TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - "Penyesalan berat dalam hidup saya, mamak saya sakit, ayah saya sakit saya malah sibuk narkoba, memang saya pulang ke rumah tapi tidak saya perhatikan mereka yang sedang sakit sampai dua-duanya meninggal".
Di usianya yang masih sangat muda, Yudistira Darmawan 19 tahun harus menanggung penyesalan yang begitu dalam.
Ia bukan hanya kehilangan masa remaja yang seharusnya penuh harapan, tetapi juga kehilangan dua sosok paling berharga dalam hidupnya.
Orangtuanya ayah dan ibu meninggal di saat dirinya terjerumus dalam dunia narkoba.
Kisah kelam itu bermula saat Yudistira masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2022. Perkenalannya dengan narkoba bukan karena keinginan sendiri, melainkan dari lingkungan.
Ia ditawari oleh abang-abang yang lebih dulu menjadi pengguna.
Awalnya ia menolak, namun rasa penasaran membuatnya akhirnya mencoba.
Dua kali pertama diberikan secara gratis, hingga akhirnya ia mulai membeli sendiri jenis sabu-sabu.
"Pertama belum terasa candu, kedua mulai terasa, dan yang ketiga sudah saling mencari. Saya cari dia, dia cari saya. Sudah seperti kebutuhan," kenangnya saat berbincang dengan tribunpekanbaru.com di sebuah pesantren rehabilitasi narkoba di Riau.
Baca juga: Kisah Anak Muda di Pekanbaru Jadi Pecandu Narkoba, Berawal dari Keluyuran, Kini Bangkit Menata Hidup
Dari coba-coba, Yudistira perlahan terjerat. Uang hasil panen sawit orangtuanya menjadi sumber utama untuk membeli barang haram tersebut.
Dalam seminggu, ia bisa menghabiskan hingga Rp6 juta. Bahkan, dalam kondisi sakau, ia nekat memanen kebun sawit sebelum waktunya, hanya demi mendapatkan uang untuk membeli sabu.
Kondisinya semakin memburuk. Ia kerap mengurung diri di rumah untuk memakai narkoba sendirian.
Dalam sehari tanpa sabu, tubuhnya langsung bereaksi gelisah, pucat, dan pikirannya hanya tertuju pada bagaimana mendapatkan barang itu.
Tak jarang ia sampai tidak tidur selama berhari-hari karena terus mengkonsumsi.
Di tengah kecanduannya, ada hal yang kini paling ia sesali. Saat kedua orangtuanya sakit, Yudistira justru sibuk dengan dunia narkobanya sendiri. Ia memang pulang ke rumah, tetapi tak pernah benar-benar hadir untuk merawat mereka.
"Mamak dan Ayah saya sampai tidak kuat mandi sendiri pun tidak saya mandikan. Hati nurani saya seperti hilang. Yang ada di kepala hanya sabu,” ujarnya lirih.
Hingga akhirnya, kedua orangtuanya meninggal dunia. Momen itu menjadi titik balik yang mengguncang hidupnya. Penyesalan datang terlambat sebuah penyesalan yang kini terus menghantui.
"Penyesalan itu memang tidak datang di awal, tapi di akhir,"ujarnya.
Awal tahun 2026 menjadi masa perenungan bagi Yudistira. Ia mulai melihat teman-temannya yang sudah sukses, memiliki kendaraan, dan hidup lebih baik.
Sementara dirinya masih terjebak dalam lingkaran gelap. Ditambah lagi, kepergian sang ayah lima bulan lalu menjadi pukulan telak yang membuka kesadarannya.
Didorong oleh keluarga, terutama kakak dan pamannya, serta keinginan dari dalam diri, Yudistira akhirnya memutuskan untuk menjalani rehabilitasi. Kini, sudah lebih dari dua bulan ia meninggalkan narkoba dan fokus memulihkan diri.
"Namanya teman, saat kita ada mereka datang. Tapi saat kita susah, kita sendiri yang menanggung,"ujarnya.
Kini, harapan baru mulai ia bangun. Yudistira ingin memulai hidup yang lebih baik setelah selesai rehabilitasi ingin membuka usaha kecil-kecilan agar memiliki kesibukan positif. Ia juga bertekad menjauh dari lingkungan lama yang membawanya pada keterpurukan.
Di akhir ceritanya, Yudistira menyampaikan pesan tegas kepada generasi muda agar tidak pernah mencoba narkoba.
"Jauhi narkoba, sabu, ineks, dan lainnya. Kesehatan dan keluarga itu jauh lebih penting. Narkoba itu kejam, tidak punya rasa kasihan," pesannya.
Yudistira menjadi santri di pesantren Quranic Healing Indonesia tempat rehabilitasi narkoba yang berada di Ujung Batu Rokan Hulu, ia menikmati suasana pembekalan melalui proses kesadaran spiritual religi yang diterapkan di pesantren tersebut.
(Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)