BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Situasi mencekam saat Nelayan Gedambaan Kotabaru Kalsel hanyut terbawa arus laut
Seorang nelayan di Kabupaten Kotabaru nyaris saja mengalami insiden tenggelam di perairan Pulau Sebuku saat turun melaut, Rabu (22/4/2026).
Kejadian tersebut dialami Baco, warga Desa Gedambaan, Kecamatan Pulaulaut Sigam yang turun melaut menangkap cumi subuh tadi.
Sekitar pukul 06.00 wita, jaring yang ia tarik ternyata menyangkut dan tidak bisa dilepaskan.
Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 1447 H 27 Mei 2026, Pemerintah Tunggu Sidang Isbat
Baca juga: Pengecer Ratusan Liter Bio Solar di Banjarmasin Ditangkap, Pelaku Mengaku Beri Uang Tip Rp 6 Ribu
Di waktu bersamaan, cuaca dengan angin kencang dan gelombang besar tengah berlangsung.
Sedangkan mesin perahunya tengah bermasalah dan sulit dihidupkan.
Kondisi semakin diperparah dengan posisi perahu yang kurang baik, karena sisi perahu berhadapan dengan arah datangnya gelombang.
Perlahan, perahu yang terobang ambing pun terus terisi air dan semakin sulit untuk dikuras.
Diungkao Coa, warga Gedambaan, saat itu nelayan yang turun melaut sendirian itu sempat mengirimkan video ke keluarga di rumah mengenai kondisi perahunya yang sudah hampir separuh terisi air.
"Dari video itu diketahui, dan ternyata berharap minta dijemput," ujar Coa.
Sejumlah warga dari Desa Gedambaan, Desa Teluk Gosong, hingga Pos Sar Kotabaru pun turun ke laut untuk menyisir.
Sekitar pukul 07.00 wita, perahu Baco ditemukan di sekitaran Pulau Manti dengan kondisi hanyut terbawa gelombang.
Kondisinya sendiri baik-baik saja dan langsung ditarik dengan perahu lain ke daratan.
"Alhamdulillah baik-baik saja, dan ini masih bisa beraktivitas seperti biasa. Karena kita kenal nelayan ulung satu ini sudah terbiasa dengan kendala saat melaut," ujar Coa.
Sementara itu, saat dikonfirmasiKepala Pos Sar Kotabaru, Adi Maulana membenarkan kejadian tersebut.
"Kami sudah komunikasi dengan keluarga dan nelayan tersebut. Alhamdulillah baik-baik saja dan telah pulang ke rumah di Gedamabaan, " sahutnya.
Kebiasaan Nelayan dalam Memprediksi Cuaca Ketika Melaut
Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan atau secara aktif melakukan operasi penangkapan ikan di perairan.
Perhitungan yang tepat terkait kondisi iklim dan cuaca lokal sangat penting bagi nelayan karena berkaitan langsung dengan aktivitas melaut dan keselamatan.
Meski dengan kecanggihan teknologi yang telah berkembang, namun masih banyak nelayan tradisional yang memprediksi cuaca dengan faktor alam.
Dalam hal pembacaan iklim dan cuaca lokal, nelayan tradisional memiliki cara-cara tersendiri yang mereka dapatkan dari proses berinteraksi dengan alam sekitar.
Untuk melaut pada malam hari, umumnya nelayan melakukan pembacaan iklim melalui bulan. Namun, bagaimana nelayan mengetahui posisi dan arah di laut ketika pada siang hari?
Pada siang hari, indikator yang digunakan dalam membaca iklim dan cuaca lokal yaitu tanda-tanda alam yang ada di laut, seperti gelombang, arah angin, dan arus air.
Adapun tanda-tanda yang diperhatikan nelayan sebelum turun melaut di antaranya:
Faktor angin musim
Secara umum nelayan menggunakan indikasi pembentukan awan dari arah tertentu untuk memprediksi peluang terjadi angin kencang dari arah-arah tersebut.
Bentuk awan yang tebal berwarna abu-abu dan kehitaman, dan terlihat menggantung di atas laut seperti sebuah garis pada arah tertentu dipercaya nelayan sebagai tanda terjadinya cuaca buruk.
Tanda di daratan seperti daun pohon kelapa yang terkena tiupan angin ke arah tertentu juga diperhitungkan untuk memastikan arah datang angin yang bertiup.
Bila kejadian angin kencang terjadi saat nelayan berada di laut pada malam hari, beberapa tanda seperti bunyi gemuruh gelombang dari arah tertentu, dan gerakan gelombang yang dirasakan di atas perahu menjadi tanda akan terjadinya cuaca buruk.
Ada nelayan yang menggunakan jarinya yang diberi air liur terlebih dahulu untuk mendeteksi arah datang angin.
Faktor awan
Bagi para nelayan, keberadaan awan di langit juga dapat dijadikan pedoman atau petunjuk ketika akan melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut.
Nelayan tradisional menggunakan awan sebagai tanda untuk memprediksi cuaca di laut. Arah dan kecepatan pergerakan awan diamati nelayan untuk memprediksi arah datang dan kecepatan angin yang akan terjadi.
Nelayan juga dapat membedakan jenis awan yang hanya akan berubah menjadi hujan bukan badai angin yang dapat menimbulkan gelombang tinggi di laut.
Faktor ombak
Tanda-tanda alam di laut berupa ombak, sangat terkait dengan angin, arus, dan keberadaan karang di laut. Setiap daerah memiliki ciri ombak masing-masing yang dapat menjadi indikator prediksi cuaca.
Munculnya ombak dalam ukuran-ukuran tertentu juga sangat dipengaruhi oleh kencangnya angin yang berhembus
Jika angin kencang searah dengan arus, maka ombaknya agak lebih rendah dan panjang. Tetapi jika angin berlawanan dengan arus, maka ombaknya agak tinggi dan tidak panjang.
Pembacaan umur bulan
Pembacaan umur bulan merupakan pengetahuan yang sangat mendasar bagi nelayan baik di daratan utama maupun di pulau.
Pembacaan umur bulan dilakukan karena posisi umur bulan sangat berpengaruh terhadap kondisi di laut dan waktu penangkapan ikan.
Selain itu, pembacaan umur bulan dan fenomena alam terkait dengannya dimanfaatkan nelayan untuk beberapa kepentingan seperti keputusan melakukan perjalanan laut termasuk berlayar.
Prakiraan Cuaca Kalsel Kamis (23/4/2026).
Cuaca di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan bakal cerah berawan sejak pagi hingga siang pukul 14.00 Wita pada Kamis (23/4/2026).
Tapi Kabupaten Banjar dan Tanahlaut berpotensi dilanda hujan petir pada siang pukul 14.00 Wita. Sedangkan 9 kabupaten dan 2 kota lainnya, cuaca cerah berawan.
Begitu perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Staklim Kalsel.
Lebih lanjut, BMKG prediksi hujan disertai petir kembali melanda Banjar dan Tanahlaut pada sore pukul 17.00 Wita.
Hal sama terjadi di Kabupaten Tapin dan Baritokuala (Batola).
Setelah itu, kondisi cuaca di Kalsel kembali ke kategori aman hingga tengah malam bahkan dini hari Jumat (24/4/2026).
Selengkapnya, berikut prakiraan cuaca di wilayah Kalsel pada Kamis (23/4/2026).
Tanahlaut:
Hujan Petir
22–31 °C
67–98 persen
Kotabaru:
Hujan Ringan
23–33 °C
65–99 persen
Banjar:
Hujan Ringan
23–32 °C
67–99 persen
Baritokuala:
Hujan Ringan
23–34 °C
64–99 persen
Tapin:
Hujan Ringan
23–32 °C
65–99 persen
Hulu Sungai Selatan:
Hujan Ringan
23–32 °C
68–99 %
Hulu Sungai Tengah:
Hujan Ringan
22–32 °C
68–99 %
Hulu Sungai Utara:
Hujan Ringan
23–33 °C
64–99 %
Tabalong:
Hujan Ringan
23–33 °C
63–99 %
Tanahbumbu:
Hujan Ringan
23–33 °C
65–99 %
Balangan:
Hujan Ringan
23–33 °C
62–99 %
Kota Banjarmasin:
Hujan Ringan
24–32 °C
67–98 %
Kota Banjarbaru:
Hujan Ringan
23–31 °C
65–98 %
(Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri/Danti Ayu Sekarini/kompas.com)