Assoc. Prof. Dr. Edyanus Herman Halim, SE., MS, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unri.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Rencana penyelenggaraan perpisahan sekolah di hotel dinilai tidak memiliki urgensi dan hanya berpotensi menjadi pemborosan yang membebani keuangan orang tua siswa, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Perpisahan seharusnya tetap dapat dilaksanakan secara sederhana tanpa mengurangi makna, misalnya di kelas masing-masing atau di lingkungan sekolah dengan kegiatan seperti doa bersama di lapangan dan saling bersalam-salaman sebagai bentuk penutup kebersamaan.
Dampak terhadap sektor perhotelan diakui sebagai konsekuensi yang mungkin terjadi, karena adanya potensi kehilangan peluang pasar dan pendapatan. Namun kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari risiko bisnis yang muncul akibat kebijakan pemerintah serta pengaruh ketidakpastian ekonomi dan situasi geopolitik yang kurang menguntungkan.
Adaptasi dinilai menjadi langkah penting bagi pelaku usaha perhotelan, antara lain melalui diversifikasi sumber pendapatan dan pengembangan segmen pasar baru. Keluhan dari pelaku usaha dianggap wajar, namun tidak dapat dijadikan dasar untuk mengorbankan kepentingan masyarakat luas.
Kepentingan wali murid dinilai lebih esensial untuk diperhatikan, mengingat banyak di antaranya saat ini menghadapi tekanan ekonomi, khususnya dari kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Kreativitas dan inovasi pengelola hotel dalam mencari peluang baru dipandang sebagai kunci untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah perubahan situasi, tanpa harus bergantung pada kegiatan yang berpotensi membebani masyarakat.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)