TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar kapal yang melewati Selat Malaka dipajaki mendapat penolakan luas dari negara tetangga.
Meski baru sebatas wacana dan disampaikan dengan nada 'tidak serius' namun Malaysia dan Singapura langsung bereaksi keras.
Gagasan ini mengacu pada skema yang tengah dipertimbangkan Iran di Selat Hormuz yakni memajaki semua kapal yang lewat wilayah itu.
"Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan? Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang," ujar Purbaya dalam acara Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026) kemarin.
Baca juga: Malaysia dan Singapura Tolak Usul Purbaya Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka
Selat Malaka dikelola secara kolektif oleh tiga negara pesisir yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura, berdasarkan konvensi hukum laut internasional UNCLOS.
Meskipun sering menjadi jalur transit perdagangan internasional, kedaulatan perairan dan tanggung jawab keamanan ada pada ketiga negara tersebut.
Sesuai UNCLOS Pasal 37-38, kapal asing diperbolehkan melintasi selat ini dalam kerangka hak lintas transit yang aman dan diakui secara internasional.
Selat Malaka, jalur air yang menghubungkan Laut Andaman (Samudra Hindia) dan Laut Cina Selatan (Samudra Pasifik).
Selat ini membentang di antara pulau Indonesia yaitu Laut Malaka dan Laut Cina Selatan.
Selat ini berbatasan dengan Sumatra di sebelah barat dan Malaysia bagian barat serta Thailand bagian selatan di sebelah timur, dengan luas sekitar 65.000 kilometer persegi.
Sebagai penghubung antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan, Selat Malaka adalah jalur laut terpendek antara India dan Cina dan karenanya merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
"Selat Malaka sangat krusial karena merupakan jalur pelayaran terpendek dan paling efisien yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, sehingga menjadikannya rute yang tak tergantikan bagi perdagangan antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur," ujar Azifah Astrina, kandidat doktor di University of Illinois Urbana‑Champaign, AS, sekaligus pakar kawasan yang menulis kajian tentang insiden maritim di Selat Malaka seperti dikutip dari BBC Indonesia.
"Selat ini terhubung langsung dengan Laut China Selatan, yang dilalui sekitar sepertiga dari total perdagangan global," tambahnya.
Titik tersempit Selat Malaka, di sekitar Selat Phillips dekat Singapura, hanya memiliki lebar sekitar 2,8 kilometer.
Menurut laporan terbaru Badan Informasi Energi AS (US Energy Information Administration/EIA), sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka pada paruh pertama 2025—setara dengan sekitar 29 persen dari total perdagangan minyak global melalui laut.
Pada periode yang sama, jalur perairan ini juga menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari.
Gokcay Balci, dosen transportasi dan logistik angkutan berkelanjutan di University of Leeds, Inggris, mengatakan bahwa jalur perairan ini juga merupakan rute utama bagi pengiriman "barang elektronik, barang konsumsi, barang industri, mesin, dan mobil".
"Sekitar 25 persen perdagangan mobil dunia melintas melalui selat ini. Kargo curah kering, seperti gandum dan kedelai, juga melewati Selat Malaka," ujarnya.
Balci menambahkan jika menggabungkan faktor geografis, ketergantungan energi, volume barang, serta keberagaman jenis muatan, Selat Malaka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Selat Hormuz.
"Hormuz memang sangat penting bagi perdagangan global, namun tidak berperan sebesar Selat Malaka sebagai pusat transshipment. Perannya melampaui sektor energi dan mencakup spektrum barang yang jauh lebih luas."
"Bisa dikatakan bahwa Selat Malaka merupakan salah satu arteri utama perekonomian global," tambah Astrina.
Singapura, salah satu pelabuhan terpenting di dunia, terletak di ujung selatan selat tersebut.
Singapura termasuk yang menolak keras usul Purbaya agar kapal yang lewat Selat Malaka dikenakan pajak.
Selain kapal-kapal lain, selat ini juga memungkinkan jalur bagi kapal tanker minyak raksasa yang berlayar antara ladang minyak Timur Tengah dan pelabuhan-pelabuhan di Jepang dan tempat lain di Asia Timur .
The Straits Times menulis lebih dari 200 kapal – termasuk kapal kontainer, kapal tanker minyak, dan kapal pengangkut barang curah – melintasi Selat Malaka setiap hari.
Atau dengan kata lain lebih dari 90.000 kapal per tahun melewati Selat Malaka atau sekitar seperempat dari barang dagangan global.
Jumlah ini kira-kira dua kali lipat jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz.
Selat Malaka jauh lebih sempit daripada Selat Hormuz, menyempit hingga hanya 2,7 km di titik tersempitnya dekat Singapura, dengan kedalaman rata-rata sekitar 25 m.
Sumber: Straits Times/BBC Indonesia/Tribunnews.com