Peran Vital Pelabuhan Panjang, Jaga Pasokan dan Stabilitas Harga Pupuk
Kiki Novilia April 23, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Deru mesin alat berat dan kepulan debu putih tipis dari muatan curah menjadi pemandangan harian di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung.

Di salah satu sisi dermaga nonpetikemas, kapal raksasa pembawa pupuk tampak bersandar di pelabuhan yang menjadi tulang punggung aktivitas logistik di Bumi Ruwa Jurai.

Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan mata rantai krusial yang menentukan ketersediaan stok dan stabilitas harga pupuk di tingkat petani.

Di area dermaga, crane sibuk mencengkeram pupuk jenis Phonska dari lambung kapal, lalu menjatuhkannya ke dalam corong (hopper) yang langsung mengisi bak truk yang mengantre di bawahnya.

Rizki Ardiansyah (22), salah satu sopir truk logistik, mengungkapkan proses pengisian satu armada truk memerlukan waktu sekitar 5 hingga 10 menit.

Baca juga: 30 Ribu Bus Mudik Gratis dan Angkutan Motor ke Pelabuhan Panjang Disiapkan pada Mudik 2026

Dalam sehari, ia mampu melakukan hingga empat kali ritase pengiriman dari dermaga ke gudang penyangga di dekat pintu masuk pelabuhan.

“Kalau pupuk prosesnya cepat, dua sampai tiga hari satu kapal biasanya sudah selesai dibongkar,” ujar Rizki saat ditemui di area dermaga, Kamis (23/4/2026).

PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Non-Petikemas Cabang Panjang mencatat volume bongkar muat yang besar setiap tahunnya. Pada 2024, tercatat 4.184.397 ton komoditas curah kering, 883.923 ton curah cair, dan 714.132 ton general cargo.

Memasuki 2025, produksi curah kering menurun menjadi 3.744.719 ton, sementara curah cair meningkat menjadi 970.920 ton, dan general cargo tercatat 529.311 ton.

Branch Manager PTP Non-Petikemas Cabang Panjang, Doddy Setiawan, menjelaskan fluktuasi tersebut dipengaruhi penurunan kuota gula dan aktivitas batu bara.

Pada triwulan pertama 2026, produksi curah kering mencapai 920.464 ton, curah cair 249.548 ton, dan general cargo 178.798 ton.

“Untuk 2026 kami sangat optimistis. Target pusat untuk curah kering adalah 3,9 juta ton, dan di triwulan pertama saja kita sudah mencapai lebih dari 920 ribu ton,” ujar Doddy.

Dari berbagai komoditas, pupuk menjadi salah satu penyumbang terbesar aktivitas di pelabuhan ini. Pada 2025, sebanyak 679.491 ton pupuk dibongkar melalui Pelabuhan Panjang.

Angka tersebut berkorelasi dengan status Lampung sebagai salah satu wilayah agrikultur utama di Indonesia. Tingginya arus masuk pupuk juga sejalan dengan tingginya ekspor komoditas unggulan seperti turunan kelapa sawit berupa PKE (Palm Kernel Expeller) dan produk turunan tebu, yakni molases.

Doddy menekankan, pengiriman pupuk melalui jalur laut jauh lebih efisien dibandingkan jalur darat. Sebagai perbandingan, distribusi pupuk dari Gresik, Jawa Timur, akan membutuhkan biaya dan waktu lebih besar jika menggunakan truk lintas provinsi.

“Dengan kapal, volume angkut jauh lebih besar sehingga biaya logistik lebih murah. Harapannya, harga pupuk di tingkat petani bisa lebih terjangkau,” jelasnya.

Ia menambahkan, sinergi antara potensi sumber daya alam Lampung dan kesiapan infrastruktur logistik menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Manajemen PTP Non-Petikemas Panjang juga memperhatikan dua parameter utama, yakni Tons per Ship per Day (TSD) dan Tons per Gang per Hour (TGH). Semakin tinggi angka tersebut, semakin cepat kapal bersandar dan kembali berlayar, sehingga dapat menekan biaya antrean kapal.

Meski demikian, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tetap menjadi prioritas utama di tengah tuntutan efisiensi operasional.

“Walaupun dituntut bekerja cepat, kami tetap konsen terhadap K3. Peran strategis kami adalah menekan biaya logistik di Lampung melalui efisiensi yang aman dan sesuai regulasi,” pungkas Doddy.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.