Kasus Keracunan MBG di Bengkulu Tengah, Bupati Instruksikan Satgas Investigasi
Hendrik Budiman April 23, 2026 07:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah bergerak cepat menyikapi dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sejumlah siswa.

Bupati Bengkulu Tengah, Rachmat Riyanto, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan tim satuan tugas (satgas) MBG untuk segera melakukan investigasi menyeluruh.

“Kita sudah instruksikan tim satgas MBG untuk investigasi kebenaran soal ini,” ujar Rachmat saat dihubungi TribunBengkulu.com, Kamis (23/4/2026).

Selain itu, pemerintah daerah juga meminta fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun layanan kesehatan terdekat, untuk memberikan penanganan maksimal kepada para siswa yang terdampak.

“Kita juga sudah minta pihak puskesmas atau faskes terdekat untuk melayani dan melakukan pertolongan kepada anak-anak kita yang diduga keracunan,” jelasnya.

Rachmat menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut dan meminta masyarakat tetap tenang sembari menunggu hasil investigasi resmi.

“Intinya kita sangat prihatin dengan kejadian ini dan menghimbau orang tua serta masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganannya kepada pemerintah daerah,” ungkapnya.

Baca juga: Breaking News: 7 Siswa SMPN 3 Bengkulu Tengah Diduga Keracunan MBG, Sempat Dirawat di Klinik

 

Terkait kelanjutan operasional penyedia makanan dalam program MBG, Bupati menegaskan untuk sementara masih menunggu hasil penyelidikan.

“Untuk operasionalisasi SPPG kita masih menunggu hasil investigasi,” tegasnya.

Sebelumnya, sebanyak 8 siswa di Bengkulu Tengah dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan MBG.

Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan dalam kondisi membaik.

Pemerintah daerah memastikan proses investigasi terus berjalan guna mengetahui penyebab pasti kejadian sekaligus mencegah insiden serupa terulang.

Kondisi 8 Siswa Korban Keracunan MBG

Sebanyak 8 siswa di Kabupaten Bengkulu Tengah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4/2026). 

Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah, Barti Hasibuan, mengatakan pihaknya bersama unsur pemerintah daerah telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi para korban. 

“Betul, kita sudah melakukan monitoring dan mengecek langsung di lapangan. Ada 7 orang siswa SMP 3 Bengkulu Tengah dan 1 orang siswi SDN 1 Bengkulu Tengah yang terindikasi keracunan,” Ujar Barti saat diwawancarai di klinik kesehatan. 

Ia menjelaskan, para siswa mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dari dapur SPPG, seperti mual dan muntah. 

“Setelah mereka makan, muncul gejala mual dan muntah. Pihak sekolah langsung mengantisipasi dengan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya. 

Selain itu, pihak sekolah juga segera menghentikan konsumsi makanan oleh siswa lain untuk mencegah bertambahnya korban. 

“Langsung diantisipasi agar makanan yang tersisa tidak lagi dikonsumsi oleh siswa lainnya,” tambahnya. 

Dari total 8 korban, sebanyak 3 siswa sempat mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan infus. Namun saat ini seluruhnya dilaporkan dalam kondisi membaik. 

“Alhamdulillah sekarang mungkin semua sudah pulih. Memang ada 3 orang yang harus diinfus, tapi kondisinya sudah baik,” ungkap Barti. 

Meski demikian, pihak Dinas Kesehatan masih terus melakukan observasi guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala lanjutan. 

Di sisi lain, pengawasan juga diperluas ke sekolah-sekolah lain yang menerima makanan dari sumber yang sama. Diketahui, distribusi MBG tidak hanya menyasar satu sekolah. 

“Kita sekarang sedang melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah penerima manfaat lainnya. Makanan yang sama juga didistribusikan ke SMA, SD, PAUD, dan kategori 3B,” jelasnya. 

Untuk memastikan penyebab kejadian, sampel makanan telah diambil dan akan diuji oleh BPOM. 

“Kita juga sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pengecekan ke BPOM, nanti kita lihat hasilnya seperti apa,” katanya. 

Terkait pengawasan ke depan, Barti menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang. 

“Selama ini kita sudah koordinasi dan punya satgas. Ke depan koordinasi ini akan lebih kita intensifkan lagi, lebih kita kuatkan lagi antara seluruh stakeholder,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.