Kalahkan Jumlah TNI-Polri, BGN Kini Punya 1,1 Juta Relawan MBG di Seluruh Indonesia: Kami Terbesar!
jonisetiawan April 22, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Dalam waktu yang terbilang singkat, sebuah lembaga yang dulu nyaris tak terdengar kini berdiri sebagai kekuatan besar yang menjangkau seluruh penjuru Indonesia.

Badan Gizi Nasional (BGN) tidak lagi sekadar institusi teknis, melainkan telah berkembang menjadi mesin sosial-ekonomi raksasa yang menggerakkan jutaan orang melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di balik ekspansi itu, tersimpan fakta mencengangkan: jumlah personel yang terlibat disebut-sebut melampaui gabungan kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa dalam waktu singkat lembaga yang dipimpinnya berhasil menghimpun sekitar 1,1 juta relawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Jaringan besar ini digerakkan melalui unit Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) yang hadir di berbagai daerah.

"Sekarang kami menjadi pasukan terbesar republik, mengalahkan pasukan TNI dan Polri," ujarnya saat menghadiri pelantikan pengurus Gapembi Sumbar di Kota Padang, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Bukannya Dimakan, Siswa Malah Bawa Pulang MBG Buat Dikasih ke ART, BGN Bentuk Tim Investigasi

Awal Sunyi, Lompatan Besar

Perjalanan BGN tidak dimulai dengan gemuruh. Dadan mengenang momen awal berdirinya pada 15 Agustus 2024 yang berlangsung tanpa sorotan. Bahkan saat pelantikan pada 19 Agustus, ia mengaku menjalaninya tanpa protokoler, tanpa dokumentasi, dan tanpa publikasi luas.

Namun, dalam kurun waktu sekitar satu tahun empat bulan, perubahan drastis terjadi. Dari kondisi tanpa kantor, kini BGN berdiri dengan kekuatan ratusan pegawai pusat dan puluhan ribu kepala SPPG yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

"Ekosistem ini juga melibatkan 27.000 ahli gizi, 27.000 petugas angkutan, serta jutaan relawan," ujarnya.

Mesin Ekonomi Baru di Akar Rumput

Lebih dari sekadar program distribusi makanan, kehadiran SPPG menjelma menjadi penggerak ekonomi lokal. Setiap unit bukan hanya dapur, melainkan pusat perputaran uang yang berdampak langsung ke masyarakat.

Di Sumatera Barat, ratusan SPPG mampu mengalirkan ratusan miliar rupiah setiap bulan. Di Kota Padang saja, puluhan unit aktif menghasilkan perputaran ekonomi yang signifikan.

Skema anggaran pun dirancang untuk memperkuat ekonomi lokal:

"Sebanyak 70 persen dana digunakan untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal," ujarnya.

Sementara itu, sebagian anggaran lainnya dialokasikan untuk operasional, termasuk gaji relawan, serta insentif bagi pengelola.

KEPALA BGN -
KEPALA BGN - Dadan Hindayana menyebut jumlah relawan program MBG mencapai 1,1 juta orang, bahkan diklaim melampaui gabungan personel TNI dan Polri (YouTube Helmy Yahya Bicara)

Dampak Nyata: Dari Krisis ke Stabilitas

Efek program ini mulai terasa nyata di sektor pertanian. Dadan mencontohkan kondisi di Jember, di mana harga jeruk yang sempat anjlok drastis kini kembali stabil berkat meningkatnya permintaan dari program MBG.

"Kebutuhan logistik satu unit SPPG memang sangat masif. Setiap bulan, satu SPPG membutuhkan sedikitnya lima ton beras," ujarnya.

Kebutuhan pangan dalam skala besar ini turut mendorong peningkatan produksi petani dan peternak, mulai dari buah hingga sumber protein seperti ikan dan telur.

Baca juga: MBG Butuh 24 Juta Telur Setiap Hari, Kadin Gandeng Pengusaha China Perkuat Hilirisasi Unggas

Generasi Muda dan Pesantren Jadi Pilar

Yang menarik, kekuatan besar ini tidak hanya bertumpu pada sistem, tetapi juga pada manusia khususnya generasi muda. Dukungan Generasi Z disebut mencapai 80 persen, menjadikan BGN sebagai lembaga yang dinamis dan adaptif.

Selain itu, kemitraan dengan pondok pesantren menjadi langkah strategis dalam memperluas dampak ekonomi sekaligus memberdayakan komunitas berbasis keagamaan.

Baca juga: Kepala BGN Klaim IQ Orang Indonesia Rata-rata 78, Target MBG Bisa Perbaiki: Stunting Bisa Dicegah

Lebih dari Sekadar Program Gizi

Dengan anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah, MBG kini dipandang sebagai strategi nasional yang melampaui tujuan awalnya.

Tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai alat untuk menekan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan sosial.

"Program MBG kini bukan lagi sekadar intervensi gizi, melainkan strategi nasional untuk menekan angka kemiskinan dan memperkecil rasio gini di Indonesia," tuturnya.

Dari langkah awal yang sunyi hingga menjelma menjadi kekuatan raksasa, perjalanan BGN menunjukkan satu hal: perubahan besar tidak selalu dimulai dengan sorotan, tetapi bisa tumbuh diam-diam hingga akhirnya mengguncang seluruh sistem.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.