POSBELITUNG.CO -- Mempelajari Primbon Jawa merupakan bagian dari melestarikan budaya leluhur.
Primbon Jawa berisi kumpulan pengetahuan tradisional yang berisi pedoman kehidupan masyarakat Jawa.
Dalam kalender Jawa, tanggal 22 April 2026 merupakan Rabu Wage.
Baca juga: Kalender Mei 2026, Ada 11 Hari Libur Termasuk Akhir Pekan, Download di Sini
Dalam hitungan neptu Jawa, Rabu memiliki nilai 7 dan Wage bernilai 4, sehingga total neptu Rabu Wage adalah 11.
Angka ini mencerminkan keseimbangan antara kecerdasan dan ketelitian.
Tanggal 22 April 2026 tidak hanya menjadi penanda kalender Jawa saja tetapi juga sarat makna karena diperingati sebagai momentum penting baik di tingkat nasional maupun global.
Di Indonesia, 22 April dikenal sebagai Hari Demam Berdarah Nasional. Sementara di tingkat internasional, tanggal yang sama juga diperingati sebagai Hari Bumi atau Earth Day.
Hari Demam Berdarah Nasional diperingati setiap 22 April dan ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Baca juga: Biodata Nus Kei, Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam Keponakan John Kei
Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit demam berdarah dengue (DBD) serta pentingnya upaya pencegahan.
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Nyamuk ini membawa virus setelah menggigit penderita yang telah terinfeksi sebelumnya.
Data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa kasus DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Hingga 28 Oktober 2025, tercatat:
Dalam lima tahun terakhir, kelompok usia produktif (15-44 tahun) menjadi yang paling banyak terdampak.
Selain peringatan nasional, 22 April juga dikenal sebagai Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati secara global.
Hari Bumi pertama kali dicetuskan pada tahun 1970 oleh aktivis lingkungan asal Amerika Serikat, Gaylord Nelson.
Ia terinspirasi oleh dampak kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak besar di Santa Barbara.
Gerakan ini kemudian berkembang menjadi aksi global yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk pelajar, akademisi, dan masyarakat umum.
Gerakan ini juga berkontribusi pada lahirnya berbagai kebijakan lingkungan di Amerika Serikat, seperti pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan serta undang-undang terkait udara bersih, air bersih, dan perlindungan spesies.
Dengan demikian, peringatan 22 April bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat penting bagi semua pihak untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan kelestarian bumi.
(Posbelitung.co/Tribunnews.com/Kompas.com)