Penyesalan kini menghantui Inge Marita (28), seorang ibu muda pengendara mobil Daihatsu Ayla yang viral memaki pemotor perempuan hingga menoyor kepala anak SD di Jalan Empunala, Kota Mojokerto, Jawa Timur.
Akibat emosi sesaat, polisi menetapkan Inge sebagai tersangka, bisa dijerat dengan beberapa pasal serta ancaman hukuman di bawah 5 tahun penjara.
"Hari ini penyidik melakukan gelar perkara. Terlapor (Inge) ditetapkan sebagai tersangka," kata Kasi Humas Polres Mojokerto Kota Ipda Jinarwan dilansir detikJatim, Rabu (22/4/2026).
Inge dijerat dengan Pasal 80 Ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 448 Ayat (1) dan atau Pasal 433 Ayat (1) dan atau Pasal 471 Ayat (1) KUHP.
Pentingnya Regulasi Emosi
Dalam proses mediasi, Inge mengaku dirinya saat itu tersulut emosi. Semua tindakan yang ia lakukan disebut spontan.
"Iya saya khilaf, spontan karena tersulut emosi. Posisi saya sama anak di dalam mobil. Jadi, saya juga mengkhawatirkan anak saya itu takut kenapa-napa di dalam mobil," jelas Inge, dikutip dari detikJatim.
Kepada awak media, Inge memastikan emosinya meledak bukan karena pernah mengalami trauma sebelumnya. "(Apakah ada trauma sebelumnya?) Tidak ada," kata dia.
Berkaca dari kasus ini, regulasi emosi memang penting. Dikutip dari Medical News Today, ketika seseorang merasakan emosi yang kuat seperti kemarahan dan frustrasi, mereka akan mengalami respons fisik dan mental.
Tubuh akan meningkatkan produksi hormon stres, yang menyebabkan detak jantung, tekanan darah, suhu, hingga laju pernapasan. Orang mungkin akan mudah tersinggung, hingga meledak-ledak.
Jika seseorang kurang memiliki keterampilan pengaturan diri emosional, mereka dapat mengekspresikannya dengan cara:
- Bereaksi berlebihan terhadap situasi
- Sering mengalami ledakan emosi dan bereaksi dengan cepat
- Mengalami emosi negatif
- Mengalami perubahan suasana hati





