Limbah PLTU Disulap Tim SAFABA Mahasiswa UHO Kendari Jadi Material Konstruksi Kuat Ramah Lingkungan
Amelda Devi Indriyani April 23, 2026 06:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI – Limbah sekam padi, Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) yang dihasilkan dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nii Tanasa, Sulawesi Tenggara (Sultra) diolah menjadi material konstruksi seperti batako.

Inovasi tersebut dihasilkan Tim SAFABA dari Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Halu Oleo atau UHO Kendari Sultra.

Pengembangan inovasi material konstruksi ramah lingkungan itu mendapat dukungan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) oleh PT PLN (Persero) pada Desember 2025.

Hal itu merupakan bentuk apresiasi PT PLN (Persero) kepada Tim SAFABA yang telah berhasil meraih Juara 2 dalam ajang PLN Sustain Action 2025.

Sebuah kompetisi inovasi berkelanjutan yang diselenggarakan oleh PLN untuk mendorong solusi kreatif dalam menjawab tantangan lingkungan dan energi.

Dukungan PT PLN (Persero) terhadap Tim SAFABA dari UHO Kendari menjadi bukti nyata bahwa limbah industri dapat diubah menjadi solusi konstruksi masa depan yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Material inovatif ini tidak hanya menjawab permasalahan limbah industri, tetapi juga menghadirkan produk konstruksi dengan performa teknis yang kompetitif.

Baca juga: Peluang Usaha Baru, Inaplast Ajari IRT Pesisir Petoaha Kendari Olah Limbah Gabus Jadi Bantal

"Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, batako SAFABA menunjukkan kuat tekan mencapai kisaran 12–18 MPa pada umur 28 hari, melampaui standar minimum batako non-struktural dan mendekati kategori struktural ringan," ujar Tim SAFABA Project dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (23/4/2026).

Selain itu, material ini juga memiliki daya serap air yang relatif rendah serta stabilitas dimensi yang baik, sehingga layak diaplikasikan pada berbagai kebutuhan konstruksi maupun elemen interior seperti panel dekoratif dan furniture terrazzo.

“Inovasi SAFABA merupakan langkah strategis dalam mengoptimalkan pemanfaatan limbah FABA agar memiliki nilai tambah. Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang mampu mengembangkan solusi konstruksi ramah lingkungan berbasis riset,” ujar perwakilan PT PLN (Persero).

Keunggulan SAFABA terletak pada kombinasi kekuatan material, efisiensi biaya produksi, serta nilai estetika yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi seperti meja, panel dinding, hingga elemen arsitektural berbasis terrazzo.

Hal ini membuka peluang besar dalam pengembangan industri konstruksi hijau berbasis ekonomi sirkular di Indonesia.

Lebih dari sekadar inovasi material, SAFABA menjadi representasi peran generasi muda dalam menjawab tantangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri seperti yang dilakukan bersama PT PLN (Persero) diharapkan dapat terus diperkuat untuk mendorong lahirnya inovasi-inovasi serupa di masa depan.

Baca juga: Masyarakat Kolaka Olah Concrete Block dan Batako Dari Limbah Slag Nikel, Dibina Dosen UHO dan USN

Dengan dukungan berkelanjutan, Tim SAFABA optimistis dapat mengembangkan produksinya ke skala industri serta menjalin kerja sama dengan sektor konstruksi, pemerintah, hingga pelaku usaha interior.

Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga motor penggerak ekonomi hijau nasional.

Tim SAFABA juga aktif melakukan dokumentasi dan publikasi kegiatan sebagai bentuk transparansi serta edukasi kepada masyarakat luas.

Seluruh rangkaian aktivitas riset, pengembangan, dan implementasi lapangan telah dibagikan melalui akun media sosial Instagram resmi mereka, yaitu @safaba.project, sehingga dapat diakses oleh publik sebagai sarana informasi dan inspirasi inovasi berkelanjutan.(*)

(TribunnewsSultra.com/Content Writer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.