Sepak Terjang John Kei Kembali Jadi Sorotan, Terkait Tewasnya Nus Kei di Bandara
Tommy Kurniawan April 22, 2026 08:49 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Nama John Kei kembali menjadi sorotan publik setelah pamannya, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, tewas ditikam di Maluku Tenggara.

Peristiwa tragis itu terjadi di pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun pada Minggu (19/4/2026). Pelaku diketahui adalah Hendrikus Rahayaan alias Hendra, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.

Secara silsilah, Hendrikus merupakan keponakan dari John Kei, sehingga ia juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Nus Kei sebagai cucu terhadap kakek (opa).

Konflik Lama Keluarga

Meski berada dalam satu garis keluarga, hubungan antara John Kei dan Nus Kei diketahui telah lama diwarnai konflik serius.

Perseteruan keduanya bahkan sempat memuncak pada 2020 lalu, ketika kelompok yang dikaitkan dengan John Kei melakukan penyerangan terhadap kediaman Nus Kei di kawasan Cipondoh, Kota Tangerang.

Rumah Nus Kei di klaster Australia, Green Lake City, dirusak secara brutal. Pintu didobrak, kaca jendela dipecahkan, hingga sejumlah barang di dalam rumah dihancurkan menggunakan senjata tajam.

Tak hanya itu, kendaraan milik Nus Kei dan tetangganya juga turut dirusak dalam aksi tersebut.

Baca juga: Cair Bansos PKH dan Sembako Triwulan II Bulan April 2026, Begini Cara Cek via NIK

Baca juga: Tinggal Dua Hari Lagi, Lowongan Kerja Manager Kopdes. Lulus Jadi Karyawan BUMN

Berujung Kekerasan dan Korban Jiwa

Pada hari yang sama, kelompok tersebut juga melakukan penyerangan di wilayah Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Insiden itu menyebabkan satu orang tewas akibat luka bacok, sementara korban lain mengalami luka serius di bagian tangan.

Aksi kekerasan berlanjut saat rombongan meninggalkan lokasi. Mereka merusak gerbang perumahan dan melepaskan tembakan, yang mengakibatkan seorang petugas keamanan tertabrak serta pengemudi ojek online terluka akibat tembakan.

Motif konflik saat itu disebut berkaitan dengan persoalan pembagian uang hasil penjualan tanah yang memicu ketidakpuasan di antara kedua pihak.

Penanganan Aparat

Dalam kasus penyerangan 2020 tersebut, polisi mengamankan sekitar 30 orang, termasuk John Kei, untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kini, dengan tewasnya Nus Kei di tangan anggota keluarga sendiri, konflik lama yang belum sepenuhnya mereda kembali mencuat ke permukaan.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa konflik internal keluarga yang tidak terselesaikan dapat berujung pada tragedi berkepanjangan.

Nama Jhon Kei Kembali Jadi Sorotan

Kini, nama John Kei kembali menjadi perbincangan setelah pamannya, Nus Kei, tewas ditikam di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur. Peristiwa bermula saat Nus Kei tiba dari Ambon sekitar pukul 11.10 WIT untuk menghadiri agenda Musda Partai Golkar Maluku Tenggara.

Saat berjalan menuju pintu keluar bandara untuk menemui keluarga, korban tiba-tiba diserang oleh dua pria yang salah satunya ternyata ponakan dari John Kei.

Seorang pelaku mengenakan jaket merah dan masker mendekati korban lalu melakukan penikaman.

Kakak korban, Antonius Rumatora, sempat berusaha menghentikan pelaku dengan memeluk dan membantingnya. Namun pelaku melawan dan berhasil melarikan diri.

 Selang beberapa menit, datang seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan menggunakan masker langsung menikam Saudara Almarhum Agrapinus Rumatora.

 "Melihat kejadian tersebut Saudara Antonius Rumatora (kakak korban) sempat memeluk dan membanting yang diduga pelaku namun pelaku melawan dan berhasil melarikan diri," demikian rilis resmi yang diterima dari Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono, Minggu (19/4/2026) melansir Tribunnews.com.

Setelah itu, Nus Kei sempat lari ke dalam bandara tetapi terjatuh dan sempat memperoleh pertolongan dari petugas di lokasi. Nus Kei lantas dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis. Nahas, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit. "Pukul 11.44 WIT, Saudara Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital," tuturnya.

Berdasarkan laporan yang diterima, Nus Kei menderita empat luka tusuk di bagian dada sebelah kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.

Di sisi lain, maksud dari Nus Kei berada di Kabupaten Maluku Tenggara untuk menghadiri acara partai.

Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi mengungkapkan bahwa motif utama kasus ini adalah dendam.

Menurut keterangan awal kepolisian, kedua tersangka diduga menyimpan luka lama terkait konflik yang terjadi sebelumnya di Jakarta.

Polisi menyebut, para pelaku meyakini korban memiliki keterkaitan dengan peristiwa kekerasan di masa lalu.

"Motifnya adalah dendam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi, beberapa tahun lalu," jelas AKBP Rian Suhendi melansir dari berbagai sumber.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi mengatakan, pelaku berjumlah dua orang, yakni HR (28) dan FU (36).

Polda Maluku menyatakan kasus ini akan ditangani secara profesional dan meminta masyarakat tetap tenang.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar korban dan simpatisan, untuk menahan diri dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada Polri. Jangan ada aksi balasan yang dapat memperkeruh situasi. Saat ini situasi di Maluku Tenggara aman dan kondusif,” ucapnya.

Saat ini kedua pelaku telah diamankan di Polda Maluku untuk diproses lebih lanjut dan menyelidiki motifnya.

Sosok John Kei

John Kei memiliki nama lengkap John Refra Kei. Ia merupakan pria kelahiran Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara.

John Kei terkenal dengan julukan Godfather of Jakarta. Hal tersebut tidak lepas dari catatan kriminal yang ia miliki.

John Kei disandingkan dengan mafia di Italia dan diberikan gelar 'Godfather of Jakarta' karena bisnisnya seperti mafia. Perjalanan hidup John Kei dimulai saat usia 18 tahun ketika ia merantau ke Surabaya.

Selama di Surabaya, John Kei menggelandang dan ditolong untuk membantu Hamba Allah di sebuah gereja.

Dirinya kemudian memutuskan untuk pindah menuju ibu kota, tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat.

John Kei dikenal sebagai debt kolektor melalui organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI). Namanya makin meroket di komunitas underground Jakarta setelah kematian Basri Sangaji yang merupakan pesaingnya.

Kematian Basri Sangaji sering dikaitkan dengan John Kei, hal ini karena antara kelompok John Kei dengan Basri Sangaji sempat bentrok.

John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan Basri Sangaji.

Nama John Kei tersorot media saat dirinya tertangkap karena kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Stell Mandiri.

Kasus Pembunuhan

Kasus John Kei yang paling menghebohkan yaitu pembunuhan berencana bos Sanex Stell Mandiri, Tan Harry Tantono 26 Januari 2012.

Tan Harry Tantono ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kawasan Jakarta Pusat.

John Kei terbukti melanggar Pasal 340 Juncto Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Pria kelahiran 10 September 1969 divonis 12 tahun penjara pada 27 Desember 2012.

John Kei mengajukan banding. Namun, dirinya kalah dalam persidangan dan justru hukumannya ditambah menjadi 16 tahun penjara.

Dia lalu ditahan di penjara Nusakambangan, Cilacap. Selama 3 bulan, John Kei ditempatkan di penjara dengan keamanan khusus, CCTV mengintai 24 jam dan dilarang berinteraksi.

Dia juga hanya bisa keluar dari sel penjara selama satu jam tiap harinya. Lima tahun mendekam di penjara, John Kei sempat mengaku bertaubat. Dia pun aktif dalam kegiatan keagamaan selama di penjara. Hal tersebut diungkapkannya melalui acara Kick Andy Show.

Bebas Bersyarat

John Kei bebas bersyarat pada Kamis (26/12/2019). Hal ini berarti dia hanya menjalani masa hukuman penjara 7 tahun 10 bulan. Sesaat setelah bebas, John Kei sempat mengaku ingin berubah. Dia ingin hidup tenang bersama dengan keluarganya.

Sebulan setelah bebas, John Kei bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Rabu (15/1/2020). Saat itu, John Kei diharapkan bisa membantu PKPI di Indonesia Timur.

Namun John Kei kembali ditangkap 6 bulan setelah keluar dari penjara oleh Polda Metro Jaya. Polda Metro Jaya menggerebek markas John Kei di perumahan Tytyan Indah Utama, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (21/6/2020).

Penggerebekannya dilakukan setelah terjadi kasus penembakan, kericuhan, dan pembacokan di perumahan elite Green Lake City, Tangerang.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus menyebutkan John Kei ditangkap bersama dengan anak buahnya. Total 25 orang ditangkap polisi dalam penggerebekan ini.

Polisi juga mengamankan 28 buah tombak, 24 buah senjata tajam, 2 buah ketapel panah, 3 buah anak panah, 2 buah stik bisbol, dan 17 buah ponsel.

Membunuh sejak 22 Tahun

John Kei pernah berbagi kisah dengan Andy Noya melalui saluran YouTube Kick Andy Show pada Jumat (12/4/2019). Pada kesempatan tersebut, John Kei menceritakan bagaimana dirinya bisa berubah dari pembunuh bengis menjadi sosok yang membawa perubahan satu penjara.

John Kei mengakui sejak usia 22 tahun dirinya sudah mulai membunuh orang. Bahkan sang Godfather of Jakarta ini menegaskan tidak ada penyesalan setelah menghilangkan nyawa orang lain.

Menurut John Kei, dirinya yang saat itu justru merasa lebih hebat jika sudah berhasil membunuh orang. Namun, John Kei menjelaskan jika dirinya tidak akan melukai orang lain jika orang tersebut tidak melukai dirinya.

Saat Andy bertanya pada John Kei soal alasan sang pembunuh sadis ini berubah, ia pun menceritakannya. Bermula saat John Kei ditempatkan di penjara khusus. John Kei ditempatkan di dalam satu kamar dengan kamera yang mengintai sepanjang waktu. Selain semua aktivitasnya terpantau oleh kamera, ia juga dilarang berinteraksi dengan napi lainnya.

Ia juga dibatasi untuk keluar dari sel selama satu jam saja dalam waktu satu hari. Kunjungan keluarga pun dibatasi di lapas Nusakambangan. Hal itu harus dialami oleh John Kei selama masa tiga bulan.

Selama itu, awalnya John Kei memberontak dan ingin keluarkan. "Aku dengar bisikan, kamu ngapain teriak-teriak sampai tuli tidak ada gunanya. Bener saya denger sendiri," cerita John Kei pada Andy.

John Kei pun merenung dan ingin mati masuk surga tidak neraka, hal ini membuat dirinya semakin rajin membaca alkitab. Ia menegaskan semua terserah pada semua orang menilai perubahan dirinya. 

"Orang mau ngomong apa itu urusan mereka tapi saya punya keyakinan dan saya yakin sampai mati saya melayani Tuhan," tegas John Kei.

John Kei sudah mempersiapkan jika keluar tidak akan tergoda. "Kitab Injil Matius ayat 33 itu meyakinkan saya, kalau saya melayani Tuhan, Tuhan nggak mungkin lupa saya, Tuhan akan memberikan lebih dari yang aku butuhkan. Waktu yang akan membuktikan," jelas John Kei.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.