Fadly Alberto berharap masih bisa melanjutkan kariernya sebagai pemain sepakbola. Saat ini ia tengah terancam sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Harapan itu diutarakan Fadly seusai mediasi antara Bhayangkara FC U-20 dengan Dewa United U-20. Media dilakukan Bhayangkara di Dewa United Arena, Pagedangan, Banten, Rabu (22/4/2026), buntut kericuhan laga Elite Pro Academy (EPA) U-20.
Kedua klub sepakat berdamai setelah mediasi dilakukan, namun ancaman hukuman Komdis buat Fadly dan pelaku kericuhan lainnya tetap membayangi. Di tengah situasi menggantung ini, Fadly masih menyimpan asa.
"Ini tindakan yang mungkin paling bodoh lah di sepakbola, yang tentunya masyarakat Indonesia tidak suka. Saya juga meminta maaf kepada masyarakat Indonesia karena tindakan saya ini mencemari sportivitas sepakbola," kata Fadly.
"Cita-cita saya sebagai pemain bola tetap saya terus kejar meskipun banyak rintangan seperti sekarang. Mungkin ini juga musibah buat saya, cobaan, dan saya akan terus bekerja keras sebagaimana saya sampai sekarang," ujarnya.
Fadly Alberto menjelaskan bahwa aksi emosionalnya terjadi karena tensi tinggi pertandingan. Ia kini menyadari bahwa kontrol emosi adalah hal yang sangat penting.
Karena emosi sesaat, kini kariernya tengah terancam. Di usianya yang masih sangat muda, ia seharusnya masih punya karier yang sangat panjang.
"Waktu pertandingan karena tensi tinggi juga, panas karena sama-sama mengejar poin. Cukup, mungkin dari kepemimpinan wasit juga sedikit bermasalah, itu yang menjadikan pemicu dari kami. Ke depannya saya akan melakukan evaluasi dari diri saya sendiri dan tim," ucap Fadly.
"Tentunya yang terjadi sekarang menjadi pengalaman berharga buat saya karena ini juga enggak pernah saya pikirkan bisa sampai begini," tutur anggota Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2025 itu.





