BANGKAPOS.COM,BANGKA - Dampak kenaikan gas elpiji non subsidi yang signifikan kini mulai dikeluhkan masyarakat, termasuk agen pangkalan gas, Rabu (22/4/2026).
Bahkan, kini ada masyarakat yang sebelumnya menggunakan gas elpiji non subsidi berniat beralih menggunakan gas elpiji subsidi 3 kilogram.
Hal ini seperti yang diungkapkan Nuryani, pemilik agen pangkalan gas di Jalan Depati Amir, Kelurahan Keramat, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang.
"Kalau dampaknya kemungkinan besar ada, karena ada yang menawarkan tabungnya kepada saya karena keberatan dengan harga gas 5,5 kilogram. Jadi dia minta saya beli tabungnya karena mau pakai gas 3 kilogram. Saya bilang jangan, malu kalau ekonomi menengah ke atas menggunakan subsidi," ujar Nuryani.
Diketahui, kenaikan harga gas elpiji hanya menyasar gas elpiji non subsidi, sedangkan gas elpiji subsidi atau gas 3 kilogram masih normal.
"Mulai tanggal 18 ada kenaikan. Kalau sebelumnya gas 5,5 kilogram Rp110 ribu dan gas 12 kilogram Rp210 ribu. Setelah naik, harga berubah dari Pertamina, untuk gas 5,5 kilogram menjadi Rp145 ribu, sedangkan gas 12 kilogram menjadi Rp245 ribu," jelasnya.
Namun, dalam empat hari terakhir sejak kenaikan harga gas elpiji non subsidi, penjualan masih tergolong tidak mengalami penurunan signifikan.
"Karena langganan tidak terlampau banyak untuk non subsidi, sejauh ini belum ada keluhan. Yang penting stok ada. Biasanya yang membeli memang dari kalangan menengah ke atas," tuturnya.
Sementara itu, dengan kondisi ini Nuryani berharap harga gas elpiji non subsidi dapat segera kembali normal.
"Harapannya, yang penting stok tersedia. Untuk kenaikan harga, kalau bisa jangan terlampau tinggi karena ekonomi sekarang ini semuanya pada mengeluh," ungkapnya.
(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).