Baca juga: Kasus Tambang Bengkulu Rp1,8 Triliun, Bebby Hussy Hadapi 3 Perkara dengan Total Tuntutan 8 Tahun
Sebanyak 8 siswa di Kabupaten Bengkulu Tengah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah, Barti Hasibuan, mengatakan pihaknya bersama unsur pemerintah daerah telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi para korban.
“Betul, kita sudah melakukan monitoring dan mengecek langsung di lapangan. Ada 7 orang siswa SMP 3 Bengkulu Tengah dan 1 orang siswi SDN 1 Bengkulu Tengah yang terindikasi keracunan,” Ujar Barti saat diwawancarai di klinik kesehatan.
Ia menjelaskan, para siswa mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dari dapur SPPG, seperti mual dan muntah.
“Setelah mereka makan, muncul gejala mual dan muntah. Pihak sekolah langsung mengantisipasi dengan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga segera menghentikan konsumsi makanan oleh siswa lain untuk mencegah bertambahnya korban.
“Langsung diantisipasi agar makanan yang tersisa tidak lagi dikonsumsi oleh siswa lainnya,” tambahnya.
Dari total 8 korban, sebanyak 3 siswa sempat mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan infus. Namun saat ini seluruhnya dilaporkan dalam kondisi membaik.
“Alhamdulillah sekarang mungkin semua sudah pulih. Memang ada 3 orang yang harus diinfus, tapi kondisinya sudah baik,” ungkap Barti.
Meski demikian, pihak Dinas Kesehatan masih terus melakukan observasi guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala lanjutan.
Di sisi lain, pengawasan juga diperluas ke sekolah-sekolah lain yang menerima makanan dari sumber yang sama. Diketahui, distribusi MBG tidak hanya menyasar satu sekolah.
“Kita sekarang sedang melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah penerima manfaat lainnya. Makanan yang sama juga didistribusikan ke SMA, SD, PAUD, dan kategori 3B,” jelasnya.
Untuk memastikan penyebab kejadian, sampel makanan telah diambil dan akan diuji oleh BPOM.
“Kita juga sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pengecekan ke BPOM, nanti kita lihat hasilnya seperti apa,” katanya.
Terkait pengawasan ke depan, Barti menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
“Selama ini kita sudah koordinasi dan punya satgas. Ke depan koordinasi ini akan lebih kita intensifkan lagi, lebih kita kuatkan lagi antara seluruh stakeholder,” tutupnya.