Sidak Gudang Karawang, Mentan Amran Jamin Beras Aman 11 Bulan Hadapi Kekeringan El Nino
Hironimus Rama April 23, 2026 01:35 PM

Laporan Muhammad Azzam

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, KARAWANG – Kekhawatiran akan krisis pangan akibat musim kemarau panjang dan kekeringan ekstrem atau yang kerap disebut fenomena 'Godzilla El Nino' terus membayangi. Namun, masyarakat tampaknya bisa bernapas lega.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membawa kabar menggembirakan terkait ketahanan pangan nasional saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang penyimpanan beras di wilayah Tunggakjati, Karawang Barat, Kabupaten Karawang, pada Kamis (23/4/2026).

Dalam kunjungannya tersebut, Mentan memastikan bahwa stok cadangan pangan Indonesia berada dalam kondisi sangat aman, bahkan memecahkan rekor tertinggi.

Baca juga: Panen Raya di Karawang, Prabowo Umumkan Indonesia Swasembada Pangan, Tidak Lagi Impor Beras

"Fenomena Godzilla El Nino tidak masalah bagi Indonesia, karena persediaan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog diproyeksikan mencapai 5 juta ton dalam waktu dekat," kata Mentan.

Saat ini, stok CBP sudah menembus angka 4,9 juta ton. Mentan menegaskan bahwa jumlah ini membuat pemerintah sangat optimistis dalam menghadapi dinamika geopolitik global maupun perubahan iklim ekstrem.

"Pernah dulu (stok CBP) mencapai 2,6 juta ton (pada) tahun 1984, sekarang hampir dua kali lipat," ujarnya.

Cadangan Aman hingga 11 Bulan ke Depan

Keyakinan pemerintah tidak hanya bergantung pada beras di gudang Perum Bulog. Ketersediaan pangan nasional juga ditopang oleh standing crop (padi siap panen) yang diproyeksikan mencapai 11 juta ton.

Selain itu, stok di sektor Horeka (Hotel, Restoran, Kafe/Katering) juga tercatat sangat besar, yakni mencapai 12,5 juta ton. Jika diakumulasikan, cadangan ini sangat masif dan mampu mengamankan perut masyarakat Indonesia hingga nyaris setahun ke depan.

"Dengan estimasi dampak El Nino yang diprediksi berlangsung selama enam bulan, pemerintah meyakini cadangan beras yang setara 11 bulan ini lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan," ujarnya.

"Artinya lebih dari cukup, selain selama musim kering ini masih banyak sawah yang produksi dengan saluran irigasi yang tersedia," kata dia.

Kucurkan Rp 5 Triliun untuk 'Senjata' Hadapi Kekeringan

Untuk memastikan produktivitas pertanian tidak terhenti di tengah kemarau ekstrem, Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah taktis dengan mengalokasikan dana jumbo sebesar Rp 5 triliun.

Anggaran ini difokuskan pada dua sektor krusial. Pertama, infrastruktur irigasi dan pompanisasi sebesar Rp 3 Triliun. Dana ini difokuskan untuk mengamankan pengairan di daerah rawan kekeringan.

Saat ini, pemerintah telah membuka pendaftaran bantuan 80 ribu unit pompa air yang ditargetkan menjangkau 1 juta hektare lahan sawah yang terdampak. Secara total, program irigasi ini dirancang untuk mengelola hingga 1,5 juta hektare lahan di seluruh Indonesia.

Kedua, pengadaan benih unggul tahan kekeringan sebesar Rp 2 Triliun. Benih khusus ini dirancang agar petani dapat mempercepat masa tanam. Dengan benih ini, frekuensi panen yang biasanya hanya satu kali, bisa ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

Di samping itu, pemerintah juga terus menggenjot program cetak sawah baru seluas 30 ribu hektare demi memperluas area tanam secara berkelanjutan.

"Itu upaya-upaya kami guna memastikan stok beras aman ditengah krisis global dan fenomena Godzilla El Nino," tandas Mentan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.