TRIBUNJAMBI.COM - Kawasan Medan Merdeka Barat mendadak riuh dengan kehadiran deretan tokoh militer paling berpengaruh di tanah air.
Gedung Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI menjadi saksi pertemuan langka yang mempertemukan para purnawirawan jenderal lintas generasi dengan pimpinan aktif TNI pada Jumat (24/4/2026) pagi.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyambut langsung kehadiran para jenderal bintang empat yang pernah menduduki posisi puncak di militer Indonesia.
Pertemuan ini disebut-sebut sebagai salah satu konsolidasi pertahanan paling komprehensif dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah mantan Panglima TNI terlihat hadir lebih awal dengan mengenakan batik sebagai simbol formalitas non-militer namun penuh wibawa.
Di antara mereka tampak Jenderal (Purn) Wiranto, Laksamana (Purn) Yudo Margono, dan Laksamana (Purn) Agus Suhartono.
Suasana semakin hangat dengan kehadiran Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa dan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang menyusul kemudian.
Kehadiran dua tokoh yang dikenal memiliki visi militer kuat ini menambah bobot strategis pertemuan tersebut.
Baca juga: Sosok 4 Mantan Bupati di Jambi Berkumpul, Isyarat Kekuatan Politik Baru?
Baca juga: Rekonstruksi Kasus Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi Digelar Hari Ini
Tak ketinggalan, tokoh senior militer yang juga Eks Danjen Kopassus, Jenderal (Purn) Agum Gumelar, hadir bersama Eks Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman.
Deretan purnawirawan yang pernah menduduki jabatan strategis ini tampak berbincang akrab sebelum memasuki ruang pertemuan.
Konsolidasi Lintas Generasi: Pucuk Pimpinan Aktif Turut Hadir
Pertemuan ini menjadi semakin istimewa karena mempertemukan "darah biru" militer Indonesia dari masa ke masa. Pucuk pimpinan TNI yang masih aktif pun tampak hadir lengkap di lokasi.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto hadir didampingi tiga Kepala Staf Angkatan (KSAD, KSAL, dan KSAU).
Dari unsur kabinet, terlihat Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago dan Wakil Menteri Pertahanan RI Donny Ermawan yang turut mendampingi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dalam agenda besar tersebut.
Hingga saat ini, pertemuan yang digelar di Aula Bhinneka Tunggal Ika Kemenhan tersebut berlangsung secara tertutup.
Agenda ini bertujuan untuk membahas poin-poin krusial terkait kebijakan pertahanan nasional ke depan, mengingat dinamika geopolitik global yang semakin menantang.
Meski belum ada pernyataan resmi terkait detail kesepakatan, kehadiran para maestro strategi pertahanan ini diyakini akan melahirkan arah kebijakan baru bagi keamanan kedaulatan Indonesia.
Wiranto
Wiranto (lahir 4 April 1947) adalah seorang mantan perwira tinggi militer dan politikus senior berkebangsaan Indonesia.
Saat ini, ia diberi mandat oleh Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Politik dan Keamanan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden pada akhir 2019.
Baca juga: Sosok Syahirsyah, Eks Bupati Batang Hari Ikut Pertemuan 4 Mantan Bupati di Jambi
Baca juga: Buaya Putih dan Buntung Muncul di Sungai Merangin Jambi, Warga Resah
Kiprahnya di politik di awali ketika dirinya ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan menjelang berakhirnya masa Orde Baru.
Saat itu, Wiranto tergabung dalam Golongan Karya hingga akhirnya ia membentuk partai baru bernama Partai Hati Nurani Rakyat pada tahun 2006.
Wiranto merupakan lulusan Akademi Militer Nasional 1968 berhasil meniti karier militer sampai puncak jabatan di ABRI (sekarang TNI) sebagai Panglima merangkap Menhankam.
Jabatan rangkap sebagai Menhankam/Pangab, kecuali Wiranto juga pernah dijabat oleh Jenderal TNI (Purn.) M. Jusuf.
Pada pergantian Orde Baru ke Orde Reformasi tahun 1998/1999, Wiranto sebagai Menhankam/Pangab memiliki peran yang sangat menentukan dalam mengawal proses pergantian tersebut.
Selain Menhankam, ia juga pernah dipercaya sebagai Menko Polhukam di era dua presiden, yakni Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Joko Widodo.
Setelah merampungkan tugasnya sebagai Menko Polhukam, sejak 13 Desember 2019, ia dipercaya oleh Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Di bidang politik, Ia memenangkan Konvensi Partai Golkar pada tahun 2003 dan kemudian pada tahun 2006 Ia mendirikan Partai Hanura (Partai Hati Nurani Rakyat) sekaligus menjadi Ketua Umum dan berhasil dihantarkannya mendapat jatah kursi di DPR-RI pada 2 periode.
Ia juga pernah mencalonkan diri sebagai calon Presiden (2004) dan calon Wakil Presiden (2009) tetapi tidak berhasil sebagai pemenang.
Andika Perkasa
Andika Muhammad Perkasa (nama lahir: Fransiskus Xaverius Emanuel Andika Perkas lahir 21 Desember 1964) adalah seorang purnawirawan TNI yang menjabat Panglima Tentara Nasional Indonesia pada tahun 2021 sampai 2022.
Andika merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1987. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Pada saat dilantik, ia adalah Panglima TNI tertua sepanjang sejarah, tetapi catatan tersebut selanjutnya dipecahkan oleh Laksamana Yudo Margono yang dilantik menggantikannya pada tanggal 19 Desember 2022.
Selain itu juga berasal dari keluarga campuran Magelang, Jawa Tengah dan Blitar, Jawa Timur.
Ayah Andika, F.X. Soenarto, merupakan seorang pensiunan ABRI dari korps Zeni.
Andika menikah dengan Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono yang merupakan anak perempuan dari Jenderal TNI A.M. Hendropriyono. Andika sebelumnya beragama Katolik dan kemudian beralih keyakinan menjadi Muslim saat menikah.
Andika mengawali kariernya sebagai perwira pertama infanteri di jajaran korps baret merah (Kopassus) Grup 2 /Para Komando dan Satuan-81 /Penanggulangan Teror (Gultor) Kopassus selama 12 tahun, dan setelah penugasan di Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Mabes TNI-AD kembali bertugas di Kopassus sebagai Komandan Batalyon 32/Apta Sandhi Prayuda Utama, Grup 3/Sandhi Yudha.
Gatot Nurmantyo
Gatot Nurmantyo (lahir 13 Maret 1960)[1] adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2015-2017).
Baca juga: Sosok Mashuri, Tokoh Jambi dalam Pertemuan 4 Mantan Bupati: Jabat di Bungo 2 Periode
Baca juga: Breaking News 2 Polisi Tersangka Rudapaksa Remaja di Jambi Resmi Dipecat
Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman.
Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letnan Jenderal Muhammad Munir.
Pada bulan Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon Panglima TNI, menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna baktinya.
Gatot bersama tokoh pemerintahan lainnya beserta para aktivis sosial bergabung dalam aksi untuk mendukung toleransi beragama selama periode unjuk rasa di Jakarta pada bulan November 2016.
Bersama dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Tito Karnavian dan aktivis Islam seperti Yenny Wahid, mereka menggalang dukungan untuk persatuan antar agama sebagai penyeimbang dari aksi unjuk rasa yang digelar sebelumnya terhadap Gubernur DKI Jakarta beragama Kristen keturunan Tionghoa, Basuki Tjahaja Purnama yang diwarnai elemen intoleransi dan Sinofobia.
Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982, dan berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad.
Gatot pernah menjadi Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat), Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya dan Gubernur Akademi Militer. Di bidang lainnya, Gatot juga menjabat sebagai Ketua Umum PB FORKI periode tahun 2014 hingga 2018.
Agum Gumelar
Agum Gumelar (lahir 17 Desember 1945) adalah seorang tentara, politikus dan administrator sepak bola Indonesia. Ia merupakan mantan menteri pada Kabinet Persatuan Nasional dan Kabinet Gotong Royong.
Ia adalah lulusan tahun 1968 dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Ia juga pernah menjadi penasihat presiden di Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).
Agum masuk Akademi Militer Indonesia di Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1969. Pada tahun 1973 diangkat sebagai staf Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.
Pada akhir 1987, Agum naik pangkat menjadi Wakil Asisten Intelijen Komando Pasukan Khusus hingga 1990. Pada 1991, ia dipindahkan menjadi Asisten Intelijen Komando Daerah Militer Jayakarta.
Pada tahun 1992 Agum diangkat menjadi Komandan Komando Resor Militer 043/Garuda Hitam di Lampung. Pada tahun 1993, ia diangkat sebagai Direktur A Badan Intelijen Strategis ABRI dan juga diangkat menjadi Komandan Komando Pasukan Khusus.
Pada tahun 1994, ia dipromosikan menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan hingga tahun 1996 kemudian dipindahtugaskan kembali dan dipromosikan sebagai Panglima Komando Daerah Militer VII/Wirabuana hingga tahun 1998.
Pada tahun 1998 ia dipromosikan sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, hingga tahun 1999.
Baca juga: Sosok 2 Polisi yang Dipecat, Setelah Jadi Tersangka Rudapaksa Remaja di Jambi
Baca juga: 29 Narapidana Lapas Jambi Dipindahkan ke Lapas Kumbang Nusakambangan
Agum Gumelar menikah dengan Linda Amalia Sari, anak dari perwira militer Achmad Tahir, yang kemudian menjadi menteri. Pertemuan pertama mereka terjadi di Kota Paku Jawa, Magelang di Jawa Tengah pada tahun 1967.
Mereka menikah pada 12 Mei 1974, dan dikarunia 2 orang anak, yakni Zeke Khaseli Gumelar dan Ami Gumelar.
Dudung Abdurachman
Dudung Abdurachman (lahir 19 November 1965)[1] adalah seorang jenderal purnawirawan TNI-AD yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ke-33.
Ia lulus dari Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1988 dan memulai kariernya di infanteri. Ia diangkat sebagai Komandan Kodam Jaya pada 27 Juli 2020, kemudian pada 25 Mei 2021, diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.
Dudung mendapat perhatian media pada akhir tahun 2020 karena pernyataan anti-politik radikal dan sikapnya yang menentang kelompok ekstremis seperti Front Pembela Islam (FPI).
Lebih jauh lagi, sebagai Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta, ia memerintahkan tentara di bawah komandonya untuk menurunkan spanduk dan poster provokatif terkait FPI di seluruh Jakarta, karena ketidakmampuan otoritas sipil. Tindakan ini kemudian memicu kontroversi.
Ia pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Pembina Tim Pemenangan Luthfi-Taj Yasin pada Pemilihan umum Gubernur Jawa Tengah 2024.
Ia menempuh sekolah di SDN 034 Patrakomala pada tahun 1972 hingga lulus pada tahun 1979. Ia melanjutkan sekolahnya di SMP Kartika XIX - 1 dan lulus pada tahun 1982.
Pada tahun 1981, ia bekerja sebagai loper koran dan penjual kue klepon karena ayahnya meninggal. Ia lulus SMA Negeri 9 Bandung pada tahun 1985. dan kemudian ia mendaftarkan diri di Akademi Militer di Magelang.
Baca juga: Pimpin Upacara Pemecatan 2 Polisi Tersangka Rudapaksa, Kapolda Jambi: Tak Ada Toleransi
Baca juga: KPK Siap Bongkar Peran Sentral Bos Maktour di Sidang Korupsi Kuota Haji
Baca juga: Lebih Sibuk dari Hormuz: Selat Malaka Menjelma Jadi Arteri Utama Ekonomi Dunia