Kementerian Pendidikan Iran resmi menghentikan aktivitas pembelajaran tatap muka di seluruh sekolah akibat dampak perang yang kian meluas. Sistem pembelajaran pun dialihkan melalui program TV serta jaringan internet lokal demi menjaga keberlangsungan pendidikan.
"Hingga pemberitahuan lebih lanjut, tidak akan ada kelas tatap muka di sekolah-sekolah di seluruh negeri. Mulai 21 April, kelas akan diadakan secara daring melalui platform khusus dan program televisi negara 'Iran TV School'," kata Kementerian Pendidikan Iran seperti dilaporkan oleh Deutsche Welle (DW) pada Kamis (23/4/2026), dikutip dan ditulis Jumat (24/4/2026).
Kebijakan ini diumumkan menyusul situasi negara yang berada dalam ketidakpastian setelah berakhirnya gencatan senjata yang rapuh. Perubahan sistem belajar ini berdampak pada seluruh jenis sekolah dan semua tingkatan kelas di negara tersebut.
Menurut laporan Kementerian, meski pembelajaran jarak jauh menjadi solusi utama, hambatan besar masih membayangi. Pasalnya, banyak anak-anak yang tidak memiliki perangkat seperti laptop atau ponsel pintar serta akses internet yang terputus, sehingga mereka terancam tertinggal dalam proses pendidikan.
Kementerian Pendidikan juga mencatat dampak fisik yang sangat memprihatinkan, di mana lebih dari 640 bangunan pendidikan di 17 provinsi mengalami kerusakan akibat serangan udara AS dan Israel. Sekitar 250 di antaranya mengalami kerusakan parah dan perlu direnovasi total. Sedikitnya 15 sekolah dilaporkan hancur total dan harus dibangun kembali dari awal karena sudah tidak layak untuk diperbaiki.
Dampak Internet Nasional terhadap Pendidikan
Peralihan akses informasi ke jaringan intranet nasional di Iran membawa tantangan besar, terutama bagi sektor pendidikan. Pakar keamanan siber dari Miaan Group, Amir Rashidi, menjelaskan bahwa otoritas setempat telah lama merancang sistem intranet yang terpisah dari internet global untuk kendali digital yang komprehensif.
"Masalahnya adalah di beberapa wilayah, seperti Sistan dan Baluchistan, hampir tidak ada koneksi internet karena kurangnya infrastruktur. Sementara, sebagian besar masyarakat mengakses internet melalui HP," jelas Rashidi.
Kesenjangan digital ini semakin nyata bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Di wilayah-wilayah tertinggal, ketersediaan perangkat seperti smartphone dan laptop sangat terbatas, sehingga menyulitkan proses pembelajaran jarak jauh yang kini bergantung pada jaringan nasional tersebut.
Solusi Siaran TV dan Penguatan Infrastruktur
Menghadapi keterbatasan akses internet di berbagai daerah, pemerintah mulai mengalihkan metode pembelajaran melalui program TV "Iran TV School". Program ini menyiarkan mata pelajaran inti, seperti matematika untuk kelas 7 hingga 9 pada pukul 14.00, serta fisika bagi siswa kelas 12 pada pukul 18.00.
Langkah ini diambil sebagai upaya darurat agar siswa yang tidak memiliki perangkat digital atau koneksi internet tetap bisa mengikuti kurikulum sekolah. Di tingkat parlemen, diskusi mengenai perluasan jaringan informasi nasional terus digodok.
Ketua Komite Pendidikan dan Riset Parlemen, Alireza Manadi Sefidan, menyerukan perlunya investasi tambahan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran jarak jauh secara nasional.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat tulang punggung infrastruktur kehidupan publik di tengah pembatasan akses dunia luar yang masih berlangsung.





