Bagi Furky Syahroni, gunung bukan sekadar tempat mendaki atau mencapai puncak. Lebih dari itu, gunung adalah ruang belajar yang membentuk cara dia melihat hidup.
Di tengah dingin ekstrem, jalur terjal, dan risiko yang selalu mengintai, dia menemukan satu hal yang terus terbawa hingga kembali ke kehidupan sehari-hari, yakni cara berpikir yang lebih sederhana dan terarah.
"Bagi saya mendaki gunung adalah salah satu hal yang membuat rutinitas saya lebih hidup. Kita sebagai manusia punya tanggung jawab, punya purpose, dan semua rutinitas lainnya. Mendaki gunung bagi saya adalah sebagai salah satu api dalam hidup saya, yang membuat saya lebih giat setiap harinya," kata Furky saat dihubungi detikTravel beberapa waktu lalu.
Dari pendakian-pendakian di gunung tropis hingga ekspedisi gunung es di ketinggian lebih dari 6.000 meter, Furky merasakan bahwa tantangan di gunung selalu memaksa seseorang untuk fokus pada hal yang benar-benar penting. Tidak ada ruang untuk keputusan yang terburu-buru atau emosi yang tidak terkontrol.
"Sejak aktif naik gunung, bagaimana saya memandang dan memecahkan masalah jadi lebih simpel dan tajam," ujarnya.
Pengalaman berada di kondisi ekstrem membuatnya terbiasa menentukan prioritas dengan cepat. Di gunung, kesalahan kecil bisa berdampak besar, sehingga setiap keputusan harus dipertimbangkan secara efisien dan rasional.
Kebiasaan ini kemudian terbawa ke kehidupan di luar gunung-baik dalam pekerjaan, relasi, maupun saat menghadapi tekanan sehari-hari.
Menurut Furky, proses panjang menghadapi medan berat juga membentuk cara dia menakar risiko dan menerima ketidaknyamanan sebagai bagian dari perjalanan. Pengalaman panjang itu membuatnya lebih tenang dalam menghadapi situasi sulit, karena ia terbiasa berhadapan dengan kondisi yang jauh lebih ekstrem di alam terbuka.
Pengalaman paling mencekam didapatnya kala mendaki Mera Peak di Nepal dengan ketinggian 6.475 mdpl. Di sana dia menghadapi situasi terjepit harus memilih antara terus berjalan dengan risiko frostbite atau bertahan dengan ancaman Acute Mountain Sickness (AMS).
Dalam kondisi tubuh melemah dan cuaca yang tidak bersahabat, keputusan itu menjadi pertaruhan nyawa yang harus diambil tanpa pilihan benar-benar aman.
Furky memberikan pesan menohok namun menguatkan bagi perempuan di luar sana yang masih ragu atau takut untuk mulai mendaki.
"Takut itu wajar. Semua orang pernah takut memulai. Jangan tunggu merasa sempurna dulu baru berangkat. Mulai dari gunung yang sesuai kemampuan, belajar pelan-pelan, dan percaya bahwa keberanian tumbuh sambil berjalan," kata dia.
"Kadang puncak terbesar yang kita taklukkan bukan gunungnya, tapi keraguan dalam diri sendiri," Furky menegaskan.





