Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Konsumsi telur ayam mencapai 2,5 juta butir per hari di Aceh.
Tingginya kebutuhan ini belum didukung pasokan lokal yang baru berkontribusi 10 persen.
“Kami sedang menjalankan program pembinaan untuk menunjang peran masyarakat dalam budidaya telur ayam,” kata UPTD Balai Non-Ruminansia Dinas Peternakan Aceh, Yessi Fandiba usai meninjau peternakan ayam petelur di Seruway, Aceh Tamiang.
Peninjauan ini dilakukan Yessi di peternakan milik Syaiful Bahri pada Rabu (22/4/2026) petang kemarin.
Yessi memberi apresiasi terhadap dobrakan yang dilakukan Syaiful dalam merintis budidaya ayam petelur dalam skala besar.
Untuk saat ini kata Yessi, peternakan yang dikelola Syaiful merupakan yang terbesar dan terbaik di Aceh, sehingga layak dijadikan percontohan.
“Kami sudah keliling ke berbagai daerah di Aceh, sejauh ini kandang terluas milik pak Syaiful,” ungkapnya.
Baca juga: Dinas Peternakan Aceh Siapkan Langkah Strategis Kendalikan Harga Ayam dan Telur
Yessi menyampaikan pihaknya terus mendorong masyarakat mengembangkan budidaya ayam petelur karena kebutuhan per-harinya sangat tinggi.
Aceh kata dia, kebutuhan telur setiap harinya mencapai 2,5 juta butir.
“Produksi lokal baru 10 persen, ketergantungan kita terhadap daerah lain masih sangat tinggi,” jelasnya.
Syaiful Bahri yang merupakan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang menjelaskan kandang yang dibangunnya merupakan hasil kunjungan kerja di Langkat dan Deliserdang, Sumatera Utara pada tahun 2025.
Dalam kunjungan itu, dia melihat potensi ekonomi yang begitu besar dari budidaya ayam petelur.
Dijelaskannya, peternakan yang dibangunnya merupakan uji coba atau pilot project sebelum diturunkan kepada masyarakat.
“Setelah ini berhasil, kami dari DPRK akan mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius membantu masyarakat kita terjun ke budidaya ini,” kata Syaiful, Kamis (23/4/2026).
Project awal ini dia mendatangkan 20 ribu ekor bibit ayam petelur.
Secara bertahap volume ini akan terus ditambah hingga 100 ribu ekor.
Syaiful memastikan dirinya terus mendorong pengusaha lokal menjalankan bisnis ini agar tercipta kemandirian pangan. (*)