Daripada Rugi, Pedagang Makanan di Gorontalo Pilih Naikan Harga Per Porsi
Wawan Akuba April 23, 2026 10:46 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sejumlah pedagang makanan di Kota Gorontalo menyiapkan berbagai cara agar usaha mereka tetap berjalan di tengah kenaikan LPG nonsubsidi.

Seperti diketahui, per April 2026, harga isi ulang (refill) Bright Gas di Gorontalo mengalami penyesuaian, dengan Bright Gas 12 Kg mencapai Rp238.000 - Rp248.000 per tabung dan Bright Gas 5,5 Kg di kisaran Rp107.000 - Rp120.000.

Salah satu pedagang makanan di area kampus satu UNG, Ranika mengeluh kenaikan harga makanan sangat berdampak di usaha mereka.

"Berdampak sekali pak, padahal baru beberapa hari terjadi kenaikan," ungkapnya kepada Tribun Gorontlao, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Gas LPG Nonsubsidi Tembus Rp 228 Ribu hingga Gorontalo Ikut Terdampak, Berikut Harga Terbaru

Ia menyebutkan agar dirinya tidak terus merugi maka harga makanan dinaikan. Meski begitu banyak pembeli yang mengeluh atas kenaikan harga tersebut.

"Jadi makanan kami naik, meski begitu pak banyak mahasiswa yang mengeluh karena harga naik jadi kami dilematis, kalau tidak naikan harga kami akan terus merugi," bebernya.

Ia mengatakan untuk harga makanan bervariasi, untuk nasi telur dari harga Rp10 ribu naik menjadi Rp12 ribu.

Begitu juga dengan makanan lain dari harga Rp12 naik menjadi Rp14 ribu.

"Rata-rata makanan di sini saya naikan dua ribu. Kami tidak patok dengan harga tinggi karena menjaga langganan. Bisa-bisa kalau tinggi pembeli pada lari," katanya.

Ia sendiri menggunakan LPG 5,5 kg yang sering dibelinya di SPBU terdekat.

"Saya pakai LPG 5,5 pak. Mau beralih ke yang 3 Kg didapat susah. Kalau dapat ya prosedur sulit dan cepat habis," ujarnya.

Selain LPG. Ia menyebutkan bahwa sejumlah bahan pokok juga ikut naik seperti cabai, bawang merah bahkan ayam.

"Bukan hanya LPG pak. Bahan pokok sampai daging ayam itu ikut naik. Saya bawah uang Rp200 saja hanya beberapa bahan pokok yang bisa dibeli," jelasnya.

Sementara itu, Awan Bempa salah satu pedagang makanan prasmanan di depan kampus satu UNG juga mengeluhkan hal yang sama.

Di sela-sela berjualan dirinya menyebutkan bahwa dampak kenaikan LPG sendiri sangat terasa di kalangan pedagang.

"Sangat terasa pak, apalagi kalau jual makanan itu memang sangat membutuhkan LPG. Kecuali kita pakai tungku ini kan tidak," jelasnya.

Ia mengaku dengan kenaikan LPG dirinya lebih memilih menurukan porsi makanan.

"Kalau saya lebih memilih mengurangi porsi makanan ketimbang menaikan harga," ucapnya.

Hal itu dilakukannya karena mengingat target pasar adalah mahasiswa sehingga lebih memilih harga terjangkau.

"Kita jualnya ke mahasiswa jadi kalau harga naik bisa-bisa mereka tidak mau beli," ujarnya.

Untuk harga makanan di tempatnya dijual dengan harga Rp10 ribu dari awal berjualan.

"Tetap Rp10 ribu pak. Tidak berubah kalau menakikan harga pasti terasa pada jumlah pembeli," ucapnya.

Sementara itu, Icha Ibrahim salah satu mahasiswa UNG mengungkapkan bahwa sekarang harga makanan dan minuman mulai mengalami kenaiakan.

"Iya mulai naik bukan hanya makanan, minum juga seperti kopi juga mengalami kenaikan," katanya.

Olehnya dengan ada ya kenaikan tersebut ia mulai selektif memilih menu makanan dan minum yang tidak mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

"Kita masih membeli di tempat yang sering kita beli tapi mulai selektif menu apa yang sedikit murah tapi enak," katanya.

Ia juga mengaku mulai mengurangi nongrong sore maupun malam hari.

"Biasa kalau tidak ada jam kuliah pagi itu sudah nongki membeki minuman kemudian malamnya. Sehari bisa 2-3 kali. Tapi sekarang kadang sekali atau tidak sama sekali," bebernya.

Pantauan Tribun Gorontalo di lapangan sore itu pembeli di sejumlah lapak berjalan dengan normal.

Masyarakat sili berganti membeli makanan. Menjelang Magrib di depan kampus sudah banyak pedagang yang mendirikan lapak mereka.

Baik dari arah Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Nani Wartabone dipenuhi oleh pedagang kaki lima.(*/Jefri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.