SURYA.CO.ID SURABAYA - Pemerhati sosial Ristien Yuendrieni mengajak masyarakat lebih cermat saat bergabung live shopping di platform Tiktok atau shoppe. Jika tidak waspada, para emak-emak terutama yang hobi shopping bisa terjebak "hipnotis".
Live shopping di e-commerce itu diakui menjadi komunikasi pemasaran masa depan yang efektif. Selain semua bisa mengakses karena cukup lewat smartphone HP, penyajiannya juga menarik.
Ristien yang saat ini menempuh pendidikan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie itu membedah di balik maraknya fenomena Live Shopping. "Semua harus cermat bergabung di live Tiktok atau Shopee," kata Ristien kepada SURYA.CO.ID Kamis (23/4/2026).
Dia menyebut setiap kali live sang host selalu menyebut, “Keranjang kuningnya ya, Kak… tinggal sedikit!”. Diakui kalimat ini mungkin terdengar biasa.
Namun bagi jutaan pengguna di Indonesia, ucapan itu sudah menjadi semacam mantra. Di layar ponsel, melalui fitur live shopping di TikTok dan Shopee, belanja tidak lagi sekadar memilih barang.
Baca juga: Menkeu Purbaya Live TikTok Bareng Sang Anak Yudha, Penonton Tembus 50 Ribu Orang dan Banjir Saweran
Ristien menyebut bahwa cara belanja live itu menjadi pengalaman yang cepat, riuh, dan terasa dekat seolah-olah kita sedang dilayani oleh teman sendiri.
Pemerhati fenomena sosial asal Kediri itu menyebut bahwa Indonesia disebut sebagai salah satu pasar live commerce paling aktif.
Bagi pelaku usaha, UMKM, live shopping bukan lagi pelengkap melainkan tulang punggung penjualan. Produk yang sebelumnya sulit bersaing di etalase digital, kini bisa laku dalam hitungan menit lewat siaran langsung.
"Namun di balik peluang itu, ada perubahan cara kita berbelanja yang jarang disadari.
Host tampil hangat, komunikatif dan responsif. Nama kita disebut, komentar kita dibaca, bahkan candaan terasa personal. Ini harus dicermati," urainya
Baca juga: Awal Mula Warga Sampang Mampu Swadaya Perbaiki Jalan dari Hasil Live TikTok, Terkumpul Rp 125 Juta
Dalam beberapa detik, batas antara penjual dan pembeli seolah menghilang. Yang terjadi bukan sekadar transaksi, tetapi relasi atau setidaknya sesuatu yang terasa seperti relasi.
Ristien menyebut dalam kajian komunikasi, kedekatan semacam ini dikenal sebagai interaksi parasosial, konsep yang diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl.
Audiens dapat merasa dekat secara emosional dengan figur di media. Meskipun hubungan tersebut tidak benar-benar berlangsung secara timbal balik.
Di sinilah letak persoalannya. Kedekatan dalam live shopping bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Ia dirancang. Platform mendorong interaksi selama mungkin, karena semakin lama penonton bertahan, semakin besar peluang transaksi.
Tidak heran jika banyak keputusan pembelian terjadi secara spontan. Diskon “khusus live”, stok yang disebut hampir habis, hingga hitungan mundur yang terus diulang menciptakan tekanan halus.
Tanpa sadar, konsumen tidak lagi semata mempertimbangkan kebutuhan, tetapi merespons situasi. Yang dibeli bukan hanya barang, melainkan perasaan takut kehabisan, ingin ikut ramai, atau sekadar tidak ingin tertinggal.
Data dari We Are Social dan DataReportal menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk yang paling aktif mengonsumsi konten video dan live streaming.
Dengan waktu penggunaan internet yang tinggi, ruang digital bukan lagi pelengkap, melainkan ruang utama aktivitas sehari-hari.
Di situlah live shopping bekerja paling efektif di tempat perhatian kita paling lama berada. Bagi pelaku usaha, ini tentu kabar baik.
Live shopping membuka akses, memperluas jangkauan, dan memberi peluang bersaing yang lebih adil. Namun bagi konsumen situasinya tidak sesederhana itu.
"Ada mekanisme yang bekerja di balik layar mengatur ritme, membangun emosi dan mengarahkan keputusan tanpa terasa memaksa," kata Ristien mengingatkan.
Belanja, yang dulu identik dengan pertimbangan, kini semakin dekat dengan impuls. Dalam perspektif komunikasi persuasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui Elaboration Likelihood Model yang dikembangkan oleh Richard E Petty dan John T Cacioppo.
Teori ini menunjukkan bahwa dalam situasi yang emosional dan serba cepat, seseorang cenderung mengambil keputusan melalui jalur cepat (peripheral route), bukan melalui pertimbangan rasional yang mendalam.
Live shopping mungkin adalah masa depan perdagangan digital. Ia cepat, efisien dan menghibur. Namun di balik layar yang tampak akrab itu, ada sistem yang bekerja dengan sangat terencana.
Perlu langkah tepat agar tidak kalap saat Live Shopping. Menikmatinya tanpa berujung boros. Berikut caranya:
1. Tunda keputusan beberapa menit
Beri jeda 5–10 menit sebelum checkout untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
2. Tentukan budget sebelum menonton
Dengan batas anggaran, kamu memiliki kendali saat tergoda promo.
3. Jangan mudah terpancing kata “terbatas”. Strategi kelangkaan sering digunakan untuk mendorong pembelian cepat.
4. Fokus pada kebutuhan, bukan suasana
Tanyakan: “Apakah saya tetap membeli ini jika tidak sedang live?”
5. Hindari menonton saat sedang bosan atau emosional. Kondisi emosional dapat mempercepat keputusan impulsif.