POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kenaikan harga gas LPG 12 kilogram yang mencapai Rp250 ribu per tabung di Belitung Timur memicu kekhawatiran akan adanya peralihan konsumsi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Belitung Timur, Harli Agusta, mengakui bahwa potensi konsumen gas nonsubsidi yang berpindah menggunakan gas subsidi 3 kilogram bisa saja muncul, Rabu (22/4/2026).
Harli lebih lanjut mengatakan migrasi sering kali terjadi saat kenaikan harga gas nonsubsidi cukup tajam. Hal ini dipicu oleh selisih harga yang kian lebar antara gas 12 kg dan gas subsidi yang harganya tetap.
"Potensi itu pasti ada. Apalagi dalam penentuan siapa yang berhak menggunakan gas 3 kilo ini, kesadaran masyarakat kita masih belum 100 persen taat," ujar Harli.
Meski demikian, Harli memperkirakan dampak migrasi ini tidak akan terlalu signifikan terhadap stok gas subsidi secara keseluruhan. Berdasarkan data Disperindag, pengguna gas 12 kilogram di Belitung Timur hanya berkisar antara 10 hingga 20 persen dari total pengguna gas.
Harli mengatakan kenaikan harga ini akan sangat terasa bagi pelaku usaha menengah ke atas, seperti perhotelan dan restoran. Kelompok usaha ini memang diwajibkan menggunakan gas nonsubsidi dalam operasional mereka.
"Yang sangat berpengaruh itu usaha perhotelan atau restoran. Mudah-mudahan kenaikan ini tidak mengganggu total biaya produksi mereka secara ekstrem, meskipun kami tahu ini sangat memberatkan," ucapnya.
Harli juga mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi efek domino dari kenaikan harga gas ini. Menurutnya, kenaikan biaya energi sering menjadi pemicu naiknya harga-harga kebutuhan lain, termasuk harga makanan.
"Sangat mungkin terjadi harga makanan naik atau barang-barang konsumsi harian ikut berubah. Biaya produksi otomatis akan menyesuaikan dengan kenaikan energi ini," ungkapnya.
Meski begitu, Harli mengatakan sejauh ini riuh rendah di masyarakat Belitung Timur belum terlalu mencolok. Hal ini dipicu oleh harga gas subsidi 3 kg yang masih stabil.
Karena harga gas melon tidak berubah, masyarakat kalangan bawah dan pelaku usaha mikro masih bisa bernapas. Harli menyebut keresahan baru benar-benar akan meledak jika gas subsidi ikut mengalami kenaikan atau kelangkaan.
"Keluhan belum terlalu besar karena harga gas melon tidak ada perubahan. Bagi pemakai 12 kilo, kenaikan dari Rp220 ribu ke Rp250 ribu memang berat, tapi selama barangnya ada, insyaallah tidak jadi polemik," ujarnya.
Disperindag pun mengimbau kepada masyarakat yang mampu dan para pelaku usaha besar untuk tetap disiplin menggunakan gas nonsubsidi. Hal ini penting agar kuota gas 3 kilogram tetap tepat sasaran bagi masyarakat miskin.
Harli menambahkan pemerintah daerah akan terus memantau distribusi di lapangan agar tidak terjadi penyimpangan di tengah situasi ini. Pengawasan terhadap stok tetap menjadi fokus agar tidak terjadi kepanikan.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)