TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Tawangmangu adalah salah satu wilayah yang jadi ikon di Karanganyar, Jawa Tengah.
Kecamatan Tawangmangu dikenal karena sederet destinasi wisaya alamnya.
Selain itu, populer sebagai daerah wisata yang sangat dingin, suhu rata-rata di Tawangmangu adalah berkisar 9°-23°.
Baca juga: Persis Solo Jaga Asa Selamat dari Degradasi Usai Menang Lawan Bhayangkara, Next Hadapi Persija
Kota Tawangmangu dikenal sebagai objek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Solo.
Salah satu objek tujuan wisata yang terkenal adalah Air Terjun Grojogan Sewu (ketinggian 81 meter).
Destinasi wisata ini didukung sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan.
Dari Tawangmangu, pendakian ke puncak Gunung Lawu (Pos Cemoro Kandang) dapat dimulai.
Selain itu, terdapat jalan tembus yang menuju ke Telaga Sarangan di Magetan lewat Cemoro Sewu.
Baca juga: Asal-usul Nama Desa Gumeng di Jenawi Karanganyar, Punya Destinasi Wisata Alam Lereng Gunung Lawu
Mengutip kanal YouTube OTW NGGAMBLEH, seorang narasumber bernama Sudono Salim, S.Pd., yang dikenal memahami sejarah daerah, membagikan kisah menarik tentang Tawangmangu.
Ia menyebut bahwa asal-usul nama Tawangmangu erat kaitannya dengan perjalanan Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.
Kala itu, Raden Mas Said tengah melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda yang bekerja sama dengan prajurit Kasunanan Surakarta.
Pertempuran terjadi di Desa Nglaroh, Wonogiri, memaksa sang pangeran berpindah-pindah tempat.
Baca juga: Asal-usul Nama Kecamatan Kebonarum Klaten, Dulu Dikenal Subur hingga Dijuluki Daerah yang Harum
Dalam pelariannya, ia teringat akan nasehat dari dua tokoh penting, Tumenggung Kudono Warso dan Tumenggung Suro Wijoyo, yang menyarankannya untuk berguru ke Desa Sumokaton—sekarang dikenal sebagai Desa Somokado di Kecamatan Tawangmangu.
Di sana, Raden Mas Said bertemu dengan dua guru spiritual, Ki Hajar Adisono dan Ki Hajar Adi Roso.
Ki Hajar Adi Roso menyampaikan bahwa belum saatnya Raden Mas Said menjadi seorang ratu atau pemimpin besar.
Ia harus melewati sebuah tahapan spiritual terlebih dahulu.
Suatu hari, datanglah seorang pria tua membawa dua pusaka: sebuah bendera bernama Kyai Gubro dan tameng dari kulit hewan bernama Kyai Slamet.
Setelah menerima pusaka tersebut, Raden Mas Said hendak menemui gurunya kembali.
Namun sebelum ia berangkat, gurunya justru menemuinya dan memberikan pesan pentingu, untuk bertemu pamannya, Pangeran Mangkubumi, yang tinggal di Sukowati (kini Sragen).
Baca juga: Daftar Tiket Kereta Go Show dari Solo April 2026, Lengkap Cara Beli & Rutenya, Harga Mulai Rp70 Ribu
Dalam perjalanannya menuju Sukowati, Raden Mas Said berhenti sejenak dan memandang ke arah timur
Ia terpesona oleh kemegahan Gunung Lawu yang diselimuti awan.
Dalam kekaguman dan keheningan, ia terdiam dan termenung.
Dari peristiwa itulah, lahir nama “Tawangmangu”.
Kata “Tawang” berarti langit, sedangkan “Mangu” berasal dari kata “termangu” yang menggambarkan perasaan terdiam dalam kekaguman.
Maka, Tawangmangu secara filosofis bermakna “tempat di mana seseorang terpukau memandangi langit”.
1. Air Terjun Grojogan Sewu
Air terjun setinggi sekitar 80 meter ini menjadi ikon Tawangmangu.
Pengunjung harus menuruni sekitar 1.250 anak tangga sambil menikmati suasana hutan dan satwa liar seperti monyet.
2. Bukit Sekipan
Wisata keluarga dengan berbagai wahana seperti miniatur dunia, rumah hantu, hingga area foto Instagramable.
Tersedia juga penginapan tematik.
3. Taman Wisata Balekambang
Menawarkan spot foto bertema dunia, 3D art, serta wahana air seperti waterboom dan outbound.
4. The Lawu Park
Wisata alam hutan pinus dengan aktivitas seperti camping, ATV, flying fox, hingga jeep adventure.
5. Air Terjun Jumog Putri
Air terjun kecil yang masih alami dengan suasana sejuk dan fasilitas sederhana di pinggir jalan.
6. Bukit Mongkrang
Cocok untuk pendaki pemula dengan pemandangan padang ilalang dan spot sunrise serta area camping.
7. Kedung Sriti
Air terjun tersembunyi yang masih sangat alami, namun aksesnya cukup menantang.
8. Sakura Hills
Wisata bernuansa Jepang dengan taman sakura, spot foto Torii, hingga pengalaman camping di alam terbuka.
9. Rumah Atsiri Indonesia
Wisata edukasi tentang minyak atsiri dengan taman bunga, museum, workshop, dan spot foto estetik.
10. Agrowisata Desa Nglurah
Desa bunga yang dipenuhi tanaman hias dan obat, cocok untuk wisata santai sekaligus berburu tanaman.
(*)