Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah
rival al manaf April 23, 2026 09:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Di usia 62 tahun, Mujiono Prastowo masih sigap menerima panggilan darurat.

Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah, hingga tubuh yang sudah membusuk berhari-hari.

Ia adalah bagian dari kelompok relawan yang dikenal dengan nama “tim pemburu mayat”.

Nama itu terdengar menyeramkan. Namun bagi Mujiono, itu sekadar penyederhanaan.

Baca juga: BREAKING NEWS 12 Petugas Damkar Semarang Kena Prank DC Pinjol Buat Laporan Palsu Kebakaran Warung

Baca juga: Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun

"Biar cepat dikenal saja. Intinya kami ini wadah relawan untuk membantu evakuasi korban meninggal,” ujarnya saat ditemui, Kamis (23/4/2026).

Tim tersebut baru terbentuk sekitar satu tahun terakhir. Meski begitu, aktivitas yang mereka lakukan bukan hal baru. 

Mujiono menyebut, dirinya bersama sejumlah anggota sudah lama berkecimpung dalam kegiatan evakuasi, jauh sebelum nama “pemburu mayat” digunakan.

Latar belakang mereka sebagian besar berasal dari relawan komunikasi (Bankom) di Semarang yang sudah aktif sejak awal 2000-an. 

Dari sana, mereka terbiasa turun ke lapangan, membantu penanganan kejadian darurat, termasuk kecelakaan lalu lintas.

“Dari dulu memang sudah sering ikut evakuasi. Akhirnya kita bentuk tim supaya lebih terkoordinasi,” jelasnya.

Saat ini, tim tersebut memiliki sekitar 10 anggota tetap. Mereka bergerak berdasarkan laporan warga, baik melalui komunikasi langsung maupun jaringan relawan.

Kasus yang ditangani beragam. Mulai dari kecelakaan lalu lintas dengan korban luka hingga meninggal dunia, hingga penemuan jenazah yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.

“Pernah ada yang ditemukan sekitar 20 hari. Kondisinya sudah parah, sebagian tubuh sudah hancur,” kata Mujiono.

Dalam setiap penanganan, mereka tidak bekerja sendiri. Koordinasi dengan kepolisian, khususnya tim Inafis, menjadi prosedur utama.

“Kami hanya mengamankan lokasi dulu. Setelah olah TKP selesai, baru kami evakuasi jenazah sesuai SOP,” ujarnya.

Selain evakuasi jenazah, aktivitas mereka juga mencakup penanganan korban non-meninggal. Bahkan, mereka kerap membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terlantar di jalan.

“Kita mandikan dulu, dibersihkan, supaya tim medis lebih mudah menangani. Intinya membantu,” katanya.

Motivasi Mujiono terjun menjadi relawan berangkat dari pengalaman pribadi. 

Ia mulai aktif sejak usia 30 tahun, setelah istrinya mengalami kecelakaan.

Saat itu, ia mengaku kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa dan minim bantuan di lokasi.

“Saya waktu itu tidak tahu harus bagaimana. Dari situ saya berpikir, orang lain jangan sampai mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Sejak saat itu, ia terus aktif menjadi relawan hingga sekarang. Tanpa gaji, tanpa bayaran tetap.

“Saya tidak pernah menerima gaji. Tapi alhamdulillah bisa hidup, bahkan bisa punya rumah,” katanya.

Dalam satu minggu, timnya bisa menerima satu hingga dua laporan penemuan jenazah. Sementara untuk kecelakaan, jumlahnya bisa lebih sering, meski tidak semuanya berujung fatal.

“Kalau kecelakaan hampir tiap hari ada laporan,” tambahnya.

Meski dikenal dengan nama “pemburu mayat”, Mujiono menegaskan bahwa kegiatan mereka tetap berlandaskan nilai sosial.

“Yang penting kami membantu. Memanusiakan manusia,” tegasnya.

Dikesempatan yang sama, Marsudi (63), yang akrab disapa Mbah Uban, memiliki pengalaman panjang di lapangan. Ia mengaku sudah tak terhitung jumlah jenazah yang pernah ia bantu evakuasi.

Salah satu yang paling diingat adalah kejadian kecelakaan kereta di kawasan Kaligawe.

“Korban waktu itu tertabrak kereta. Kondisinya sudah hancur,” ujarnya.

Dalam proses evakuasi, ia bersama tim harus mengumpulkan bagian tubuh korban satu per satu.

“Kita ambil sedikit demi sedikit, dimasukkan ke plastik,” katanya.

Pengalaman lain yang membekas terjadi setelah proses evakuasi selesai. 

Marsudi mengaku sempat mengalami kejadian yang tidak biasa di rumahnya.

“Tiga kali rumah saya diketuk. Saya keluar tidak ada siapa-siapa,” ujarnya.

Ia mengaku sempat mencoba memastikan, namun tidak menemukan siapa pun di luar rumah.

“Sampai saya tanya, ‘mau apa?’ ya seperti ada yang bilang terima kasih,” tuturnya.

Marsudi menilai, pengalaman-pengalaman semacam itu bukan hal baru baginya. Ia menyebut, kepekaan terhadap situasi di lapangan terutama saat menangani jenazah membuatnya beberapa kali merasakan hal-hal yang sulit dijelaskan secara logika.

Selain itu, ia juga pernah mengalami kondisi fisik yang tidak biasa setelah mengevakuasi jenazah yang sudah lebih dari sepekan.

“Badan terasa berat sekali, sampai tidak bisa berdiri,” katanya.

Tak hanya itu, dalam satu kasus di wilayah Genuk, ia menyebut beberapa relawan sempat mengalami kondisi seperti kesurupan saat menangani jenazah yang diduga korban pembunuhan.

Meski demikian, pengalaman-pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia menegaskan, apa yang dilakukan tetap berangkat dari niat membantu.

“Sudah biasa di lapangan. Yang penting kami kerja sesuai tugas dengan niat membantu,” ujarnya. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.