Siswa Korban Erupsi Semeru di Lumajang Gantian komputer untuk Ujian TKA 
Wiwit Purwanto April 23, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID LUMAJANG- Pelaksana tes kemampuan akademik (TKA) berbasis komputer tidak berjalan mulus di daerah rawan bencana di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Hal ini dirasakan oleh 21 murid kelas 6 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Supiturang 2 Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Mereka harus bergantian laptop untuk melaksanan ujian TKA, Kamis (23/4/2026).

Para siswa ini melaksanan ujian di gedung milik madrasah Diniyah di Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo Lumajang. Hal tersebut dilakukan karena bangunan sekolah mereka hancur diterjang lahar erupsi Semeru pada 19 November 2025 silam.

Alvira Khorunisa, putri korban erupsi Semeru jadi peserta TKA di sekolah dasar tersebut. Siswi ini bersama dua temannya mengerjakan soal ujian dengan tiga laptop yang disediakan guru sekolah.

Meskipun jumlah perangkatnya terbatas, tiga murid nampak serius mengerjakan soal Bahasa Indonesia dan survei lingkungan belajar mengunakan laptop tersebut.

Baca juga: TKA SD di Jawa Timur Gunakan Skema Gelombang, Partisipasi Siswa Capai 99,5 Persen

Selain itu, mereka juga diawasi langsung guru dari sekolah lain selama ujian TKA, bahkan juga dipantau pegawai dinas pendidikan Lumajang melalui zoom dari kamera yang telah disiapkan di sekolah.

"Ujian kali ini agak susah, soalnya ujiannya Bahasa Indonesia. Kalau internetnya lancar, tidak ada kendala," ujar Alvira saat baru keluar dari ruang ujian.

Konsentrasi Terganggu Karena Laptop Nyetrum 

Namun yang cukup menggangu. Dia mengaku sering tersengat listrik dari laptopnya ujian, sehingga hal itu agak menggangu konsentrasi.

"Komputernya agak nyetrum, dibagian pinggirnya itu. Ya agak ganggu, juga agak takut," papar siswi yang akrab disapa Vira ini.

Sementara, Hariono Guru SDN Supiturang 2 Kecamatan Pronojiwo mengatakan peserta ujian TKA ini terdiri dari 17 perempuan dan 4 laki-laki.

Baca juga: Kolaborasi PKBM dan Sekolah Jadi Solusi Ujian TKA di Surabaya

"Dengan berbagai pertimbangan, pelaksanan TKA di SDN Supiturang 2 dilaksanakan 4 gelombang dengan dua sesi," tanggapnya.

Menurutnya, hal ini dilakukan karena sekolah ini banyak keterbatasan sarana pendukung khususnya komputer, karena sekolah ini kawasan daerah terluar dan rawan bencana.

"Kami takut kalau memaksakan diri denah ujian gelombang kecil, nanti pesertanya banyak dan jaringannya (internet) tidak mampu," ucap Hariono.

Dia mengungkapan setelah setelah tersapu lahar erupsi Semeru beberapa bulan lalu. Kata Hariono, semua inventaris milik sekolah hangus terbawa bencana.

"Sebagian yang masih ada mungkin hasil usaha sekolah dan bantuan dari pihak yang membantu pelaksana sekolah. Seperti kipas angin, sound itu bantuan pihak yang membantu," paparnya.

Ada empat laptop yang digunakan untuk ujian TKA. Kata dia, dua diantarnya hasil pinjam dari guru, sisanya masih milik sekolah.

"Tiga digunakan ujian anak anak, satu komputer yang digunakan sebagai pengendali sekolah. Jadi kami sediakan empat," imbuh Hariono.

Sementara kalau sebagian laptop ada yang mengeluarkan sengatan listrik. Hariono meminta maaf kepada murid, sebab hal itu fasilitas yang sementara bisa dilakukan sekolah.

"Kami berusaha menyediakan perangkat semaksimal mungkin. Mungkin Kalau nyetrum berikutnya akan kami perbaiki dan insyallah itu sudah kami antisipasi," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.