Kampus Desa Mendunia: UIN Saizu dan Jejak Mahasiswa Internasional
abduh imanulhaq April 23, 2026 06:14 PM

Oleh: Laila Syafangatun Marhumah, Mahasiswa Program Studi BKI UIN Saizu Purwokerto

DI TENGAH derasnya arus globalisasi pendidikan, siapa sangka kampus yang berada di wilayah dengan nuansa pedesaan seperti UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto justru menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas negara. Sebagai mahasiswa, saya melihat langsung bagaimana perubahan itu terjadi pelan, tetapi pasti.

Istilah “kampus desa mendunia” yang saat ini digaungkan bukan lagi sekadar slogan. Kehadiran puluhan mahasiswa internasional dari berbagai negara menjadi bukti nyata bahwa UIN Saizu telah melampaui batas geografisnya. Dari Asia hingga Afrika, bahkan Amerika Selatan, mereka datang dengan satu tujuan yang sama: belajar dan bertumbuh di kampus ini.

Berdasarkan data terbaru, UIN Saizu kini memiliki sedikitnya 54 mahasiswa internasional yang berasal dari 18 negara di tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Para mahasiswa tersebut menempuh pendidikan di berbagai jenjang, mulai dari program sarjana hingga doktoral. Ini mencerminkan kepercayaan global terhadap kampus UIN Saizu Purwokerto.

Sebagai mahasiswa lokal, saya merasakan atmosfer yang berbeda dalam beberapa tahun terakhir. Di ruang kelas, kantin, hingga kegiatan organisasi, kini semakin mudah menjumpai mahasiswa dari latar belakang budaya yang beragam. Interaksi ini menghadirkan pengalaman belajar yang tidak bisa didapat hanya dari buku atau teori di kelas.

Kami belajar memahami cara pandang baru, berdiskusi dengan perspektif global, hingga menghargai perbedaan yang ada. Hal-hal sederhana seperti berbagi cerita tentang tradisi, bahasa, hingga kebiasaan sehari-hari menjadi jembatan yang memperkaya pengalaman akademik sekaligus sosial.

Sebagai mahasiswa, saya juga menyadari bahwa daya tarik UIN Saizu bukan hanya pada aspek akademik, tetapi juga pada lingkungannya yang nyaman dan kondusif. Suasana yang tidak terlalu hiruk-pikuk justru menciptakan ruang belajar yang lebih fokus.

Di tengah kesederhanaan itu, kampus ini mampu menghadirkan standar pendidikan yang kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu identik dengan kemegahan fisik, tetapi lebih pada komitmen untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Meski demikian, perjalanan menuju kampus berkelas dunia tentu tidak tanpa tantangan. Fasilitas internasional, layanan bahasa, hingga adaptasi budaya masih perlu terus ditingkatkan. Sebagai mahasiswa, saya berharap UIN Saizu tidak hanya menjadi tujuan belajar, tetapi juga rumah yang nyaman bagi mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.

Selain itu, penting bagi mahasiswa lokal untuk terus membuka diri. Kehadiran mahasiswa internasional seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kebanggaan, tetapi juga sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri dan daya saing global.

Bagi saya, “kampus desa mendunia” bukan hanya identitas institusi, tetapi juga semangat kolektif seluruh civitas akademika. Dari ruang-ruang kelas di Purwokerto, mimpi-mimpi besar itu sedang dibangun tentang kolaborasi, keberagaman, dan masa depan yang lebih luas.

UIN Saizu telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk mendunia. Dan sebagai mahasiswa, saya merasa menjadi bagian dari perjalanan itu perjalanan dari desa menuju dunia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.