Kisah Pilu Hendra Kehilangan Istri dalam Kecelakaan Maut di Coastal Area Karimun
Dewi Haryati April 22, 2026 05:28 PM

KARIMUN, TRIBUNBATAM.id - Keluarga korban kecelakaan maut di Coastal Area Karimun, Minggu (19/4/2026) masih berduka atas kepergian L (35).

Dalam kecelakaan tragis itu, suami dan dua anak L ikut menjadi korban, setelah keempatnya ditabrak mobil Avanza yang dikendarai MG (25).

Rencana jogging satu keluarga yang tinggal di Teluk Lekop, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing pagi itu pun buyar, setelah mereka ditabrak mobil, dan berganti duka setelah L meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Wartawan Tribunbatam.id berkesempatan mewawancarai Hendra, suami korban.

Bagaimana kronologi kejadian Hendra dan keluarganya mengalami kecelakaan ini, serta harapan keluarga terhadap hukuman pelaku penabrak?

Berikut petikan wawancara eksklusif Tribunbatam.id bersama suami korban, pada Selasa (22/2026). 

Keterangan 

TB : Tribun Batam

H : Hendra

TB : Izin pak, boleh diceritakan kronologi awal kejadian yang menimpa bapak dan keluarga di Coastal Area Karimun, Minggu kemarin? 

H : Kami dari dua atau tiga hari sebelum itu memang niatnya mau pergi pagi, memang mau jogging lah. Karena sayakan bekerja itu pulang malam terus, dua minggu masuk terus. Jadi memang sudah lama kami nggak pernah jalan-jalan pagi lagi. 

jadi berniatlah saya bilang ke orang rumah, minggu ini saya libur. Kemana kita, mau jalan ya terserahlah gitu. Saya ngajaklah, kita sudah lama tidak ke Coastal pagi hari. Karena pergi pagi sudah lama betul, kalau malam kami sering, jadi kami bilang pagi ajalah. Kita berangkat memang niat mau jogging.

Intinya kami berempat ini pergi dalam keadaan yang bahagia lah. Jadi tidak adalah pikir itu pikir ini, pokoknya tak dugalah sampai ke sana (kecelakaan) gitu. 

TB : Sewaktu kejadian tragis itu, apa yang bapak ingat atau yang bapak rasakan pada saat itu? 

H : Saya memang pemikiran saya separuh-separuh, yang saya ingat pas saya mau belok itulah kejadiannya. Yang saya ingat lagi motor itu menimpa badan saya, terus darah banyak keluar dari hidung saya sendiri. Itu ada orang yang nolong, saya paksakan berdiri. 

Waktu itu saya cari istri entah kemana, anak entah kemana, itu yang buat pikiran saya memang lagi kacau. Setelah saya jumpa istri melihat kondisi istri, saya berpikir lagi anak-anak yang memang saya tidak nampak sama sekali. Itu yang membuat saya betul-betul terpukul. 

TB : Pada saat kejadian bapak sempat melihat kondisi korban pak? 

H : Saya sempat melihat kondisi istri, dan cukuplah saya mengetahui bagaimana kondisinya. Cuma di saat itu memang anak yang belum saya ketemu. 

TB : Baik, pada saat kejadian itu, bapakkan ada melihat mungkin ada sopir yang diamankan warga di sana. Itu bapak tak memikirkan ke situ atau bagaimana pak? 

H : Kalau itu pun saya waktu itu tak berpikir ke mobil yang nabrak saya. Yang saya pikir keadaan istri dan bagaimana anak saya. Itulah yang saya pikirkan, saya nggak pikir yang lain, saya pun nggak tahu siapa-siapa yang ada di situ, yang bantu turut membantu anak dan istri saya. 

Kemarin ada datang yang membantu saya sama istri bawa ke rumah sakit. Mereka sudah datang. Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudi menolong. 

Dan ada satu lagi ibu itu pun kami ketemunya pas di rumah sakit, ibu itu bercadar. Saya pun tak tanya nama, tapi dia yang paling banyak bantu saya. Dialah yang membawa anak saya rupanya langsung ke rumah sakit. Dan saya sangat-sangat berterima kasih kepada ibu.  

TB : Mungkin Bapak bisa kasi tanggapan pak terhadap ancaman pidana terhadap pelaku? 

H : Yang jelas saya tidak kenal dengan pelaku, latar belakangnya pelaku pun saya tidak tahu. 

Terutama harapan saya, dia harus bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan hingga merenggut kebahagiaan kami, keluarga kecil kami, dan harapannya dihukum yang setimpal sesuai apa yang kami rasakan saat ini. 

TB : Kalau untuk kondisi anak-anak sekarang bagaimana pak? 

H : Adiknya (anak 3 tahun) memang kakinya agak sedikit ada yang terbentur kemarin, ada lecet-lecet di tangan sedikit, kalau jalan masih dibimbinglah. Terkait abangnya (8) pas di-rontgen di rumah sakit ada terdapat keretakan di lutut sebelah kanan, dan sudah ditangani. 

TB : Kalau bapak sendiri bagaimana? 

H : Kalau saya cuma lecet di muka. Bisa dilihat sendiri, ada di lengan, beberapa di kaki, dan juga ada memar di lutut sebelah kanan. 

TB : Sebelumnya bapak bekerja dimana kalau boleh tahu? 

H : Saya bekerja di PT Saipem Indonesia

TB : Bapak dan istri sudah berapa lama menikah? 

H : Saya menikah tahun 2016, kurang lebih sudah 10 tahun. 

TB : Baik pak terima kasih.

(TribunBatam.id/Fairozzamani

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.