Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Bos tambang Bengkulu, Bebby Hussy, bersama anaknya Saskya Hussy, dituntut hukuman penjara masing-masing 3 hingga 4 tahun dalam kasus dugaan korupsi tambang batu bara PT Ratu Samban Mining (RSM).
Tuntutan tersebut dibacakan jaksa penuntut umum dalam persidangan, dengan mempertimbangkan peran keduanya dalam perkara tersebut.
Pantauan di ruang sidang, pembacaan tuntutan perkara korupsi tambang RSM pada Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga malam hari.
Dalam perkara korupsi tambang RSM ini, JPU membacakan tuntutan secara rinci terhadap masing-masing terdakwa sesuai dengan peran dan keterlibatan mereka dalam kasus yang tengah disidangkan.
Baca juga: 9 Terdakwa Korupsi Tambang PT RSM Bengkulu Dituntut Berbeda, Ada yang 10 Tahun Penjara
Komisaris PT Tunas Bara Jaya Bebby Hussy, dituntut 4 tahun penjara dengan denda Rp 200 juta subsidair 80 hari kurungan, serta uang pengganti mencapai Rp 106 miliar lebih subsidair 2 tahun kurungan.
Sedangkan General Manager PT Inti Bara Perdana, Saskya Hussy, JPU menuntut pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp 200 juta subsidair 80 hari kurungan, serta uang pengganti sebesar Rp 3 miliar subsidair 1 tahun kurungan.
Terdakwa Sutarman selaku Direktur PT Inti Bara Perdana dituntut pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp 200 juta subsidair 80 hari kurungan, serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 13 miliar subsidair 1 tahun 8 bulan kurungan.
Sementara itu, Marketing PT Inti Bara Perdana, Agusman, dituntut 3 tahun penjara dengan denda Rp 250 juta subsidair 90 hari kurungan.
Tuntutan paling berat dalam perkara korupsi tambang RSM ini dijatuhkan kepada Direktur PT Ratu Samban Mining, Edhie Santosa, yang dituntut 10 tahun penjara, denda Rp 2 miliar subsidair 290 hari kurungan, serta uang pengganti sebesar Rp 53 miliar subsidair 4 tahun kurungan.
Selain itu, Komisaris PT Ratu Samban Mining, David Alexander, juga menghadapi tuntutan serupa, yakni 10 tahun penjara dengan denda Rp 2 miliar subsidair 260 hari kurungan, serta uang pengganti Rp 53 miliar subsidair 4 tahun kurungan.
Sementara itu, Kepala Inspektur Tambang ESDM periode April 2022 hingga Juli 2024, Sunindyo Suryo Herdadi, dituntut 8 tahun penjara dengan denda Rp 2 miliar subsidair 260 hari kurungan.
Dalam sidang tersebut, Direktur Utama PT Tunas Bara Jaya, Julius Soh, dituntut 3 tahun penjara, denda Rp 300 juta subsidair 100 hari kurungan, serta uang pengganti sebesar Rp 36 miliar subsidair 1 tahun 6 bulan kurungan.
Selain itu, Kepala Cabang PT Sucofindo Bengkulu, Iman Sumantri, dituntut 2 tahun penjara dengan denda Rp 2 miliar subsidair 290 hari kurungan.
"Tuntutan sudah dibacakan, silahkan para terdakwa berkoordinasi dulu dengan para kuasa hukum," kata ketua Majelis Hakim, Achmadsyah Ade Muri.
Proses persidangan masih berlangsung di Pengadilan Negeri Bengkulu, dengan agenda tuntutan kasus suap dan perintangan.
Sidang pledoi atas kasus pidana pokok korupsi PT RSM tersebut bakal digelar pada tanggal 29 April 2026 mendatang.
"Silahkan nanti pembelaan disampaikan dalam sidang pledoi," kata ketua majelis hakim sembari mengetok palu.
Pada Rabu, 23 Juli 2025, Kejati Bengkulu kembali mengejutkan publik dengan menetapkan tersangka dalam kasus korupsi penyalahgunaan izin tambang batu bara.
Kasus dugaan korupsi tambang Bengkulu yang merugikan keuangan negara hingga Rp1,8 triliun dengan sebanyak 12 terdakwa.
Sebanyak 12 terdakwa, yakni:
Diketahui sebelumnya, dalam kasus ini terdapat tiga perkara, yakni korupsi tambang, suap, perintangan
penyidikan dan gratifikasi, serta tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Dalam perkara pokok korupsi tambang, terdapat sembilan orang tersangka, yaitu:
Sementara itu, untuk perkara suap, perintangan penyidikan, dan gratifikasi, terdapat lima nama yang telah dilimpahkan, yakni:
Andy Putra, kerabat Bebby Hussy.
Selain itu, terdapat dua tersangka yang selain terlibat dalam perkara pokok, juga dijerat dengan tindak pidana pencucian uang, yakni Bebby Hussy dan Saskya Hussy.
Dalam kasus ini, masih terdapat satu orang yang belum menjalani persidangan, yaitu mantan Direktur Utama PT Ratu Samban Mining, Sonny Adnan, yang sebelumnya masuk dalam perkara pokok kasus korupsi tambang tersebut.