Momen Haru di Asrama Haji Surabaya, Warga Probolinggo Tangis Pecah di Balik Pagar
Cak Sur April 24, 2026 12:32 AM

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Tangis haru pecah di pagar utama Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, saat puluhan warga mengantar jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim).

Momen emosional itu terjadi pada Selasa (21/4/2026) sore. Warga bergantian menyalami jemaah dari balik pagar besi, memanfaatkan celah sempit yang hanya cukup untuk menjulurkan tangan.

Di tengah keterbatasan ruang, suasana tetap terasa hangat. Warga dan jemaah saling berjabat tangan sambil menitikkan air mata.

"Semoga selamat ya Bu Hajjah," ucap salah satu warga lirih.

Salaman dari Balik Pagar, Tradisi Sarat Makna

Meski terpisah pagar, momen tersebut tak mengurangi makna kebersamaan. Warga tetap antusias bersalaman dan memanjatkan doa.

Bahkan, tidak hanya keluarga, banyak tetangga turut datang dengan menyewa bus dari Probolinggo.

Perjalanan sekitar 3 jam ditempuh demi bertemu langsung dengan para jemaah. Tradisi ini telah berlangsung lama dan terus terjaga setiap musim haji, khususnya bagi masyarakat dari wilayah Tapal Kuda seperti Probolinggo, Pasuruan hingga Madura.

Poin Penting Tradisi Ini:

  • Warga datang berombongan dari kampung halaman
  • Bersalaman diyakini membawa berkah
  • Jemaah haji diminta mendoakan keluarga dan tetangga
  • Menjadi tradisi turun-temurun setiap musim haji

"Kami senang bisa didoakan Pak Haji. Insya Allah maqbul. Mudah-mudahan kami bisa menyusul ke Makkah," harap warga lainnya.

Antusiasme Tinggi, Petugas Lakukan Pengamanan

Menjelang sore, jumlah warga yang memadati pagar Asrama Haji semakin meningkat. Petugas pun terus melakukan pengawasan dan memberikan imbauan.

Melalui pengeras suara, warga diminta tidak bersandar di pagar demi menghindari risiko kecelakaan.

"Jangan ada yang sandar di pagar. Kalau sampai ambruk nanti bisa celaka semua. Jemaah haji juga bisa tidak jadi berangkat ke Tanah Suci," teriak petugas.

Setelah diimbau, warga mulai tertib mengantre dan bergantian bersalaman dari balik pagar.

Kisah Suhairi, Jemaah dari Gili Ketapang

Salah satu jemaah yang menjadi perhatian adalah Suhairi, warga Kepulauan Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo. Ia berangkat haji bersama istri dan anaknya.

Kehadiran Suhairi disambut hangat oleh kerabat dan tetangga yang datang langsung dari kampung halaman.

Usai menerima doa, warga tampak mengangkat tangan dan mengusap wajah sebagai tanda mengamini doa yang dipanjatkan.

Fenomena yang Terus Berulang Setiap Tahun

Petugas haji Embarkasi Surabaya mengakui, fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, warga dari daerah Tapal Kuda dan Madura selalu datang untuk memberikan dukungan dan doa.

Tradisi tersebut, mencerminkan kuatnya nilai sosial dan spiritual di tengah masyarakat. Menunaikan ibadah haji bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga kebanggaan bersama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.