Blokade Amerika di Selat Hormuz Ternyata Cuma Pepesan Kosong, Kapal Hantu Iran Angkut Minyak Lolos
Januar April 23, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Apa yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz ternyata sia-sia.

Sebab, blokade Amerika di tempat itu bisa dibobol oleh kapal hantu Iran.

Dilansir dari Tribunnews, ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah muncul laporan bahwa puluhan kapal tanker yang diduga terkait Iran berhasil menembus blokade laut Amerika Serikat.

Sedikitnya 34 kapal yang dijuluki “kapal hantu” dilaporkan lolos dari pengawasan dan membawa minyak mentah dengan nilai mencapai sekitar Rp15,6 triliun.

Dalam dunia pelayaran internasional, setiap kapal umumnya dilengkapi sistem pelacak bernama AIS (Automatic Identification System) yang berfungsi menampilkan posisi, identitas, dan tujuan kapal secara real time.

Namun, kapal yang disebut “kapal hantu” justru mematikan sistem tersebut agar tidak terdeteksi.

Baca juga: Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tetap Blokir Selat Hormuz

Dengan cara ini, kapal dapat berlayar tanpa diketahui otoritas internasional maupun sistem pengawasan maritim.

Taktik ini diduga digunakan Iran untuk tetap menjalankan ekspor minyak di tengah tekanan blokade. Sejak kebijakan tersebut diberlakukan, Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) meningkatkan pengawasan di jalur strategis seperti Teluk Oman dan kawasan Indo-Pasifik.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa blokade ini bertujuan membatasi sumber pendapatan utama Iran dari sektor energi.

CENTCOM mengklaim telah mengambil sejumlah tindakan, termasuk menyita satu kapal kontainer Iran, menaiki kapal tanker yang dikenai sanksi.

Serta memaksa puluhan kapal lainnya untuk berbalik arah. Hingga kini, sedikitnya 28 kapal disebut telah dicegah untuk melanjutkan pelayaran, sebagaimana dikutip dari Financial Times.

34 Kapal “Hantu” Iran Lolos

Namun, di tengah pengawasan ketat tersebut, laporan terbaru justru menunjukkan adanya celah dalam pelaksanaan blokade.

Sebanyak 19 kapal tanker dilaporkan berhasil keluar dari Teluk Persia, sementara 15 kapal lainnya masuk dari Laut Arab menuju Iran.

Dari jumlah tersebut, setidaknya enam kapal diketahui membawa minyak mentah Iran.

Total muatan yang berhasil dikirim diperkirakan mencapai 10,7 juta barel.

Dengan asumsi harga jual minyak Iran berada sekitar 10 dolar AS di bawah harga Brent, nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai 910 juta dolar AS atau setara Rp15,6 triliun.

Fenomena ini memperkuat penggunaan istilah “kapal hantu”, yakni kapal yang sengaja menghilangkan jejak dari sistem pelacakan global untuk menghindari sanksi internasional.

Dengan memanfaatkan jalur pelayaran yang sulit terdeteksi serta taktik penghindaran, Iran tetap berupaya menjaga aliran pendapatan dari sektor energi, yang menjadi tulang punggung ekonominya.

Pengamat menilai keberhasilan puluhan kapal lolos dari blokade menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan operasional di tengah pembatasan ketat.

Kapal-kapal tersebut diduga menggunakan metode seperti mematikan sistem pelacakan dan mengubah rute pelayaran untuk menghindari pengawasan internasional.

Perkembangan ini sekaligus memunculkan pertanyaan baru terkait efektivitas blokade yang diberlakukan Amerika Serikat, serta berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia tersebut.

Pentagon Bantah Kapal Iran Lolos dari Blokade

Pasca isu ini mencuat, Pemerintah Amerika Serikat membantah laporan yang menyebut puluhan kapal Iran berhasil menembus blokade laut di kawasan Selat Hormuz.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan pihaknya berpegang pada data intelijen yang dimiliki dan menilai laporan tersebut tidak akurat.

Parnell menegaskan bahwa informasi mengenai 26 kapal Iran yang disebut berhasil lolos dari pengawasan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Menurutnya, operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat tetap berjalan efektif dalam mengawasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Bantahan serupa juga disampaikan oleh CENTCOM.

Dalam keterangannya, CENTCOM mengklaim telah memaksa sedikitnya 29 kapal untuk memutar balik ke pelabuhan asal sejak pemberlakuan blokade di kawasan tersebut.

Sebagai buktinya, CENTCOM menyebut kapal M/V Hero II dan M/V Hedy telah dicegat AS.

Tak hanya itu kapal M/V Dorena juga dikawal ketat oleh kapal perusak AS di Samudera Hindia.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk menekan aktivitas pelayaran yang diduga terkait dengan Iran, khususnya dalam sektor ekspor minyak.

Selat Hormuz sendiri menjadi fokus utama pengawasan karena merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Meski demikian, perbedaan klaim antara laporan independen dan pernyataan resmi AS menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih sulit diverifikasi secara menyeluruh.

Ketegangan di kawasan pun tetap tinggi, seiring berlangsungnya operasi militer dan kebijakan blokade yang terus diberlakukan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.