​Meski Harga Gas akan Melonjak, Cemara Coffee Beltim Jamin Harga Menu Tetap Bersahabat
Hendra April 22, 2026 05:23 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Suasana saat berada di Cemara Coffee terasa lebih tenang dan nyaman.

Berdiri di Desa Padang, Kecamatan Manggar, kafe yang terletak tepat di sisi Kulong Kero ini menawarkan keteduhan dari rimbunnya deretan pohon cemara yang menjadi ikon tempat tersebut.

Pagi itu, Rabu (22/4/2026) suara percikan air dari pancuran di tengah kolam memberikan irama latar yang asri.

Di kursi-kursi kayu yang tersebar di area outdoor, tampak riuh obrolan pengunjung yang didominasi oleh bapak-bapak, sembari menikmati kopi di tengah embusan angin sepoi-sepoi.

Di tengah kesibukan melayani pelanggan, sosok Arif Riva (35) muncul mengenakan tampilan yang sangat profesional.

Dibalut setelan batik yang rapi dan rambut klimis, Manajer Operasional Cemara Coffee ini menyambut disertai jabat tangan hangat.

Arif mengajak kami duduk di satu di antara sudut kafe, ditemani dua cangkir kopi yang kepulannya tertiup angin.

Obrolan kami pun menyerempet pada isu panas hari ini, kenaikan harga gas LPG 12 kg. Jika di tempat lain kenaikan ini memicu kepanikan, Cemara Coffee justru menanggapinya secara tenang.

"Ya kami juga ada lah mendengar tentang kenaikan LPG ini. Kami sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari," ujar Arif.

Sebagai manajer operasional, Arif memandang gas adalah variabel bahan baku yang fluktuasinya harus sudah masuk dalam perhitungan kalkulator bisnis sejak hari pertama kafe dibuka.

Arif menjelaskan bahwa dalam dunia Food and Beverage (F&B), persiapan terhadap kenaikan harga adalah sebuah kewajiban.

Cemara Coffee telah memiliki sistem pembentengan anggaran yang sudah dihitung matang-matang.

"Setiap menu yang kami sajikan ke pelanggan sudah kami naikin harganya sekitar 15-20 persen sejak awal. Ini adalah langkah antisipasi jika terjadi kenaikan bahan baku seperti gas sekarang ini," ucapnya.

Arif mengatakan strategi ini bukan untuk mencari keuntungan lebih, melainkan untuk memberikan perlindungan bagi konsumen.

Adanya cadangan margin tersebut membuat manajemen tidak perlu melakukan tindakan menaikkan harga menu secara mendadak.

Arif membeberkan bahwa mereka menggunakan lima tabung gas sekaligus untuk operasional harian, ditambah dua tabung sebagai cadangan jika sewaktu-waktu pasokan terhambat.

"Satu tabung itu biasanya habis dalam dua sampai tiga hari pemakaian. Jadi mobilitas gas di sini memang cukup tinggi," ungkapnya.

Adapun harga terakhir yang Cemara Coffee bayar per tabung, yakni Rp230 ribu sudah termasuk ongkos kirim. Arif memprediksi setelah kenaikan mereka akan mengeluarkan biaya sekitar Rp250 ribu atau bahkan lebih per tabungnya.

Meski begitu, Arif lagi-lagi menjamin bahwa mereka sejauh ini tidak ada rencana untuk menaikkan harga menu mereka akibat kenaikan harga ini.

"Dampak langsung secara operasional sebetulnya tidak ada. Hitungan kami di menu masih sangat aman untuk meng-cover kenaikan itu. Pengunjung pun tidak perlu khawatir, tidak akan ada kenaikan harga menu lagi di sini," ujarnya.

Meski terlihat tenang, Arif tetap memiliki pandangan terhadap situasi global. Ia menduga kenaikan harga gas ini tidak lepas dari faktor geopolitik luar negeri, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang seringkali berdampak pada harga energi dunia.

"Kita memang terdampak faktor luar. Tapi sebagai pelaku usaha, harapan kami tentu saja ingin beban biaya operasional ini bisa kembali stabil," ucapnya.

Arif berharap pemerintah bisa segera mengembalikan harga gas ke normal agar pelaku usaha di Belitung Timur tidak semakin berat.

Usai wawancara, Arif kembali bangkit, merapikan batiknya, dan bersiap kembali memantau kerjaan di Cemara Coffee.

Cerita Arif menunjukkan sisi lain dari naiknya harga gas di Belitung Timur. Jika di satu sisi ada jeritan dari dapur yang terjepit, di sisi lain ada strategi manajerial yang mencoba tetap tenang di tengah badai kenaikan harga. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.