TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Medik Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan ikut memberikan penjelasan terkait perbedaan flu burung dan penyakit Newcastle Disease (ND) atau penyakit ngorok serta gejala hingga langkah yang dilakukan jika ada kasus ditemukan di Tarakan, Kalimantan Utara.
Dikatakan Bidang Peternakan dan Keswan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, drh Richard, untuk monitoring penyakit Newcastle Disease (ND) atau penyakit gorok tersebut di Tarakan statusnya masih bebas flu burung atau belum ada kasus.
"Artinya kita lakukan monitoring, pengawasan Itu berbasis laporan.Laporan dari peternak, pelaku usaha ataupun dari masyarakat Kita bekerja sama dengan RT dan RW, Babinkamtibmas, Babinsa dan masyarakat untuk melaporkan jika ada indikasi gejala penyakit ayam yang jumlahnya banyak atau secara massal," jelasnya.
Dari gejala itu lanjutnya, akan dilakukan pengujian ke laboratorium yang terakreditasi ada di UPTD Lab Provinsi Kaltara dan ada juga di Balai Veteriner Banjarbaru.
Baca juga: Ada Isu Flu Burung, Sekar Warga Tarakan Akui Sempat Ragu Beli Daging Ayam di Pasar Tenguyun
Setelah dikirim dan misalnya ada laporan kematian tinggi, maka akan direspons. Selanjutnya pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinkes Tarakan. Biasanya lanjut drh Richard, gejalanya, ayam mati dalam jumlah banyak dan cepat.
"Kemudian ada penyakit lain yang memang mirip seperti flu burung, seperti ngorok," bebernya.
Penyakit ngorok atau dikenal nama penyakitnya Newcastle Disease (ND) atau penyakit ngorok bisa terjadi pada unggas. Untuk ND hanya menular ke sesama unggas dan tidak menular ke manusia.
"Dia tidak zoonosis atau menular ke manusia," jelasnya.
Kabid Peternakan dan Keswan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, Paulus menambahkan, jika ada ditemukan ayam mati dalam jumlah banyak, tidak hanya menunggu hasil dari sampel yang dikirim tapi juga terjun langsung memeriksa unggas.
Baca juga: Dinas Ketahanan Pangan Tarakan Sebut Dua Tahun Terakhir Sampling Unggas Negatif Flu Burung
"Dan ada juga biosekuriti dalam rangka yang mau masuk," ucap Paulus.
Paulus mengatakan, sejauh ini sampai kemarin laporan peternak ayam di Tarakan tingkat kematiannya itu sangat rendah yakni 1 sampai 2 persen saja dari populasi yang ada. Menurutnya itu masih normal.
"Kami update sampai ke Juata, kami keliling kemarin karena memang konsen kita pendataan populasi ayam. Sambil menanyakan ada enggak gejala-gejala yang ditimbulkan karena itu memang menyebarnya kan sangat cepat sekali," ujarnya seraya menyebut kurang lebih ada 100 peternak di Tarakan.
(*)
Penulis: Andi Pausiah