Lampu-lampu kendaraan tampak samar-samar pada pagi hari. Jarak pandang terbatas. Padahal, sinar matahari mulai terlihat. Jalan tertutup kabut.
Udara lebih dingin terasa di Jambi dalam beberapa hari terakhir. Agak basah ketika kena kulit.
Kabut tampak tebal, menyelimuti Kota Jambi dan sekitarnya. Namun, itu bukan karena kebakaran hutan dan lahan.
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -- Fenomena kabut yang kerap muncul pada pagi hari di Kota Jambi merupakan bagian dari proses alamiah yang dipengaruhi kondisi cuaca.
Petugas BMKG Jambi, Randy, menjelaskan bahwa kabut pagi terbentuk akibat udara yang lembap dan dingin hingga mencapai titik jenuh.
“Fenomena kabut di pagi hari yang terjadi di Kota Jambi bukan karena asap karhutla, melainkan karena udara lembap dan dingin yang mencapai titik jenuh,” ujarnya pada Rabu (22/4/2026).
Kabut terjadi saat udara bersentuhan dengan permukaan tanah yang suhunya cukup rendah.
Kondisi tersebut memicu proses kondensasi atau pengembunan.
“Hal ini terjadi apabila udara bersentuhan dengan tanah yang cukup dingin sehingga terkondensasi menjadi tetesan air halus yang melayang di udara, itulah yang kita lihat sebagai kabut,” jelasnya.
Pengembunan sendiri merupakan perubahan wujud dari gas atau uap menjadi cair.
Kabut biasanya hanya muncul pada pagi hari dan perlahan menghilang seiring meningkatnya suhu udara.
"Biasanya kabut akan hilang menjelang pagi menuju siang hari saat matahari mulai menyinari," tambahnya.
Kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan karena kabut yang terlihat bukan merupakan asap, melainkan hasil dari proses alami pengembunan.
Terkait prakiraan cuaca ke depan, BMKG memprediksi wilayah Provinsi Jambi akan didominasi kondisi cerah berawan pada pagi hari.
Meski demikian, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi di seluruh kabupaten/kota, terutama pada sore, malam, hingga dini hari.
“Untuk satu minggu ke depan, cuaca di Provinsi Jambi umumnya cerah berawan pada pagi hari. Namun, hujan masih berpotensi terjadi di seluruh wilayah,” kata Randy.
Ia menambahkan, kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, seperti aktifnya gelombang Kelvin di wilayah Pulau Sumatera serta adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada sore hingga malam hari yang berpotensi hujan.
(Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri)
Baca juga: Pengacara Persoalkan Sanksi 3 Polisi Jambi di TKP Rudapaksa: yang Disidang Masalah Miras
Baca juga: Persebri Batanghari Pamer Piala Mengitari Muara Bulian setelah Juarai Liga 4
Baca juga: Pedagang Gas LPG Nonsubsidi di Jambi: Ini bukan Naik, tapi Ganti Harga