TRIBUNGORONTALO.COM — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyiapkan kuota penerimaan mahasiswa baru sebanyak 6.910 orang untuk tahun akademik 2026.
Jumlah kuota ini akan diisi melalui tiga jalur seleksi yang saat ini tengah berjalan secara bertahap.
Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP) UNG, Darmansyah Lubis, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu (22/4/2026), menjelaskan bahwa salah satu tahapan penting, yakni Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), kini UTBK sedang berlangsung.
Ia menyebutkan, pelaksanaan UTBK di UNG dimulai sejak Selasa 21 April hingga Minggu 26 April 2026
“Alhamdulillah, hari ini sudah masuk sesi ketiga di sejumlah fakultas di UNG,” ujarnya.
Menurut Darmansyah, ribuan peserta mengikuti UTBK di kampus tersebut. Tercatat sebanyak 5.504 orang ambil bagian dalam UTBK ini.
Para peserta menjalani sejumlah materi ujian yang menjadi standar dalam seleksi nasional tersebut. Tes itu di antaranya tes potensi skolastik (TPS), literasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta penalaran matematika.
Ia menjelaskan, UTBK menjadi salah satu jalur utama dalam proses penerimaan mahasiswa baru, selain jalur prestasi dan jalur mandiri.
“Jadi ada tiga jalur yang kami buka, yaitu SNBP, SNBT, dan mandiri,” jelasnya.
Darmansyah mengungkapkan bahwa sebagian kuota mahasiswa baru sudah terisi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Hingga saat ini, sebanyak 1.984 peserta telah dinyatakan lolos melalui jalur tersebut.
Katanya jumlah itu menjadi bagian awal dari total kuota yang disiapkan UNG tahun ini.
Sementara itu, proses seleksi melalui jalur SNBT masih berlangsung dan akan menentukan tambahan mahasiswa baru yang diterima melalui hasil UTBK.
Ia menambahkan, setelah seluruh tahapan UTBK selesai, UNG masih akan membuka kesempatan bagi calon mahasiswa melalui jalur mandiri.
“Setelah UTBK ini, masih ada penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi mandiri,” pungkasnya.
UNG memastikan seluruh proses berjalan sesuai jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan, sehingga penerimaan mahasiswa baru tahun ini dapat berjalan lancar.
Sebelumnya, pimpinan UNG meninjauhari pertama pelaksanaan UTBK-SNBT 2026, Selasa (21/4/2026)
Rektor UNG diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, turun langsung ke lapangan bersama pimpinan fakultas.
Mereka menyisir sejumlah titik pelaksanaan ujian untuk memastikan kesiapan sarana, sistem, hingga kenyamanan peserta selama mengikuti tes.
Monitoring dilakukan secara menyeluruh di dua lokasi utama, yakni Kampus Utama UNG di Kota Gorontalo dan Kampus UNG di Bone Bolango.
Setiap ruang ujian berbasis komputer diperiksa secara detail, mulai dari perangkat keras, koneksi jaringan, hingga kesiapan teknis lainnya yang menjadi penopang kelancaran UTBK.
Tidak hanya fokus pada aspek teknis, tim juga berinteraksi langsung dengan peserta. Beberapa calon mahasiswa diajak berdialog singkat untuk menggali pengalaman mereka selama mengikuti ujian.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa peserta merasa nyaman dan tidak mengalami kendala yang dapat mengganggu konsentrasi.
Prof. Hafidz menyampaikan bahwa pelaksanaan hari pertama UTBK-SNBT di UNG berjalan sesuai harapan.
Seluruh sistem berfungsi dengan baik tanpa gangguan berarti, baik dari sisi jaringan maupun perangkat.
“Alhamdulillah, dari lokasi yang kami cek sejauh ini, semua berjalan dengan baik dan lancar. Kami juga mewawancarai beberapa peserta, dan mereka mengaku sangat nyaman dengan fasilitas yang disediakan UNG. Tidak ada kendala teknis berarti yang dilaporkan,” ujar Hafidz.
UTBK SNPMB Jadi Harapan Peserta dari Luar Daerah
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berlangsung sejak Senin (13/4/2026) dan dijadwalkan berakhir pada Minggu (26/4/2026).
Pantauan Wartawan TribunGorontalo.com, Rabu (22/4/2026), suasana ujian di Gedung Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNG terlihat tertib. Para peserta datang sejak pagi hari, sebagian bahkan sudah berada di lokasi sebelum pukul 07.00 Wita.
Kendati demikan ujian sesi pagi dimulai pukul 08.00 Wita hingga 11.30 Wita.Peserta tampak mengenakan pakaian rapi berwarna putih hitam.
Mereka satu per satu duduk di depan komputer masing-masing, dan fokus mengerjakan soal di layar komputer.
Di balik suasana tenang itu, tersimpan berbagai harapan dari para peserta yang datang tidak hanya dari Gorontalo, tetapi juga dari luar daerah.
Elza Zainab Talib (18), peserta asal Kabupaten Banggai Laut mengaku memilih beberapa jurusan dengan pertimbangan peluang kerja di masa depan.
Pilihan utamanya adalah Program Studi Bimbingan Konseling, disusul Pendidikan Biologi, dan Keperawatan di Universitas Tadulako Palu sebagai alternatif.
"Kalau saya ambil tiga jurusan, dua di UNG dan satu di Tadulako, berharap ada salah satu yang tembus," ujarnya usai ujian.
Elza menilai jurusan bimbingan konseling memiliki peluang yang cukup besar untuk pekerjaan di masa depan.
"Kalau pilihan pertama saya bimbingan konseling, itu banyak peluangnya di masa depan," katanya.
Menurut Elza, kebutuhan tenaga konselor masih cukup tinggi dan diprediksi akan terus meningkat.
"Sebab Konseling ini jarang dipilih dan masih sedikit sehingga menjadi kesempatan besar untuk dapat pekerjaan," bebernya.
Selain itu, ia juga mempertimbangkan minat pribadi dalam menentukan pilihan jurusan.
Selain itu, Pendidikan Biologi menjadi pilihan kedua karena sesuai dengan ketertarikannya di bidang sains.
"Kalau Biologi saya memang suka mata pelajaran ini sehingga saya memilih jurusan ini," ujarnya.
Elza juga mengaku telah mempersiapkan diri jauh sebelum ujian termasuk peralatan ujian hingga belajar lebih giat.
Ia datang lebih awal ke lokasi ujian untuk memastikan tidak ada kendala administratif.
“Dari pagi sekitar jam tujuh sudah di sini. Persiapannya belajar dan siapkan berkas seperti kartu peserta dan KTP,” ujarnya.
UNG sendiri, menurut Elza, menjadi pilihan utama karena faktor kenyamanan dan kedekatan lokasi.
Ia menyebut kampus tersebut sebagai salah satu yang paling diminati di kawasan Gorontalo.
"UNG ini adalah kampus yang saya impikan dari dulu agar bisa kuliah di sini, selain masih terbilang dekat dengan kampung halaman saya serta kakak saya juga kuliah di sini," katanya.
Ia mengaku orangtuanya juga mendukung penuh untuk kuliah di UNG.
"Iya orang tua memang paling suport kalau di UNG jadi semoga saya bisa lulus," harapnya.
Ditanya soal tantangan dari kampung halaman ke Gorontalo ia mengaku tidak ada kendala berarti.
Namun yang paling dirasakan jadi tantangan adalah menahan pusing dan muntah saat naik kapal.
"Cuman pusing dan suka muntah saja itu yang jadi tentangan selain itu tidak ada," jelasnya.
Nurvadila B Lundunan (17), peserta asal SMA Negeri Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan mengaku memilih jurusan yang masih berada dalam rumpun ilmu yang ia pelajari di sekolah.
Pilihan yang diambil antara lain Pendidikan Biologi dan jurusan di bidang pertanian.
"Karena saya dari jurusan IPA, jadi pilih yang masih berkaitan, biar saya kalau kuliah tinggal mempermantap tidak harus belajar daei nol lagi," katanya.
Nurvadila mengaku telah melakukan persiapan dengan belajar secara mandiri sebelum mengikuti ujian.
Ia juga datang lebih awal ke lokasi untuk menghindari keterlambatan.
"Sekitar setengah tujuh sudah sampai, saya takut terlambat karena ini kesempatan yang tidak bisa saya sia-siakan,” ujarnya.
Perjalanan dari daerah asalnya menuju Gorontalo menjadi pengalaman tersendiri.Namun ia menilai UNG sebagai pilihan yang realistis dan terjangkau, baik dari sisi akses maupun biaya transportasi.
“Akses dari daerah saya ke sini cukup mudah dan terjangkau, maka itu saya memilih kuliah di Gorontalo,” tambahnya.
Bagi Nurvadila, memilih kampus tidak hanya soal kualitas pendidikan, tetapi juga mempertimbangkan kemudahan akses dan kondisi ekonomi keluarga.
"Kualitas pendidikan itu penting tapi kita juga harus mempertimbangkan biaya apalagi kita perantau. Jadi dua dua penting," tegasnya.
Mereka berdua berharap bisa lulus kuliah di UNG yang menjadi impian semasa masih di sekolah atas.
Ke duanya adalah teman yang baru bertemu di UNG sehingga itu juga jadi pengalaman tersendiri bagi keduanya.
Pelaksanaan UTBK di UNG sendiri berlangsung dengan pengawasan ketat.Panitia memastikan seluruh peserta mengikuti ujian sesuai prosedur.
Peserta juga diingatkan untuk membawa dokumen penting seperti kartu peserta dan identitas diri.
Selama ujian berlangsung, suasana di dalam ruangan relatif tenang. Hanya suara ketikan dan sesekali gerakan peserta yang terdengar. Selebihnya senyap.(*/Jefri)