TRIBUNNEWS.COM - Iranian Red Crescent Society (IRCS) atau Palang Merah Iran mengeluarkan peringatan keras terkait penyitaan kapal dagang berbendera Iran, Touska, oleh militer Amerika Serikat di Teluk Oman.
Kapal tersebut dilaporkan membawa bahan baku kritis yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi perlengkapan medis bagi pasien cuci darah atau dialisis di Iran.
Dalam pernyataan IRSS seperti dikutip Press TV, gangguan terhadap pengiriman ini merupakan ancaman langsung terhadap nyawa ribuan pasien ginjal.
Baca juga: Bush, Obama, Biden Tolak Rencana Perang Melawan Iran dari Netanyahu, Hanya Trump yang Setuju
Bahan baku tersebut merupakan milik Saha Medical Equipment Company, sebuah perusahaan di bawah naungan Palang Merah Iran yang memproduksi peralatan medis habis pakai.
"Setiap gangguan pada pasokan barang-barang penting ini dapat secara langsung mengancam kesehatan dan nyawa pasien yang membutuhkan layanan dialisis," tegas organisasi tersebut dalam pernyataan resminya, Kamis (23/4/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengutuk keras tindakan militer AS yang disebutnya sebagai aksi pembajakan dan terorisme laut.
Melalui unggahan di media sosial X, Araghchi menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran adalah bentuk pelanggaran gencatan senjata dan merupakan tindakan perang.
"Menyerang kapal komersial dan menyandera krunya adalah pelanggaran yang jauh lebih serius. Iran tahu betul bagaimana menghadapi pembatasan dan akan berdiri teguh melawan tindakan koersif," ujar Araghchi, seperti dikutip WANA News Agency.
Kementerian Luar Negeri Iran menambahkan bahwa insiden yang terjadi pada Minggu malam tersebut melibatkan intimidasi terhadap kru kapal dan keluarga mereka yang berada di atas kapal.
Teheran kini telah mengajukan nota protes resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk menuntut tindakan tegas dunia internasional.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis rekaman yang menunjukkan pasukan mereka turun dari helikopter untuk menyita kapal Touska.
Presiden AS Donald Trump, melalui akun Truth Social, mengonfirmasi bahwa pasukan AS melepaskan tembakan dan menyita kapal tersebut setelah dilaporkan menolak mematuhi arahan blokade laut yang dimulai sejak 13 April.
CENTCOM menyatakan telah mengarahkan setidaknya 27 kapal komersial untuk berbalik arah sejak blokade pelabuhan Iran diberlakukan sebagai bagian dari eskalasi konflik yang memanas sejak akhir Februari lalu.
Meski militer Iran sempat melancarkan serangan drone balasan terhadap aset militer AS pasca-insiden tersebut, Teheran menyatakan telah menahan diri dari serangan yang lebih besar demi keselamatan keluarga pelaut yang ada di atas kapal.
Namun, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran akan membalas aksi "pembajakan bersenjata" tersebut pada waktu yang tepat.