TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Pasca isu flu burung merebak, Penjualan ayam potong di Pasar Tenguyun Tarakan Kalimantan Utara sepi. Hanya ada satu atau dua pembeli yang datang. Diakui pembeli sudah tahu ada informasi tersebut di media sosial melalui Face book dan di story WhatsApp.
Seperti disampaikan Sekar, warga Tarakan. Ia mulanya juga menerima informasi ada flu burung ditemukan. "Katanya ada flu burung di antara Pasar Gusher dan Pasar Tenguyun. Saya baca kok bisa, sempat sih ada keraguan untuk beli ayam," ucap Sekar, Kamis (23/4/2026).
Namun karena belum mendapat informasi resmi dari pihak terkait maka ia tak ingin langsung menelan informasi yang diposting tersebut.
"Karena belum pasti kan. Jadi tetap beli. Nah ini ada informasi dari Dinkes Tarakan sudah diklarifikasi ya Alhamdulillah," ungkap Sekar.
Baca juga: Dinas Ketahanan Pangan Tarakan Sebut Dua Tahun Terakhir Sampling Unggas Negatif Flu Burung
Sekar sendiri mengaku ia biasa beli ayam di Pasar Tenguyun. Biasanya ia membeli ayam potong untuk konsumsi sehari-hari. "Biasanya beli selang seling. Hari ini makan ayam, besok makan ikan. Besoknya makan tahu," ungkapnya.
Seminggu bisa sampai 3 kali membeli ayam dan memasak untuk suami dan anak-anaknya di rumah. "Diselang seling karena kadang anak di rumah inginnya makan ayam. Dibuatkan ikan goreng belum tentu habis. Doyannya senangnya makan ayam. Kadang digoreng biasa kadang crispi jadi harus selalu persiapkan ayam," lanjut Sekar.
Pembeli lainnya, Santi, ikut menyampaikan informasi flu burung ia belum sempat mengupdate informasi di media sosial hari ini ia ke Pasar Tenguyun dan normal belanja seperti biasa.
"Belum ada saya dengar. Setelah dengar ini, ya mungkin ini cuma fitnah saja ya," ujar Santi, warga Tarakan.
Ia sendiri biasa belanja di Pasar Tenguyun untuk ayam dan sembako lainnya dan sejauh ini aman saja.
Baca juga: Isu Flu Burung Meresahkan Masyarakat, Dinkes Tegaskan Tidak Pernah Ditemukan di Tarakan
"Apalagi mau lebaran pasti belanja ke sini, kebutuhan anak sekolah mau sarapan belanja ke sini," ujarnya.
Ia mengakui tak begitu terpengaruh jika ada informasi beredar di media sosial kecuali jika informasi itu dirilis oleh instansi resmi berwenang. "Ya tidak terpengaruh ya. Kalau harga ini sekarang di Rp48 ribu bersih per kg," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah