Pesantren Indonesia Jajaki Kerja Sama Pendidikan Hingga Teknologi di Chongqing Tiongkok 
Kemal Setia Permana April 23, 2026 12:49 PM

Laporan Adim Mubaroq 

TRIBUNJABAR.ID,MAJALENGKA -  Sebanyak 13 perwakilan pesantren dari berbagai daerah di Indonesia bertolak ke Chongqing pada 19–26 April 2026.

Mereka mengikuti program studi pendidikan, teknologi, dan budaya dalam rangka penjajakan kerja sama internasional. 

Salah satu peserta, Zaenal Muhyiddin dari Ponpes Al Mizan Majalengka, menyebut kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam membuka peluang kerja sama internasional bagi pesantren.

“Tujuan utama kunjungan ini adalah menjajaki kerja sama di bidang pendidikan, teknologi, dan budaya. Ini peluang besar bagi pesantren untuk berkembang lebih maju dan terbuka secara global,” kata Zaenal dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026). 

Menurut dia program ini telah dirancang sejak Oktober 2025 dan sempat mengalami penjadwalan ulang sebelum akhirnya dipastikan berlangsung April 2026. 

Baca juga: BIJB Kertajati Agar Buka Layanan Mecca Route, Pangkas Proses Keimigrasian Jemaah Haji

Selain kunjungan langsung, kerja sama FPTP-Hezuo juga mencakup kursus Bahasa Mandarin bagi pengelola pesantren yang saat ini dilaksanakan secara daring.

Zaenal mengatakan bahwa di sektor pendidikan terdapat peluang bagi santri untuk melanjutkan studi ke Chongqing, baik melalui skema beasiswa maupun pembiayaan mandiri. “Ini menjadi akses baru bagi santri untuk merasakan pendidikan internasional,” katanya.

Delegasi juga dijadwalkan melakukan studi banding ke sejumlah industri teknologi dan manufaktur alat pertanian, serta mengunjungi lembaga kebudayaan lokal guna memperkuat pertukaran budaya.

Kerja sama ini melibatkan mitra dari Tiongkok, yakni Dongxueji, lembaga pendidikan berbasis asrama yang dinilai memiliki kesamaan sistem dengan pesantren di Indonesia.

Sebanyak lima lembaga pendidikan Islam ikut serta dalam program ini, yakni Ponpes Darus Sunnah Ciputat, Ponpes Al Hamidiyah Depok, Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Yayasan Islam Sultan Agung, serta Ponpes Al Mizan Majalengka.

Total 13 peserta dibagi dalam tiga kelompok keberangkatan karena perbedaan waktu penerbitan visa dan penyesuaian tiket. 

Grup pertama berangkat pada 19 April pukul 23.00 WIB dengan penerbangan langsung, sementara dua grup lainnya berangkat lebih awal pukul 13.35 WIB dan transit di Xiamen sebelum melanjutkan perjalanan ke Chongqing.

Meski terbagi dalam beberapa grup, seluruh persiapan disebut telah dilakukan secara matang. Zaenal memastikan peserta telah dibekali panduan lengkap untuk menunjang kelancaran kegiatan selama di Tiongkok.

“Kami optimistis kunjungan ini akan membuka peluang kerja sama konkret dan berdampak bagi pengembangan pesantren ke depan,” ujarnya Zaenal. (*) 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.