Oleh: Amir Muhiddin
Sekretaris Devisi Politik Pemerintahan ICMI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Iran memang luar biasa, bisa berkata “tidak” di tengah ancaman bertubi-tubi dari Amerika Serikat, akan membom berbagai pasilitas Iran jika gagal dalam perundingan tahap kedua.
Sekali lagi Iran mengatakan tidak, dan dia buktikan itu dengan tidak mengirim utusannya ke Pakistan sampai hari berakhirnya kesepakatan gencatan senjata Rabu malam, 22 April 2026 lalu.
Sebaliknya, Donald Trump dilaporkan telah memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan.
Alasannya guna menghindari eskalasi konflik lebih lanjut, padahal dia takut karena ternyata Iran melawan, bahkan juru bicara Markas Pusat Khatam Anbiya, Ebrahim Zoplfhagari mengatakian bahwa Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap melancarkan serangan balasan jika AS kembali melakukan agresi.
Seperti perundingan pertama yang dilaksanakan di Islamabat 6 Februari 2026 lalu, rencana perundingan tahap kedua pun dipredikasi mengalami kegagalan, salah satu penyebabnya karena Donald Trump dimata pemimpin Iran tidak punya kepercayaan lagi, tidak bisa dipegang kata dan ucapannya, bahkan di dalam negerinya pun disebut sebagai munafik.
Contoh terakhir sebagaimana dikemukakan oleh Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, bahwa AS sedang melakukan “permainan menyalahkan” (blame game) dan tidak menunjukkan iktikad baik karena tetap melakukan serangan atau tekanan selama proses diplomasi berlangsung.
Seperti diketahui bahwa di tengah gencatan senjata, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka di Selat Hormuz, Iran menganggap ini sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Iran menuntut blokade tersebut dicabut sebelum perundingan dilanjutkan.
Bukan hanya itu, Iran juga menolak ke Islamabad karena tuntutan yang diajukan Washington tidak realistis dan telah melanggar kesepakatan yang sedang berjalan.
Media resmi Iran IRNA, menyebutkan bahwa AS mengajukan permintaan yang “berlebihan, tidak logis, dan tidak realistis” terutama terkait program nuklir dan rudal Iran.
Donald Trump kini pusing tujuh keliling sebab semua sudah dia lakukan agar Iran tunduk dan mengikuti keinginan AS.
Di tengah kebingungan itu, Trump juga dihadapkan pada masalah dalam negerinya, dimana sebagian besar rakyatnya bersuara agar perang dihentikan, rakyat AS sangat merasakan akibat dari perang itu, lalu semakin hari semakin sadar bahwa perang tidak jelas orientasinya, untuk apa dan untuk siapa.
Meski demikian Trump tetap jalan, seperti pepatah, “Biar Anjing Menggonggong Kafilah tetap berlalu” Oleh sebab itu banyak pengamat mengatakan bahwa Trump telah menghianati rakyatnya.
Padahal suara rakyat adalah suara Tuhan, begitu tagline Golkar di Indonesia.
Narasi mengenai Donald Trump yang dianggap “mengkhianati” rakyatnya dalam konteks perang Amerika-Iran tahun 2026 berkaitan erat dengan gelombang protes besar di Amerika Serikat.
Sejumlah laporan dan perkembangan terbaru hingga April 2026 menyebut bahwa Jutaan rakyat Amerika Serikat melakukan protes besar-besaran (seperti aksi “No Kings”) di berbagai kota seperti New York dan Los Angeles.
Mereka mendesak Trump menghentikan agresi ke Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Bukan hanya dalam negeri, di mata internasional, AS mengalamai degradasi politik sehingga nyaris terisolasi dan dikepung oleh musuh bahkan sekutunya sendiri.
Sejumlah negara Eropa dan sekutu utama AS secara terbuka menyatakan menolak keterlibatan militer dalam konflik terbaru di Timur Tengah, khususnya terkait perang melawan Iran yang berlangsung sejak Maret-April 2026.
Spanyol adalah negara yang paling tegas, menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam konflik dan melarang penggunaan pangkalan militer bersama (seperti Stasiun Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Udara Moron) untuk tujuan perang.
Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut perang itu ilegal dan melanggar hukum internasional.
Prancis juga menolak memberi izin bagi pesawat AS pembawa pasokan militer untuk melintasi wilayah udaranya dan menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz sebagai bagian dari misi pimpinan AS.
Presiden Emmanuel Macron menyebut pentingnya deeskalasi melalui jalur diplomatik.
Jerman, salah satu yang memiliki populasi Yahudi terbesar di dunia, justru menyebut bahwa tindakan militer AS adalah sebuah “kesalahan politik” dan menolak berpartisipasi dalam operasi di Selat Hormuz, alasannya karena misi tersebut bukan merupakan mandat NATO.
Hal yang sama dilakukan oleh Italia, negara ini pun menolak memberikan izin mendarat bagi pembom AS di pangkalan udara Sigonella di Sisilia untuk operasi terkait Iran dan menyatakan tidak akan terlibat dalam aksi militer di kawasan itu.
Inggris, yang selama ini menjadi sekutu setia AS dan tetap menjalin diskusi teknis, namun Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak ingin ditarik ke dalam “perang orang lain” dan menekankan bahwa operasi tersebut bukan misi NATO.
Belanda justru memilih fokus pada keamanan navigasi daripada konfrontasi bersenjata.
Petinggi Belanda ragu akan efektivitas operasi militer.
Sementara itu Swiss dan Austria yang selama ini disebut sebagai negara netral, keduanya secara ketat menolak semua permintaan izin melintas (overflight) terkait konflik.
Swiss bahkan menangguhkan ekspor senjata ke AS selama kampanye militer terhadap Iran berlangsung.
Kebijakan politik yang disampaikan oleh para petinggi sekutu AS di Eropa memberi indikasi kuat bahwa AS, bukan saja tidak mendapatkan dukungan akan tetapi juga menandai bahwa Donald Trump bukanlah raja yang harus ditaati dan tunduk karena titahnya, Ini bukan monackhi absolud.
Kata demonstran di AS bahwa “No Kings”.
Inilah yang kemudian menjadi thema yang digaungkan oleh jutaan rakyat Amerika Serikat yang melakukan protes besar-besaran di berbagai kota seperti New York dan Los Angeles.
Mereka mendesak Trump menghentikan agresi ke Iran.
Kita berharap semoga Donald Trump semakin sehat, semakin waras dan rasional sehingga dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh masyarakat dunia akibat ulahnya.
Semoga Allah SWT memberi rahmat dan rahimnya sehingga damai cepat datang dan perang segera berakhir. Amin.(*)