TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan di panggung global.
Dengan kombinasi sumber daya alam yang melimpah, populasi besar, dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, negara ini diproyeksikan memainkan peran strategis dalam peta ekonomi dunia di masa depan.
CEO GHD Jim Giannopoulos, mengatakan Indonesia berpotensi menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050.
“Proyeksi tersebut bukan tanpa dasar, mengingat Indonesia memiliki fondasi kuat berupa pasar domestik yang besar serta posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional,” kata Giannopoulos saat membuka kantor di Jakarta belum lama ini.
Baca juga: Ekonomi Digital Tumbuh, Infrastruktur Daya Jadi Prioritas
Lebih jauh, Giannopoulos menyoroti adanya aspirasi kuat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
"Fokus utama terlihat pada sektor-sektor krusial seperti pangan, air, energi, dan mineral. Indonesia memiliki keunggulan komparatif di bidang ini—mulai dari kekayaan mineral seperti nikel yang penting untuk industri baterai, hingga potensi energi terbarukan seperti panas bumi dan tenaga surya," katanya dikutip, Kamis (23/4/2026).
Terkait ekspansi perusahan yang berbasis di Melbourne dan fokus pada keberlanjutan, diversitas, dan pertumbuhan strategis ini di Indonesia merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas kolaborasi di kawasan Asia Tenggara.
"Kami membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun sektor swasta," katanya.
Ditambahkan, keberhasilan operasional GHD sebelumnya di Singapura dan Filipina menjadi modal penting untuk memperkuat ekspansi ini.
Indonesia, dengan skala ekonomi dan kompleksitasnya, kata dia, menawarkan peluang yang jauh lebih besar, sekaligus tantangan yang mendorong inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Sebagai bagian dari ekspansi operasionalnya, GHD tengah menjalankan proyek percontohan kerja sama Kanada–Indonesia di Kota Jambi.
"Proyek ini berfokus pada penerapan teknologi pengukuran air canggih yang dikembangkan bersama Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi dan Canadian Commercial Corporation," katanya.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air di daerah, sekaligus memperkuat transfer teknologi antara Indonesia dan Kanada.
Selain proyek lapangan, GHD juga terlibat dalam penyusunan laporan ASEAN SAF 2050 Outlook yang membahas pengembangan rantai pasok Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia dan kawasan ASEAN.
Studi ini menjadi bagian dari kolaborasi riset antara Kanada dan negara-negara ASEAN untuk mendukung transisi energi rendah karbon, khususnya di sektor penerbangan.
Operasional GHD di Indonesia akan dipimpin oleh Phil Baker, Principal and Senior Executive Adviser dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di sektor energi dan sumber daya alam. Ia
telah menangani berbagai proyek strategis di lebih dari 20 negara, mencakup sektor minyak dan gas, pertambangan, energi transisi, hingga pengembangan bahan bakar masa depan.
“Kehadiran kantor di Jakarta memungkinkan kami bekerja lebih dekat dengan klien di Indonesia maupun investor global yang masuk ke pasar ini. Fokus kami mencakup energi, sumber daya, air, dan lingkungan,” ujar Baker.