Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah berdiskusi untuk merelokasi pengungsi Afganistan ke Kongo. Mereka saat ini tinggal di bekas pangkalan militer AS di Qatar. Rencana ini disampaikan oleh AfghanEvac, kelompok yang membantu para sekutu lama AS, pada Selasa (21/04).
Sebelumnya, warga Afganistan tersebut dipindahkan ke Qatar karena pernah membantu militer AS. Saat itu, pasukan internasional pimpinan AS menarik diri dari Afganistan pada 2021. Kini, sekitar 1.100 warga Afganistan, termasuk sekitar 400 anak-anak, tinggal di Kamp As Sayliyah di Qatar.
Kelompok tersebut mencakup penerjemah yang bekerja untuk militer AS, komando militer Afganistan, dan anggota keluarga tentara AS. Demikian menurut laporan The New York Times.
Presiden AfghanEvac, Shawn VanDiver mengatakan organisasinya menduga AS berupaya memulangkan para sekutu lama tersebut ke Afganistan yang kini dikuasai Taliban.
AfghanEvac menyebut rencana pengiriman ke Kongo sebagai upaya untuk "menciptakan penolakan”.
"(AS) menawarkan relokasi kepada keluarga-keluarga ini ke Kongo yang sedang aktif berperang. AS sudah memprediksi bahwa mereka akan menolak. Lalu, penolakan itu akan digunakan sebagai alasan untuk memulangkan mereka ke Afganistan,” demikian pernyataan organisasi tersebut.
"Sekutu yang telah membantu dalam masa perang tidak seharusnya dipindahkan secara sembarangan. Ditambah lagi, lebih dari 400 di antaranya adalah anak-anak. Apalagi dipindahkan ke negara yang tengah dilanda krisis,” tambahnya.
Menurut data PBB, Republik Demokratik Kongo memiliki sekitar 6,9 juta pengungsi internal, terutama di wilayah timur. Tempat pertempuran antara militer dan pemberontak M23 yang didukung Rwanda.
Selain itu, lebih dari 517.000 pengungsi dari negara tetangga juga berada di Kongo. Sebagian besar berasal dari Republik Afrika Tengah, Rwanda, Burundi, dan Sudan Selatan.
Departemen Luar Negeri AS tidak mengonfirmasi bahwa Kongo menjadi tujuan relokasi. Namun, mereka menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan "pemindahan secara sukarela” dari Kamp As Sayliyah di Qatar.
"Memindahkan mereka ke kamp negara ketiga merupakan solusi positif. Mereka lebih aman untuk memulai kehidupan baru di luar Afganistan. Keselamatan dan keamanan warga Amerika juga terjaga,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri.
Lebih dari 190.000 warga Afganistan telah bermukim di Amerika Serikat sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Ini terjadi setelah penarikan pasukan internasional pimpinan AS.
Presiden AS Donald Trump berjanji akan membatasi migrasi sejak menjabat pada Januari 2025. Ia juga menghentikan proses pemberian status pengungsi bagi warga Afganistan. Keputusan tersebut dilatarbelakangi insiden penembakan oleh seorang warga Afganistan terhadap dua anggota Garda Nasional di dekat Gedung Putih pada November. Satu diantaranya tewas. Pelaku diketahui pernah bekerja dengan intelijen AS dan mengalami gangguan stres pascatrauma.
Trump juga telah menetapkan tenggat waktu 31 Maret untuk menutup Kamp As Sayliyah di Qatar.
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Yuniman Farid