TRIBUNNEWS.COM - Sa'i merupakan salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan oleh jemaah haji.
Jemaah haji melakukan Sa'i setelah melaksanakan tawaf ifadah, yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali, yang dimulai dari Hajar Aswad dengan posisi Kabah berada di kiri jemaah.
Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan Sa'i artinya berjalan atau berusaha, yang dalam ibadah haji yaitu berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali, dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah.
“Sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk syiar Allah. Maka barang siapa yang berhaji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya untuk melakukan sa’i di antara keduanya...” (QS. Al-Baqarah ayat 158)
Perintah melakukan Sa'i bagi jemaah haji atau umrah juga disebutkan dalam hadis.
Dari Aisyah r.a., Rasulullah SAW. bersabda: “Allah tidak menyempurnakan haji atau umrah seseorang yang tidak melakukan sa’i antara Safa dan Marwah.” (HR. Muslim)
Sa'i adalah rukun haji dan umrah yang tidak boleh ditinggalkan, menurut mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali.
Mengutip buku Doa dan Dzikir Haji dan Umrah 1447 H/2026 M oleh Kementerian Haji dan Umrah, berikut rukun haji dan doa ketika Sa'i.
Berikut ini rukun haji yang harus dilaksanakan secara berurutan dan tidak boleh ada yang terlewat/ditinggalkan.
Baca juga: Doa Setelah Salat Sunat Mutlak di Hijir Ismail saat Haji/Umrah
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm wa rasūluh, innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya‘ā’irillāh, fa man ḥajjal-baita awi‘tamara falā junāḥa ‘alaihi an yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa‘a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm. Abda’a bimā bada’allāhu bihi wa rasūluh.
Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Şafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. Aku memulai sa'i dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memulai."
Allāhu akbar Allāhu akbar Allāhu akbar Allāhu akbar kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhil ‘aẓīm wa biḥamdihil karīm bukratan wa aṣīlā. Wa minal-laili fasjud lahu wa sabbiḥhu lailan ṭawīlā. Lā ilāha illallāhu waḥdah, anjaza wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal aḥzāba waḥdah, lā syai’a qablahū wa lā ba‘dah, yuḥyī wa yumīt, wa huwa ḥayyun dā’imun lā yamūt, wa lā yaqūt abadā, biyadihil khair, wa ilaihil maṣīr, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dengan segala kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan segala pujian yang banyak. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dengan pujian-Nya, Yang Maha Mulia di waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, bersujud dan bertasbihlah pada-Nya sepanjang malam. Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuhmusuh-Nya, tidak ada apapun sebelum-Nya dan tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dia Hidup kekal tiada mati dan tiada musnah untuk selama-lamanya. Hanya di tanganNyalah terletak kebajikan dan kepada-Nyalah tempat kembali dan hanya Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Bihi innash-shafā wal-marwata min sya‘ā’irillāh, abdā bimā bada’allāh.
Artinya: “Dengan-Nya (pertolongan Allah), sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk syiar Allah. Aku memulai dengan apa yang Allah mulai.”
Allāhu akbar Allāhu akbar Allāhu akbar, lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Lā ilāha illallāhu waḥdah, anjaza wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa a‘azza jundah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan pasukan-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) dengan sendirinya.”
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)