Raffi Ahmad resmi menjadi Duta Kehormatan pertama BPJS Kesehatan. Penunjukan ini tak sekadar simbolis, tetapi menjadi bagian dari strategi BPJS Kesehatan mendorong gaya hidup sehat, khususnya di kalangan generasi milenial dan Gen Z, di tengah meningkatnya kasus penyakit diabetes hingga hipertensi.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito menyebut ada pergeseran tren penyakit pembiayaan katastropik, pasien disebut semakin muda. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada tingginya kebutuhan layanan rujukan dan perawatan.
"Kami bersyukur Bapak berkenan, dan Bapak raffi ahmad ini adalah duta kehormatan BPJS yang pertama," sorot Prihati, dalam agenda penganugerahan, Kamis (23/4/2026).
Melalui pengangkatan Raffi Ahmad sebagai Duta Kehormatan, BPJS Kesehatan ingin memperkuat semangat gotong royong dalam sistem JKN. Peran Raffi diharapkan mampu menjangkau generasi muda untuk lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini, melalui pendekatan promotif dan preventif.
Dalam pernyataannya, Raffi Ahmad menegaskan komitmennya sebagai figur publik untuk mengedukasi masyarakat, khususnya anak muda. Ia menekankan bahwa hidup sehat harus dimulai sejak muda, bukan menunggu sakit terlebih dahulu.
"Gaya hidup sehat itu dimulai dari sekarang, dari pola makan, pikiran positif, hingga olahraga. Jangan tunggu sakit baru sadar pentingnya kesehatan," ujarnya.
Raffi juga berbagi pengalamannya dalam menjaga kebugaran, termasuk mengikuti berbagai ajang maraton internasional seperti di New York, Tokyo, dan Chicago. Ia menegaskan kesehatan tidak hanya soal fisik, tetapi juga mental dan pola pikir yang positif.
Lebih lanjut, ia berencana menginisiasi kegiatan olahraga bersama generasi muda, seperti Fun Run 5 kilometer, bahkan hingga maraton penuh, sebagai bagian dari kampanye hidup sehat.
Penunjukan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperluas edukasi kesehatan di masyarakat. BPJS Kesehatan menegaskan bahwa tujuan utama program JKN adalah memastikan seluruh peserta mendapatkan layanan berkualitas tanpa harus jatuh miskin akibat biaya pengobatan.
Dengan kolaborasi antara institusi dan figur publik, pesan hidup sehat diharapkan dapat lebih mudah diterima dan diterapkan oleh generasi muda Indonesia.





