Jateng Dominasi 10 Besar Kota Paling Toleran di Indonesia, Salatiga dan Semarang Masuk 3 Besar
muslimah April 23, 2026 01:57 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Kota di Jawa Tengah mendominasi sepuluh besar kota paling toleran di Indonesia.

Peringkat pertama dan ketiga bahkan berasal dari provinsi ini.

Data tersebut dikeluarkan SETARA Institute yang baru saja merilis hasil Indeks Kota Toleran (IKT) untuk periode 2025.

Indeks ini menjadi barometer penting untuk melihat bagaimana kebijakan dan praktik sosial yang inklusif diterapkan di tingkat kota, serta sejauh mana keberagaman dihargai dalam masyarakat urban.

Baca juga: Pasutri Lansia Penjual Getuk di Sragen Kecelakaan Terjerat Kabel saat Dini Hari, Tuntut Rp 20 Juta

Menurut hasil survei IKT 2025, Salatiga, sebuah kota di Jawa Tengah, berhasil meraih peringkat pertama dengan skor 6,492.

Kota ini dikenal sebagai salah satu daerah yang secara konsisten mendukung praktik toleransi, baik dalam kebijakan pemerintah maupun dalam kehidupan sosial warganya.

Di bawah Salatiga, Singkawang, yang terletak di Kalimantan Barat, berada di posisi kedua dengan skor 6,391.

Singkawang terkenal dengan keberagaman etnis dan agama yang hidup berdampingan secara harmonis, yang tercermin dalam skor tinggi IKT-nya.

Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah, menempati posisi ketiga dengan skor 6,160, menunjukkan upaya yang signifikan dalam membangun kota yang inklusif.

Beberapa kota lain yang berada di peringkat tinggi adalah Pematangsiantar (peringkat keempat dengan skor 6,084), Bekasi (peringkat kelima dengan skor 6,037), dan Sukabumi (peringkat keenam dengan skor 5,973).

Kota-kota ini memiliki kebijakan yang mendukung keberagaman serta memfasilitasi integrasi sosial antar warga dengan latar belakang yang beragam.

Tiga kota berikutnya, Magelang (skor 5,805), Kediri (skor 5,792), dan Tegal (skor 5,733), mencatatkan skor yang cukup baik meskipun tidak mencapai angka yang lebih tinggi.

Ambon, yang dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya dan agama yang beragam, menutup sepuluh besar dengan skor 5,657.

Metodologi Penilaian Indeks Kota Toleran

SETARA Institute mendefinisikan "kota toleran" sebagai kota yang memiliki visi dan rencana pembangunan yang inklusif, didukung oleh regulasi yang kondusif bagi praktik toleransi.

Kota toleran juga ditandai dengan rendahnya tingkat intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan, serta adanya upaya berkelanjutan untuk mengelola keberagaman dan mendorong inklusi sosial.

Metodologi yang digunakan dalam penilaian ini mengacu pada kerangka kerja yang dikembangkan oleh Brian J. Grim dan Roger Finke (2006) untuk mengukur tingkat kebebasan beragama atau derajat toleransi.

Terdapat tiga indikator utama dalam kerangka ini, yaitu:

  • Favoritisme pemerintah terhadap kelompok agama tertentu.
  • Regulasi pemerintah yang membatasi kebebasan beragama.
  • Regulasi sosial yang turut membatasi praktik keagamaan.

Selain itu, untuk konteks Indonesia, SETARA Institute menambahkan variabel demografi sosio-keagamaan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat toleransi di suatu kota.

Komposisi penduduk dengan keberagaman agama, etnis, dan budaya menjadi parameter penting dalam menilai bagaimana suatu kota mengelola kerukunan sosial.

Variabel yang Dinilai dalam Indeks Kota Toleran

Dalam IKT 2025, ada empat variabel utama yang menjadi dasar penilaian, yang kemudian diturunkan ke dalam delapan indikator:

  1. Regulasi pemerintah kota – Termasuk kebijakan dan produk hukum yang ada, seperti RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) yang mencerminkan komitmen kota terhadap keberagaman.
  2. Regulasi sosial – Kebijakan sosial yang berhubungan dengan kebebasan beragama dan praktik keagamaan di kota.
  3. Tindakan pemerintah – Termasuk peran aparat dan pejabat publik dalam mendukung atau menghambat toleransi di masyarakat.
  4. Kondisi demografi sosio-keagamaan – Sejauh mana keragaman sosial dan agama dikelola dengan baik dalam masyarakat kota, serta adanya inklusi sosial dalam berbagai aspek kehidupan.

Indikator yang dinilai juga mencakup dokumen perencanaan pembangunan, kebijakan yang bersifat promotif maupun diskriminatif, peristiwa intoleransi yang terjadi, dinamika masyarakat sipil, serta pernyataan dan tindakan pejabat kunci yang memengaruhi iklim toleransi di kota tersebut.

Berikut ranking 10 terbesar kota toleran berdasarkan indeks kota toleran Setara Institute:

1.Kota Salatiga (skor 6,492)

2.Kota Singkawang (skor 6,391)

3.Kota Semarang (skor 6,160)

4.Kota Pematangsiantar (skor 6,084)

5.Kota Bekasi (skor 6,037)

6.Kota Sukabumi (skor 5,973)

7.Kota Magelang (skor 5,805)

8.Kota Kediri (skor 5,792)

9.Kota Tegal (skor 5,733)

10.Kota Ambon (skor 5,657)

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.