TRIBUNJAMBI.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan resmi menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih awal pada 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem.
Keputusan tersebut ditetapkan oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru, pada 22 April 2026 dan akan berlaku hingga 30 November 2026.
Kemarau Diprediksi Lebih Panjang dan Kering
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana, menjelaskan bahwa penetapan status siaga dilakukan meskipun sebagian wilayah masih diguyur hujan.
Langkah ini diambil berdasarkan prediksi bahwa musim kemarau tahun ini akan datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, dan memiliki tingkat kekeringan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain faktor cuaca, peningkatan jumlah titik panas (hotspot) sejak awal 2026 juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Hotspot sudah mulai terpantau sejak Januari hingga April, ini jadi indikator penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Baca juga: TB Hasanuddin Kritik Wacana Pajak Kapal di Selat Malaka, Peringatkan Risiko Friksi Kawasan
Daerah Rawan Lebih Dulu Siaga
Sejumlah wilayah di Sumsel bahkan telah lebih dulu menetapkan status siaga, seperti Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir.
Kedua daerah tersebut dikenal sebagai wilayah rawan karhutla karena memiliki lahan gambut luas yang mudah terbakar.
“Iya, di sana sudah terjadi beberapa kejadian kebakaran. Memang itu episentrum karhutla di Sumsel,” kata Iqbal.
Jambi Naikkan Status Siaga Darurat
Sementara itu sebanyak 149 desa di dua kabupaten Provinsi Jambi masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebarannya 73 desa di Kabupaten Muaro Jambi dan 76 desa di Kabupaten Batang Hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi mencatat ada 73 desa dan kelurahan di delapan kecamatan masuk zona merah karhutla, berdasarkan hasil pemetaan dan identifikasi terbaru.
"Kami terus melakukan pemetaan wilayah rawan karhutla. Dari hasil identifikasi terbaru, terdapat 73 desa dan kelurahan yang masuk zona merah,” ujar Anari Hasiholan Sitorus, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan
Penanggulangan BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (22/4).
Puluhan desa-kelurahan tersebut tersebar di delapan kecamatan, meski tingkat kerawanan tidak merata.
Kecamatan Kumpeh tercatat sebagai wilayah dengan jumlah desa rawan karhutla terbanyak, sementara Kecamatan Mestong menjadi wilayah dengan jumlah paling sedikit.
"Sebaran paling banyak berada di Kecamatan Kumpeh, yakni 16 desa dan satu kelurahan. Sementara Kecamatan Mestong tercatat enam desa,” jelasnya.
Data tersebut, Anari, tidak sekadar menjadi catatan statistik, melainkan rujukan penting dalam menentukan prioritas pencegahan, pengawasan, dan penempatan sumber daya di lapangan. Meski jumlah desa rawan berbeda-beda, seluruh wilayah di Muaro Jambi tetap memiliki potensi kebakaran.
"Bukan berarti wilayah yang jumlahnya sedikit itu aman. Semua tetap berisiko, apalagi jika sudah memasuki musim kemarau dan cuaca ekstrem," tegasnya.
Gambut Rawan
Di wilayah Muaro Jambi ada ribuan hektare lahan gambut berkedalaman 5-8 meter yang rentan terbakar. Apabila terbakar dan api mencapai lapisan dalam, maka sulit dipadamkan.
"Gambut di Muaro Jambi cukup dalam. Kalau sudah terbakar, penanganannya akan sangat sulit. Karena itu, kewaspadaan dan upaya pencegahan harus dimaksimalkan sejak awal," tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi resmi menetapkan status siaga darurat bencana karhutla seiring masuknya musim kemarau. Penetapan status itu merupakan langkah antisipatif menekan potensi kebakaran. Selain itu, Muaro Jambi memiliki hamparan lahan gambut yang luas dan sangat rawan terbakar.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Paruhuman Lubis, mengatakan status siaga darurat karhutla berlaku 15 April-15 Oktober 2026.
Penetapan tersebut berdasarkan pada prediksi cuaca dari BMKG yang menyebutkan puncak musim kemarau akan berlangsung pada Mei -September 2026.
"Berdasarkan prediksi BMKG, puncak kemarau terjadi pada Mei sampai September. Karena itu, status kita tingkatkan menjadi Siaga Darurat Karhutla," ujar Paruhuman Lubis.
Meski status siaga telah ditetapkan, BPBD Muaro Jambi belum menggelar apel siaga gabungan. Meski demikian, Lubis memastikan seluruh unsur terkait sudah mengetahui dan bersiap menghadapi potensi karhutla di wilayah tersebut.
“Apel gabungan memang belum dilaksanakan, tetapi seluruh pihak terkait sudah mengetahui penetapan status ini. Untuk apel gabungan, kemungkinan akan digelar dalam waktu dekat,” katanya.
Ancaman di Batang Hari
Sementara itu, di Kabupaten Batang Hari ada 76 desa ditetapkan sebagai wilayah rawan karhutla pada 2026. Lokasi desa itu tersebar di delapan kecamatan, antara lain Pemayung, Bajubang, Muara Bulian, Muara Tembesi, Maro Sebo Ulu, Maro Sebo Ilir, Mersam, dan Batin XXIV.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Batang Hari, Sholihin, mengatakan seluruh kecamatan di Batang Hari masuk kategori rawan. Dan delapan kecamatan itu perlu mendapat perhatian khusus.
Menurut Sholihin, 76 desa tersebut dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
“Puluhan desa memiliki potensi kebakaran cukup besar. Beberapa di antaranya Jembatan Mas, Bungku, Pasar Baru, Jelutih, hingga Kembang Paseban,” ujar Sholihin.
Data BPBD juga mencatat adanya 57 titik terdeteksi, terdiri dari 41 hotspot dan 16 firespot, dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 19,4 hektare. Sebaran titik terbanyak berada di Kecamatan Maro Sebo Ulu dengan 15 titik, sementara firespot terbanyak tercatat di Muara Bulian sebanyak tujuh titik.
Meski di beberapa wilayah jumlah titik kebakaran relatif sedikit, luas lahan yang terbakar justru cukup besar. Kondisi ini menunjukkan api dapat cepat meluas, terutama di lahan kering dan terbuka.
“Ini membuktikan bahwa kebakaran bisa berkembang cepat, khususnya di wilayah yang kondisi lahannya mudah terbakar,” tegasnya.
Sholihin menekankan faktor penyebab karhutla masih didominasi akibat ulah manusia, seperti pembakaran lahan dan sampah.
BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terlebih di tengah ancaman cuaca panas berkepanjangan.
"Kami berharap masyarakat benar-benar menghentikan praktik pembakaran lahan. Risikonya sangat besar, bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga keselamatan bersama," ujarnya.
Potensi Naik, Cuaca Ekstrem
Pemerintah Kabupaten Batang Hari secara resmi menetapkan status siaga darurat bencana karhutla mulai 14 April-31 Oktober 2026.
Penetapan status dilakukan BPBD Batang Hari setelah melalui rapat bersama Forkopimda, menyusul meningkatnya potensi kebakaran akibat kondisi cuaca ekstrem.
Sholihin, mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla yang diprediksi meningkat tahun ini.
"Status siaga darurat sudah kami tetapkan sejak 14 April dan akan berlangsung hingga 31 Oktober 2026," ujarnya.
Menurutnya, keputusan juga mempertimbangkan peringatan dari BMKG terkait potensi fenomena El Nino yang diprediksi cukup kuat tahun ini. Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dengan suhu yang lebih panas dari biasanya.
"Berdasarkan informasi BMKG, tahun ini ada potensi El Nino yang cukup kuat, sehingga dapat memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Titik Api Meningkat
Informasi dari BPBD, sejak Januari hingga 13 April 2026, telah terjadi 16 titik api dengan total luas lahan terbakar mencapai sekira 19,4 hektare. Lokasi kebakaran tersebar di seluruh kecamatan.
Sebagian besar kejadian karhutla, menurut dia, akibat aktivitas manusia, terutama pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
"Mayoritas kebakaran disebabkan oleh kelalaian masyarakat, seperti membakar sampah dan membuka lahan dengan cara dibakar," tambahnya.
Dia juga mengingatkan kondisi cuaca panas dan kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Untuk itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran dalam kondisi cuaca ekstrem.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, serta tidak membakar sampah, terutama saat cuaca panas," tuturnya.
Kondisi Merangin
Di Kabupaten Merangin, ada enam kecamatan di Kabupaten Merangin ditetapkan sebagai wilayah rawan karhutla.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Merangin, M Sahiri, mengatakan enam kecamatan yang masuk kategori rawan yakni Sungai Manau, Muara Siau, Batang Masumai, Nalo Tantan, Tabir, dan Pamenang.
“Berdasarkan informasi dari BMKG Provinsi Jambi, peralihan musim hujan ke kemarau diperkirakan berlangsung pertengahan Mei hingga September. Enam kecamatan ini memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi sehingga perlu diantisipasi lebih awal,” ujar Sahiri.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Merangin telah menyiapkan peralatan dan personel, melakukan koordinasi lintas sektor, serta merencanakan apel siaga bersama seluruh pemangku kepentingan. Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara dibakar untuk mencegah terjadinya karhutla. (zak/kus/fre)
Siapkan Modifikasi Cuaca
Ada dua skeka utama penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang disiapkan Pemerintah Provinsi Jambi. Skema tersebut meliputi operasi darat dan operasi udara secara terpadu.
Kepala BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan personel dibagi dua fokus kerja.
"Personel dibagi dua. Tim operasi darat ditempatkan di daerah rawan sambil melakukan sosialisasi langsung ke desa-desa,” ujar Bachyuni, Sabtu (11/4/2026).
Operasi udara juga disiapkan sebagai langkah strategis, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau dari darat. Operasi itu mencakup modifikasi cuaca (OMC) serta pemadaman melalui helikopter water bombing dan pesawat.
“Operasi udara ada dua. Pertama, modifikasi cuaca agar lahan gambut tidak terlalu kering. Kedua, water bombing dan pemadaman udara di lokasi yang sulit dan minim sumber air,” jelasnya.
Meski demikian, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca harus diawali dengan penetapan status siaga darurat karhutla oleh pemerintah provinsi. Setelah itu, gubernur akan mengajukan permohonan resmi ke BNPB.
Bachyuni menegaskan, operasi udara merupakan bagian dari mitigasi dini agar potensi karhutla dapat ditekan sejak awal.
Sejumlah perusahaan juga telah dilibatkan dan aktif berkoordinasi untuk membantu upaya pencegahan.
“Perusahaan sudah mulai berkomunikasi. Bahkan ada yang menanyakan langsung bentuk bantuan yang bisa diberikan, terutama untuk mendukung modifikasi cuaca di wilayah rawan seperti Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi,” ujarnya.
Dia mengatakan Muaro Jambi menjadi perhatian khusus karena kedekatannya dengan bandara, sehingga kebakaran di wilayah tersebut berpotensi menimbulkan risiko besar terhadap keselamatan penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Dari sisi pembiayaan, Bachyuni menjelaskan operasi udara seperti helikopter dan modifikasi cuaca didukung APBN, sementara operasi darat dilaksanakan melalui dukungan APBD hingga tingkat desa.
“Helikopter dan OMC dibiayai APBN. Operasi darat dilaksanakan desa dengan dukungan APBD,” katanya.
Di akhir, Bachyuni mengimbau masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta tidak membakar sampah sembarangan.
“Kita akan menghadapi cuaca panas berkepanjangan dan El Nino ekstrem. Kesadaran masyarakat sangat menentukan keberhasilan pencegahan karhutla di Jambi,” pungkasnya. (syr)