Kerawanan Jalur Maut Silayur Semarang, Rantai Kecelakaan yang Berulang hingga Upaya Mitigasi 
rival al manaf April 22, 2026 10:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tanjakan dan turunan Silayur di Jalan Prof Dr Hamka, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kembali memerlihatkan sebagai satu di antara titik paling rawan kecelakaan atau blackspot. 

Jalur dengan kontur menurun/menanjak sepanjang sekitar 1,5 hingga dua kilometer itu bukan sekadar penghubung wilayah bawah dan atas kota, tetapi juga menjadi rute distribusi logistik menuju kawasan industri seperti BSB dan sekitarnya.

Kontur yang curam, terutama dari arah gerbang BSB menuju bawah hingga kawasan padat di sekitar RS Permata Medika, berpotensi menyebabkan akumulasi kecepatan yang kerap berujung fatal saat sistem pengereman gagal. 

Di ruas tersebut, kendaraan yang kehilangan kendali berpotensi menghantam permukiman, ruko, hingga pengguna jalan lain.

Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Semarang, AKP Untung Ariyono, mengonfirmasi tingginya risiko di jalur tersebut.

“Kalau dikatakan rawan, ya rawan laka. Kalau bukan angkutan berat yang lewat situ kemungkinan tidak rawan. 

Faktor lainnya kontur jalan, kondisi jalan,” kata dia kepada Tribunjateng.com, Rabu (22/4/2026) petang.

Rangkuman Kecelakaan Sejak 2020 hingga Kini

Kerawanan Silayur bukan fenomena baru, tapi peristiwa yang terus berulang dari tahun ke tahun dengan karakteristik serupa, dengan faktor kendaraan berat, kegagalan teknis, dan dampak luas.

Dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir, catatan kecelakaan menunjukkan tren yang konsisten. 

Pada 24 Maret 2020 lalu, truk bermuatan material terguling dan menutup sebagian jalan. 

Selang beberapa bulan, 10 April 2020, truk kontainer bahkan melintang hingga hampir 12 jam, melumpuhkan arus lalu lintas. 

Insiden serupa kembali terjadi 9 Juli 2020 saat truk molen merusak fasilitas jalan dan membutuhkan evakuasi berat.

Memasuki 25 Februari 2021, kecelakaan beruntun melibatkan truk tronton bermuatan aki menyebabkan seorang pengendara meninggal.

Pada Maret 2021, truk gandeng kembali gagal rem dan menabrak deretan ruko saat hujan.

Tahun 2022 memperlihatkan data yang mirip, meliputi 9 Juni terjadi tabrakan antartruk di turunan, lalu 24 Juni dump truk terjun ke jurang sedalam sekitar 15 meter.

Tragedi yang terbilang parah terjadi 21 November 2024. 

Truk bermuatan aki yang mengalami rem blong menyapu sejumlah kendaraan dan kios di pinggir jalan, menyebabkan dua orang meninggal dan melukai sepuluh lainnya.

Setahun berikutnya, 29 November 2025, truk bermuatan minyak goreng terguling dan menutup badan jalan di depan SMPN 16, memicu antrean panjang kendaraan.

Memasuki 2026, intensitas tidak menurun. Pada 10 April 2026, kecelakaan beruntun melibatkan truk trailer dan beberapa kendaraan lain menyebabkan korban luka. 

Pada Rabu dini hari, insiden kembali terjadic truk bermuatan kayu triplek gagal menanjak, mundur, lalu terguling melintang, menutup hampir seluruh jalur menuju Mijen.

Secara umum, dalam lima tahun terakhir (2021–2026), tercatat sedikitnya delapan hingga 12 kecelakaan besar melibatkan kendaraan berat di jalur tersebut. 

Rata-rata dua hingga tiga kejadian signifikan terjadi setiap tahun, sementara gangguan lalu lintas akibat kendaraan berat, mulai dari mogok, pecah ban, hingga gagal menanjak, juga kerap terjadi.

Insiden Hari Ini: Gagal Nanjak dan Dugaan Overload

Kecelakaan terbaru pada Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 01.30 WIB melibatkan truk bernopol B9262BYY bermuatan kayu triplek.

Truk yang melaju dari arah bawah menuju BSB City itu kehilangan tenaga di tanjakan depan Perumahan Vila Esperanza.

Sopir sempat berupaya mengendalikan situasi dengan mengarahkan kendaraan ke pembatas jalan sebelum akhirnya terguling.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun arus lalu lintas sempat lumpuh akibat muatan yang berserakan. 

Petugas menerapkan sistem contraflow untuk mengurai kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengungkapkan bahwa kecelakaan terjadi saat jam operasional kendaraan berat diperbolehkan. 

Namun, hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan kelebihan muatan.

“Beban kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 27 ton setelah dikonversikan. 

Material triplek juga kemungkinan menyerap air sehingga menambah berat,” jelas dia.

Danang menambahkan, secara teknis kendaraan masih laik jalan, tetapi jenis truk tersebut tidak seharusnya melintas di jalan kelas II seperti Silayur.

Dari berbagai kejadian, pola penyebab kecelakaan relatif mirip atau serupa. 

Kegagalan pengereman di turunan tajam menjadi faktor dominan, disusul beban berlebih saat menanjak yang membuat kendaraan kehilangan tenaga.

Namun persoalan tidak berhenti pada aspek teknis. 

Tata ruang di sekitar jalur yang kini dipenuhi ruko, akses permukiman, dan aktivitas ekonomi memperbesar risiko korban saat kecelakaan terjadi. 

Di sisi lain, kebutuhan distribusi logistik dari dan menuju kawasan industri membuat lalu lintas truk berat sulit dihindari.

Faktor pelanggaran juga masih menjadi sorotan. 

Meski sudah terdapat pembatasan jam operasional, praktik di lapangan menunjukkan aturan belum sepenuhnya dipatuhi.

Upaya Mitigasi

Pihak kepolisian bersama Dinas Perhubungan telah melakukan berbagai langkah mitigasi. 

AKP Untung Ariyono menyebut patroli rutin, penjagaan di titik rawan, hingga pemasangan portal pembatas kendaraan berat terus dilakukan.

“Kami juga melakukan penindakan jika melanggar jam operasional. 

Jam 23.00 sampai 05.00 WIB boleh melintas, di luar itu akan kami tilang,” tegas dia.

Dishub Kota Semarang juga berencana memperketat pengawasan melalui penggunaan timbangan portable untuk mendeteksi muatan berlebih langsung di lapangan, serta optimalisasi sistem portal buka-tutup.

Di level kebijakan, sejumlah rekomendasi juga mengemuka, mulai dari pemeriksaan rutin kendaraan (ramp check), sosialisasi larangan overload, hingga penyediaan jalur penghentian darurat (JPD) dan rute alternatif yang lebih aman. 

Penataan ulang tata ruang kawasan industri dan permukiman juga dinilai krusial untuk jangka panjang.

Suara Warga

Di tengah berbagai upaya tersebut, warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut merasakan perubahan, meski belum sepenuhnya aman.

Restu Dwi, warga Ngaliyan, mengakui kondisi jalur itu kini lebih terkendali dibanding sebelumnya.

“Sebulan terakhir tidak begitu khawatir karena pagi dan siang ada Dishub yang berjaga,” kata Restu.

Namun dia juga menyoroti masih adanya pelanggaran di lapangan.

“Saya berangkat jam 05.45 WIB masih lihat truk menanjak dan belum ada yang berjaga.

Jadi ternyata masih banyak pelanggar,” imbuh dia.

Menurutnya, keberadaan portal saja belum cukup tanpa pengawasan konsisten, terutama di jam-jam rawan dan kondisi cuaca tertentu. (rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.