Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.521, Zelenskyy Sambut Rencana Pertukaran Tawanan
Nanda Lusiana Saputri April 24, 2026 10:22 AM

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.521 pada Jumat (24/4/2026).

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan, jalur pertukaran antara Ukraina dan Rusia terus berlanjut, dan pertukaran tahanan baru sedang direncanakan.

"Pembicaraan kami dengan kelompok Amerika terus berlanjut. Sejauh ini, hanya melalui telepon atau daring. Ada pertukaran informasi, dan jalur ini terus berjalan," kata Zelenskyy kepada wartawan, Kamis (23/4/2026).

"Ini sangat penting bagi Ukraina. Anda telah melihat berapa banyak orang yang telah kami kembalikan baru-baru ini. Sekarang kami menunggu pertukaran informasi lainnya. Semoga semuanya akan berjalan lancar," lanjutnya.

Zelensky juga mengomentari kemungkinan kunjungan perwakilan Presiden AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Kyiv.

"Ya, kami mengharapkan kedatangan mereka. Saya pikir mereka akan datang. Nah, bagi kami saat ini perang di Ukraina adalah prioritas utama. Bagi Amerika, perang di Iran adalah prioritas utama. Tetapi Ukraina juga termasuk di antara topik prioritas. Kami telah membahas ini dengan tim negosiasi. Kami menantikan pertemuan tersebut," katanya.

Pertukaran tawanan antara Ukraina dan Rusia terus berlangsung sejak awal invasi skala penuh, dengan jumlah warga yang dipulangkan terus meningkat.

Pada malam Paskah, 11 April, sebanyak 175 pejuang dan tujuh warga sipil Ukraina berhasil dibebaskan. Sehari kemudian, Kepala Kantor Kepresidenan, Kyrylo Budanov, menyatakan pertukaran berikutnya masih dipersiapkan.

Presiden Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengungkapkan Ukraina telah memulangkan 5.857 warga melalui pertukaran serta lebih dari 550 orang melalui jalur lain. Pada 3 Agustus 2025, kedua pihak juga menyepakati pertukaran hingga 1.200 orang.

Sejumlah pertukaran penting terus terjadi, termasuk 84 orang pada 14 Agustus, pertukaran ke-68 pada 24 Agustus, serta ke-69 pada 2 Oktober 2025 yang melibatkan ratusan personel militer dan sipil.

Baca juga: 6 Pesawat Militer Kapasitas Muatan Terbesar di Dunia: Buatan Rusia, Bisa Angkut Tank dan Helikopter

Memasuki 2026, pertukaran berlanjut dengan 157 orang pada 5 Februari, sekitar 200 orang pada 5 Maret, dan 300 tentara serta dua warga sipil pada 6 Maret. Pada hari yang sama, Rusia juga menerima kembali 300 tentaranya melalui Belarus.

Secara keseluruhan, rangkaian ini menunjukkan meski konflik masih berlangsung, kedua pihak tetap menjaga jalur komunikasi untuk memulangkan warga masing-masing.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara resmi memasuki fase konflik terbuka pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer dalam skala besar. Namun, ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak runtuhnya Uni Soviet yang diikuti dengan kemerdekaan Ukraina.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin kedekatan dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang oleh Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan strategisnya di kawasan.

Situasi memanas sejak peristiwa Revolusi Maidan pada 2014, yang berujung pada jatuhnya pemimpin Ukraina yang pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok wilayah Krimea, disusul konflik bersenjata di kawasan Donbas antara pemerintah Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi yang dimediasi oleh Prancis sempat dilakukan, namun tidak berjalan sesuai kesepakatan. Memasuki 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer dengan dalih melindungi warga berbahasa Rusia serta mencegah ekspansi NATO, yang kemudian menuai kecaman luas dari berbagai negara.

Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia serta meningkatkan dukungan kepada Ukraina, baik dalam bentuk bantuan militer maupun finansial. Hingga kini, konflik tersebut masih berlangsung.

Di sisi lain, upaya Amerika Serikat untuk memediasi perundingan antara kedua pihak menghadapi kendala setelah AS bersama Israel melancarkan agresi terhadap Iran pada 28 Februari.

Ketegangan yang berkepanjangan antara AS-Israel dan Iran turut memengaruhi jalannya diplomasi Rusia-Ukraina.

Dalam situasi tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak AS agar tetap melanjutkan upaya perundingan.

Ukraina telah meminta Turki untuk menghidupkan kembali negosiasi antara Rusia dan Ukraina, sementara Kremlin menegaskan Putin hanya akan bertemu Zelenskyy jika ada kesekapatan untuk mengakhiri perang.

Berikut ini perkembangan perang Rusia dan Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber:

  • Kyiv akan Kembangkan Teknologi yang Mengejutkan Rusia

Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, mengungkapkan bahwa negaranya tengah membuat kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi militer, khususnya integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem drone. 

Ia menyebut inovasi ini berpotensi menjadi “kejutan” bagi Rusia dalam waktu dekat.

Dalam Forum Keamanan Kyiv, Budanov menilai penggunaan drone saat ini telah mencapai batas jika hanya mengandalkan jumlah. 

“Peningkatan kuantitas tidak lagi menyelesaikan masalah secara mendasar,” ujarnya, Kamis (23/4/2026). 

Ia menegaskan bahwa tahap berikutnya adalah pengembangan sistem otonom berbasis AI yang mampu mengidentifikasi target dan bermanuver secara mandiri.

Selain aspek teknologi, Budanov menekankan pentingnya kekuatan militer dan persatuan nasional dalam menghadapi konflik. 

“Untuk meraih kesuksesan dalam negosiasi, Ukraina harus kuat di medan perang dan bersatu di dalam negeri,” katanya, seraya menegaskan bahwa Ukraina tidak akan mengakui kehilangan wilayah.

Ia juga menyoroti dampak sanksi energi terhadap Rusia yang dinilai tidak hanya melemahkan secara finansial, tetapi juga merusak reputasi globalnya. 

“Dunia melihat bahwa Rusia bukan lagi pemasok yang dapat diandalkan,” ungkapnya.

Sebagai tambahan, Budanov menyebut industri pertahanan Ukraina masih terbatas untuk ekspor, namun tetap membuka peluang penjualan produk surplus, termasuk drone angkatan laut yang dinilai efektif dalam operasi militer, lapor Suspilne.

  • Trump: Pangeran Harry Tak Berbicara Atas Nama Kerajaan Inggris

Donald Trump mengatakan bahwa Duke of Sussex “tidak berbicara atas nama Inggris” setelah Pangeran Harry meminta AS untuk menghormati kewajibannya dalam konflik Ukraina.

“Saya pikir saya lebih berbicara atas nama Inggris daripada Pangeran Harry … Tapi saya sangat menghargai nasihatnya,” kata Trump, menanggapi pidato panjang dan penuh semangat sang duke di Forum Keamanan Kyiv pada hari Kamis.

Harry, seorang mantan prajurit, tidak mengklaim berbicara atas nama Inggris.

Harry mengatakan bahwa dia tidak berada di forum tersebut sebagai politisi tetapi sebagai “seorang prajurit yang memahami pengabdian” dan seorang “humanitarian”.

“Amerika Serikat memiliki peran unik dalam kisah ini. Bukan hanya karena kekuatannya, tetapi karena ketika Ukraina melepaskan senjata nuklir, Amerika adalah bagian dari jaminan bahwa kedaulatan dan perbatasan Ukraina akan dihormati. Ini adalah momen bagi kepemimpinan Amerika, momen bagi Amerika, untuk menunjukkan bahwa mereka dapat menghormati kewajiban perjanjian internasionalnya – bukan karena amal, tetapi karena peran abadi mereka sendiri dalam keamanan global dan stabilitas strategis," kata Harry, dikutip dari The Guardian.

  • Pejabat Ukraina Ceritakan Eksperimen Bersejarah

Seorang anggota parlemen Ukraina, Marian Zablotskiy, menceritakan bagaimana ia menerbangkan pesawat nirawak pencegat dari jarak ribuan kilometer, menyoroti efektivitas teknologi Ukraina. 

Marian Zablotskiy mengatakan itu adalah sebuah eksperimen bersejarah bagi Ukraina.

“Sebuah ksperimen bersejarah… saya menerbangkan pesawat nirawak pencegat FPV pertama dari kantor saya, kemudian dari tepat di depan perbatasan negara, dan kemudian dari suatu tempat sekitar 2.000 km jauhnya dari pesawat nirawak itu sendiri – dari luar negeri. Saya menganggap terobosan ini sebagai faktor penentu dalam menghentikan serangan Rusia," jelasnya.

Produsen drone Ukraina, Wild Hornets, mengkonfirmasi keterlibatan Zablotskiy kepada Agence France-Presse (AFP) dan mengatakan mereka ingin sistem kendali jarak jauh tersebut "menjadi metode utama pengendalian drone".

“Ukraina adalah yang pertama di dunia yang secara sistematis meningkatkan kendali jarak jauh drone pencegat. Hari ini, kami telah mengkonfirmasi hasilnya – penembakan target pada jarak ratusan dan ribuan kilometer," kata Mykhailo Fedorov, menteri pertahanan di Kyiv.

  • Rusia Berupaya Memadamkan Api di Fasilitas Minyaknya

Rusia tengah berupaya memadamkan api yang berkobar di terminal minyak Laut Hitam yang diserang Ukraina awal pekan ini, menurut laporan pihak berwenang setempat kepada AFP pada hari Kamis, seraya mendesak warga untuk tetap di rumah guna menghindari asap.

Ukraina menyerang fasilitas minyak di kota Tuapse di selatan pada hari Senin sebagai target ekspor minyak Rusia yang mendanai perang.

Serangan itu memicu kobaran api besar dan mengirimkan kepulan asap hitam tebal ke langit. 

“Kebakaran di kilang minyak Tuapse masih berlangsung – empat tangki penyimpanan terbakar,” kata markas darurat regional kepada AFP pada hari Kamis, empat hari setelah serangan itu. 

Hujan yang terkontaminasi pada hari Rabu meninggalkan lapisan hitam di permukaan.

  • Uni Eropa Setujui Pinjaman untuk Ukraina dan Jatuh Sanksi ke Rusia

Para duta besar negara anggota Uni Eropa menyetujui amandemen Peraturan Kerangka Keuangan Multitahunan yang menjadi dasar pinjaman €90 miliar untuk mendukung Ukraina, sekaligus mengesahkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia.

Menteri Keuangan Siprus, Makis Keravnos, menyatakan seluruh persyaratan telah terpenuhi sehingga pencairan dana dapat segera dilakukan. 

“Pencairan pinjaman akan dimulai sesegera mungkin untuk memenuhi kebutuhan anggaran mendesak Ukraina,” ujarnya, seraya menegaskan komitmen UE terhadap kedaulatan Ukraina.

Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, menambahkan bahwa langkah ini mencakup dukungan finansial dan militer untuk periode 2026–2027 serta bertujuan melemahkan kemampuan Rusia dalam berperang. 

“Eropa bersatu teguh dan tanpa ragu mendukung Ukraina,” katanya.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyambut keputusan tersebut dan menyebut dana itu akan memperkuat militer, menjaga stabilitas, serta mendukung kebutuhan sosial. 

Ia menargetkan tahap awal pencairan berlangsung pada Mei–Juni, dengan alokasi untuk produksi dan pembelian senjata, serta penguatan sektor energi menjelang musim dingin.

"Kami sedang berupaya agar tahap pertama paket dukungan ini tersedia pada Mei-Juni. Dana dari paket Eropa akan diarahkan, khususnya, untuk produksi senjata, pembelian senjata yang diperlukan dari mitra yang belum kami produksi di Ukraina, serta untuk mempersiapkan sektor energi dan infrastruktur penting kami untuk musim dingin mendatang," kata Zelenskyy.

Sebelumnya, Hungaria sempat memblokir rencana tersebut. Seorang diplomat UE menyebut adanya “posisi baru” dari Perdana Menteri Viktor Orbán terkait dukungan bagi Ukraina. 

Meski demikian, persetujuan ini menegaskan komitmen Uni Eropa dalam mendukung Ukraina melalui bantuan finansial dan tekanan ekonomi terhadap Rusia.

  • 3 Orang Tewas dalam Serangan Rusia

Serangan Rusia terhadap daerah pemukiman menewaskan tiga orang dan melukai sedikitnya 10 orang, termasuk anak perempuan berusia sembilan dan 14 tahun, menurut laporan kepala wilayah Dnipropetrovsk di Ukraina tengah pada hari Kamis. 

Di wilayah Samara, Rusia, satu orang tewas dalam serangan pesawat tak berawak; sementara serangan lain menewaskan satu orang di wilayah perbatasan Rusia, Belgorod, kata para pejabat.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.