Pihak Kampus Syok Dokumen yang Ditunjukkan Joki UTBK di Unesa Mirip Asli, Pelaku Orang-orang Pintar
Ani Susanti April 23, 2026 04:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Modus baru para joki UTBK 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membuat pihak kampus syok.

Pasalnya, dokumen yang dipakai para joki ini benar-benar seperti asli.

Diketahui, dalam kasus perjokian pada Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Unesa, panitia menemukan indikasi kuat adanya jaringan terorganisir yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Para pelaku bisa mengganti seluruh identitas dokumen resmi dari peserta ujian dengan visual foto dirinya.

Bahkan pelaku di Unesa ini sempat diketahui mengikuti pelaksanaan UTBK pada tahun lalu.

Baca juga: Joki UTBK di Unesa Ketahuan Curang, Modus Semakin Canggih dan Terorganisir

Hal ini seperti yang disampaikan Martadi, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa Surabaya.

"Memang temuan itu sudah diawali dari data awal yang kita miliki, yakni menggunakan generate AI. Lalu ditemukan ada  sebuah foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen. Foto ini digunakan di dua SNPMB yang berbeda. Tahun yang lalu dia sudah gunakan untuk tes yang tempatnya bukan di Indonesia, tetapi saat itu yang bersangkutan tidak datang," jelasnya.

Rupanya, saat itu joki UTBK tersebut gagal beraksi karena ada pelaku lain yang ketahuan.

"Lalu di tahun ini, pelaku menggunakan foto yang sama untuk mendaftar dengan nama yang berbeda dengan nama yang ada di 2025.

Nah, dari situlah kemudian kita coba telusuri di pertemuan pertama," lanjutnya.

Sata itu pihak kampus tetap membiarkan pelaku melakukan tes.

"Mereka tetap kita biarkan untuk mengikuti proses karena itu adalah hak mereka. Kemudian setelah selesai, kita sudah siapkan—sebelum selesai itu kita sudah kontak polisi, sudah siapkan tim supervisi dari nasional—baru yang bersangkutan kita ambil untuk kita dalami lebih jauh di sekretariat kita.

Dari temuan itu memang akhirnya diketahui ada pengakuan bahwa mereka joki. Kemudian ketika kita telusuri lebih jauh, siapa yang memerintah, ada dua layer di atasnya dan layer itu selalu missing. Sudah tidak bisa disebut lagi. Mereka pernah ketemu direkrut di sebuah kafe, kemudian mereka disiapkan semua dokumen," jelas Martadi.

Dokumen Benar-benar Seperti Asli

Martadi mengatakan, pihak kampus juga syok karena dokumen yang disiapkan benar-bsenar seperti asli.

Namun, yang berbeda adalah fotonya.

"Jadi yang bersangkutan tidak bawa dokumen saat datang. Jadi sudah disiapkan KTP atas nama yang dijoki, ijazah atas nama yang dijoki, print basah loh ya. Jadi bukan fotokopi, ijazah benar-benar asli. Kemudian setelah ijazah ketemu, kita coba lakukan telusur dengan sekolah tempat anak yang dijoki ini bersekolah.

Kemudian setelah kita tanyakan, mereka mengakui data memang data ijazahnya sama persis. Yang berbeda adalah fotonya. Tapi hebatnya, ijazah yang dibawa dengan foto yang diganti itu stempel basah. Sehingga setelah kita telusur dan kita yakin bahwa yang bersangkutan sudah ada pengakuan, maka kami Unesa sebagai panitia melaporkan kepada pusat untuk melakukan konsultasi langkah lanjut yang harus dilakukan,"

Baca juga: Joki UTBK Kepergok Beraksi di Unesa, Polrestabes Surabaya Bakal Periksa Semua Pihak

Kini, kasus tersebut telah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian.

Namun, yang diadukan adalah peserta yang melakukan tes dan menyalahi ketentuan tes menggunakan data palsu dan seterusnya.

"Dan ketika kami lihat di motornya (joki), memang di dalam motor itu sudah ditemukan mika-mika blanko yang siap untuk dicetak jadi KTP dan seterusnya.. Jadi kalau di ruangan mereka sama sekali tidak membawa identitas apa pun. Dia mengaku seperti nama anak (yang dijokikan) itu. Dia juga ternyata dilatih menghafalkan nama anaknya, orang tuanya siapa, dan seterusnya,"

"Nah, kemarin ketika yang bersangkutan kita tanya, katanya dia orang Madura. Begitu kita tanya bahasa Madura, dia tidak bisa. Nah, berarti memang anak yang dijoki dari pulau itu. Makanya mengaku seperti itu. Yang dijoki dari Madura. Dari sana mengambil jurusan kedokteran di perguruan tinggi negeri di Jawa Timur," lanjutnya.

Nasib Pemesan Joki

Martadi menambahkan, pemesan joki juga akan kena imbas masalah ini.

"Kalau di panitia memang ketentuannya begitu mereka ketahuan, baik joki maupun yang dijoki, maka otomatis mereka akan digugurkan dan mereka akan diblacklist untuk masuk di PTN.

(Namun) kami belum bisa mengadukan pihak yang dijoki karena kami belum punya dasar. Tetapi kalau nanti polisi mengembangkan lebih lanjut dan ditemukan tindak pidana, tidak menutup kemungkinan akan berimbas pada keduanya," tuturnya.

Ditambahkannya, pelaku yang menjadi joki ini tak saling kenal dengan yang lain.

Namun, mereka pintar.

Baca juga: Joki UTBK Terendus di Surabaya, Pemeriksaan Intensif Masih Berlangsung

"Profiling pelaku, laki-laki usia sekitar 23–24 tahun. Rata-rata mereka yang direkrut adalah anak-anak pintar. Jaringannya memang sistematis untuk merekrut orang-orang pintar. Mereka cenderung tidak saling mengenal antar joki karena tidak pernah dipertemukan. Direkrut di kafe, dua kali pertemuan, lalu hanya kenal satu layer di atasnya. Layer berikutnya sudah jaringan nasional.

Pengakuannya berasal dari Surabaya, tetapi sering berubah-ubah. Mengaku miskin, tetapi penampilannya tidak mendukung klaim tersebut. Dia juga mengaku tidak dibayar, tetapi itu tidak masuk akal. Akhirnya dia mengakui sebagai joki.

Tidak mengaku sebagai mahasiswa aktif. Kemungkinan sudah lulus atau masih mahasiswa, tetapi tidak membawa identitas kampus. Mereka terlihat sangat tenang, tidak menunjukkan rasa takut, bahkan saat berbohong maupun saat mengakui. Jaringan diduga berasal dari Jawa Barat untuk layer atas," tambahnya.

Setelah adanya kasus ini, pihak kampus akan memperketat SOP, pengamanan barang peserta dan meminimalkan potensi komunikasi selama ujian.

Kasus ini masih bergulir dan terus dikawal oleh pihak terkait.

Pelaksanaan UTBK juga diperketat untuk menjaga integritas dan kejujuran dalam pendidikan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.