Penyebab 2 Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Menlu: Banyak Negara Tolak Ada Pungutan
Ani Susanti April 23, 2026 04:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Kedua kapal PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz hingga kini.

Penyebab kapal itu tak bisa melintasi Selat Hormuz diungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono.

Sugiono mengatakan, pihaknya erus mengupayakan negosiasi agar dua kapal itu dapat segera melintas.

"Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan," kata Sugiono di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Penjelasan Pertamina soal Semua Kru Kapal Gamsunoro di Hormuz dari India, Pelaut WNI Telanjur Kecewa

Sugiono menyebutkan, kendala yang dihadapi terkait dengan situasi internal yang terjadi di Iran.

"Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa," ungkap Sugiono.

Kemudian, Sugiono juga menyinggung soal perkembangan tentang blokade Selat Hormuz.

Ia menyebutkan, setiap hal terkait Selat Hormuz ini sedang dinegosiasikan.

"Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan," tutur dia.

Soal Usulan Biaya Pungutan

Pada kesempatan yang sama, Sugiono juga menyoroti inisiasi terkait usulan soal biaya pungutan untuk melintas Selat Hormuz.

Menurut Sugiono, banyak negara menolak ide terkait uang pungutan atau fee bagi kapal yang mau melintasi Selat Hormuz.

"Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara online itu daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz," jelasnya.

Alasannya karena hal tersebut bertentangan dengan istilah yang dikenal dengan freedom of navigation.

"Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi di situ kan ada Oman, ya kan, kemudian ada UAE. Kemudian, karena ya, jadi beberapa contoh ada praktik-praktik tersebut dilakukan di situ," tuturnya.

Diketahui, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Situasi ini terjadi di tengah kembali memanasnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut, setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz kurang dari 24 jam sejak sempat dibuka.

Pelaksana tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi yang berlangsung sangat dinamis di kawasan tersebut.

“Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ujar Vega dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).

Vega menambahkan, perusahaan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan keselamatan pelayaran sebelum kapal melanjutkan perjalanan.

"Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman,” kata dia.

Bantahan Terkait Kapal yang Sudah Keluar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah adanya kapal tanker bermuatan gas minyak bumi cair atau liquefied petroleum gas (LPG) yang keluar dari Selat Hormuz menuju Indonesia.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, informasi tersebut tidaklah benar. Ia bilang, tidak ada kargo LPG yang dibawa menuju Indonesia, begitu pula dengan kapal Pertamina yang tertahan di Teluk Persia tidak mengangkut LPG .

"Sejauh ini laporan dari Pertamina dipastikan informasi yang beredar tersebut tidak benar, Kapal Pertamina hanya Pride dan Gamsunoro. Tidak ada kargo LPG yang dibawa untuk Indonesia," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Secara rinci, terdapat dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih tertahan yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.

VLCC Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sedangkan Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).

Baca juga: Dua Kapalnya Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pertamina: Kami Terus Lakukan Koordinasi

Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita pun menegaskan, bahwa tidak ada kapal perusahaan yang sudah melintasi Selat Hormuz. Begitu pula kargo LPG yang dikabarkan tersebut bukanlah milik Pertamina.

"Itu bukan kapal maupun kargo Pertamina ya," kata dia.

Sebelumnya, perusahaan analitik pelayaran, Kpler, melaporkan lebih dari 20 kapal melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (19/4/2026). Salah satunya merupakan kapal tanker yang menuju Indonesia.

Mengutip Reuters, Senin (20/4/2026), dari total kapal yang melintas, lima di antaranya mengangkut kargo dari Iran dengan muatan produk minyak hingga logam. Lalu ada tiga kapal yang mengangkut LPG dengan masing-masing tujuan ke China dan India.

Kemudian terdapat salah satu kapal tanker berbendera Panama, Crave, yang disebut mengangkut LPG dari Uni Emirat Arab dengan tujuan ke Indonesia.

Selain itu, dua dari tiga kapal tanker, Akti A dan Athina, yang membawa produk olahan minyak dari Bahrain, masing-masing berlayar menuju Mozambik dan Thailand.

Baca juga: Blokade Amerika di Selat Hormuz Ternyata Cuma Pepesan Kosong, Kapal Hantu Iran Angkut Minyak Lolos

Kapal tanker berbendera Liberia, Navig8 Macallister, juga terpanntau mengangkut sekitar 500.000 barrel nafta dari Uni Emirat Arab menuju Ulsan, Korea Selatan.

Lalu ada kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Fpmc C Lord berbendera Liberia turut membawa sekitar 2 juta barrel minyak mentah dari Arab Saudi menuju pelabuhan Mailiao, Taiwan.

Ada pula kapal berbendera India, Desh Garima, yang mengangkut sekitar 780.000 barrel minyak mentah Das dari Uni Emirat Arab menuju Sri Lanka.

Serta terdapat kapal Ruby yang membawa pupuk dari Qatar dilaporkan menuju Uni Emirat Arab, dan kapal kargo tanker Merry M yang mengangkut petroleum coke dari Arab Saudi menuju Ravenna, Italia.

Kapal-kapal itu berhasil melintasi Selat Hormuz di saat Iran mengumumkan pembukaan jalur strategis tersebut pada Sabtu (18/4/2026). Namun Selat Hormuz kembali ditutup pada Minggu (19/4/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.