Media Israel: Kapal-kapal Iran Lawan Blokade Laut AS dan Melewati Selat Hormuz
TRIBUNNEWS.COM - Surat kabar Israel, Maariv melaporkan kalau citra satelit terbaru mengungkapkan kembalinya lebih dari 30 kapal terafiliasi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) ke pelabuhan Iran.
Hal ini terjadi di tengah blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS).
Kapal-kapal ini diduga sebagai 'armada bayangan' dari IRGC Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengkonfirmasi kalau mereka memerintahkan 29 kapal untuk kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari embargo AS terhadap Iran.
Baca juga: Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak
Pada saat yang sama CENTCOM juga membantah laporan media kalau beberapa kapal, termasuk Hero II, Heidi, dan Dorina, telah menerobos blokade tersebut.
Sumber militer AS menjelaskan kalau kedua kapal tanker, Hero 2 dan Hedi, yang mengibarkan bendera Iran, saat ini berlabuh di pelabuhan Chabahar di Iran setelah dicegat oleh pasukan AS awal pekan ini.
"Sementara sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker "Dorina" di Samudra Hindia setelah upaya sebelumnya untuk menerobos blokade," kata sumber tersebut.
CENTCOM juga menegaskan bahwa pasukan AS dikerahkan di seluruh dunia dan mengelola serta menerapkan blokade di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya.
Citra dari program Copernicus Eropa dan badan intelijen maritim VORTEXA mengungkapkan aktivitas maritim yang intens di Selat Hormuz, termasuk sejumlah besar kapal serang cepat Angkatan Laut Iran yang kembali ke pantai setelah berpatroli di selat tersebut, serta kapal tanker minyak yang bermuatan jutaan barel yang terparkir di area tunggu dekat jalur air, dan pergerakan kapal-kapal kecil di daerah dangkal.
Para analis militer mengatakan bahwa waktu kembalinya kapal-kapal tersebut bertepatan dengan peningkatan eskalasi serangan dari Iran yang terbatas dalam beberapa hari terakhir.
Esklasi Iran ini mencakup serangan terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut, sebelum Teheran mengumumkan gencatan senjata sementara melalui mediasi internasional.
Di bidang diplomasi, terdapat tanda-tanda yang semakin kuat mengenai babak baru pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimediasi oleh Pakistan, di mana Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Post bahwa pembicaraan baru dapat berlangsung paling cepat Jumat depan.
Ketika ditanya tentang kemungkinan terobosan, Trump menjawab melalui pesan teks: "Mungkin saja."
Namun, para pejabat AS menekankan bahwa perpanjangan gencatan senjata apa pun akan bersifat sementara.
Selat Hormuz memiliki kepentingan strategis yang sangat besar, karena sekitar 30 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melewatinya setiap hari.
Selat ini hanya memiliki lebar 39 kilometer pada titik tersempitnya, sehingga rentan terhadap operasi militer apa pun, dan gangguan navigasi di dalamnya dapat menyebabkan lonjakan harga minyak secara langsung dan dampak ekonomi global.