar dengan tiga LPG 3 Kg.
"Dan membayar revil sebesar Rp 340 ribu. Jika menukar 4 tabung subsidi, mereka bayar revil Rp 190 ribu," ulasnya.
Jika setelah ini pelaku usaha tetap mengunakan tabung warna hijau. Ridha pastikan mereka akan ditindak lebih tegas lagi.
"Ini sesuai arahan bupati. Disini kami temukan 15 tabung, jadi mereka harus ganti dengan lima tabung non subsidi," ucapnya.
Warung ini kabarnya dalam sehari bisa mengabiskan 10 tabung LPG 3 Kg, untuk operasional masakan kulinernya.
Menanggapi hal itu, Manager Warung Mak Rumpit Lumajang Muhammad Hakam Kausa mengaku terpaksa menaikan harga menu makanan, sejak dipaksa gunakan LPG nonsubsidi.
"Mulai 1 Mei nanti, harga jual kami akan naik. Awalnya memang kami campur, adanya tabung bright kami gunakan, adanya tabung hijau ya kami gunakan tabung hijau," tanggapnya.
Dia khawatir pendapatan warung akan menurun jika harga porsi makanan yang dijual di konsumen dinaikan, sebab kulinernya dikenal murah oleh pelanggan.
"Kenapa kami gunakan gas melon, karena harga jual kami murah. Rp 13 ribu dengan satu porsi ayam geprek, dengan besaran dagang ayam satu kilo dipotong jadi delapan," ucap Hakam.